Ada Sesuatu yang Hilang Dari Diriku

Entah apa yang harus kujelaskan di sini. Kebingungan yang agak sulit diterjemahkan. Memulai dari mana pun membutuhkan waktu tersendiri. Sesuatu yang aneh dan tak biasa. Ada beberapa hal.

Kebuntuan. Ya, aku merasa buntu untuk melanjutkan tulisan. Ada tiga draft novel yang berbeda tema dan aku sama sekali bingung untuk melanjutkannya. Bukan karena tak ada ide. Akhirnya akan menjadi sad ending atau happy ending pun sudah bisa terbayang. Tapi ini beda. Aku harus menjelaskannya seperti apa.

Ada yang hampa. Ada yang membuatku menggigil ngeri. Entah berhubungan atau tidak, sebulan ini aku merasa tak nyaman dengan diri sendiri. Membaca berita orang-orang yang kukenal di twitter atau Facebook telah menerbitkan karya mereka yang terbaru, otomatis membuatku meradang. Ah, mudah sekali bagi mereka berkarya. Aku iri. Iya, iri yang positif. Mestinya aku juga bisa. Nyatanya gak sama sekali. Merasa kalah dan malu? Bisa jadi. Entahlah, aku malah lebih rajin update blog ketimbang melanjutkan tulisan. Atau mungkin karena ruang menulisku sedang tidak aktif. Iya, itu, Jejakubikel. 😦 Kangen banget. ‘Dipaksa’ menulis dengan tema dan genre tertentu dalam waktu tertentu itu menantang dan menyenangkan.

Baru bulan April ini saja aku merasa seperti anak hilang. Bingung gak jelas. Ada sesuatu yang hilang. Setiap kubuka Ms. Word dan berharap bisa melanjutkan tulisanku atau membuat tulisan baru, yang ada aku malah merasa menggigil dan merinding. Pokoknya aneh. Semakin dipaksa, kalimatku semakin ngaco. Rasanya hina banget. Kesalnya sampai membuatku sesak nafas. Ah, mungkin aku dianggap lebay. Tapi aku gak tau kalau kalian yang mengalaminya. Biasa aja kali ya?

Aku yang terbiasa sibuk mendadak seperti orang bego begini. Terbiasa rusuh dengan segala macam tenggat dan adrenalin yang terpacu. Menikmati ritme kerja dari cafe ke cafe, berhubungan dengan banyak orang di luar rumah, dan tentu saja aneka bonus dari Allah untuk anak-anak dari berbagai arah seperti jalan-jalan ke luar kota.

Kemudian kehampaan yang baru terjadi dalam 24 jam ini. Sesuatu yang memaksaku harus tetap tenang, tak boleh lepas istighfar, dan tetap menghamba mohon pertolongan Allah. Sesuatu yang membuatku sadar untuk tidak larut dalam bahagia yang belum pantas. Harus bersabar menunggu waktunya. Ketika terjadi perubahan dalam diri kedua krucil tercintaku, seolah ada yang memaksaku untuk berjuang sampai titik penghabisan. Membuktikan bahwa aku layak menjadi pemenang. Pertempuran ini tidak biasa. Terlalu berat konsekuensinya karena berhubungan dengan masa depan anak-anak.

Sekuat tenaga aku berusaha mengalihkan pikiran dan berkata semua baik-baik saja. Tapi perasaanku tak bisa dibohongi. Aku harus terus berjuang. Menuntaskan rasa penasaran. Meski ya, Ichy mengatakan bahwa semua akan segera terselesaikan dan layaknya cerita negeri dongeng…. “Mereka pun akhirnya berbahagia selamanya.” Pret ah! 😛

Kedua hal ini membuatku limbung. Benar-benar masa terjelekku. Ah, ini hanya ujian cinta dari Allah. Ini hanya teguran ringan karena mungkin aku melalaikan beberapa nikmatNya. Maka di bulan ini pula aku jor-joran (semaksimal kemampuanku) untuk segera membersihkan harta duniawiku. Pintaku tak banyak: agar anak-anak sehat dan selamat, rezekiku berkah, dan aku bisa lebih mendekat pada Allah tanpa ada sekat lagi seperti yang biasa kubangun tanpa sadar….. Hix….

Ada yang salah dalam diri ini selama sebulan terakhir. Aku kurang mendekat padaNya. Aku hanya minta yang kubutuhkan tapi tidak dibarengi dengan pendekatan pribadi padaNya. Kira-kira dipelototin gak? 🙂 Di saat yang sama, aku diuji Allah untuk membantu seseorang untuk bisa bangkit dan mendekat padaNya. Benar-benar tugas yang tak ringan.

Allah mempertemukanku dengan seseorang yang sedang diuji di negeri orang. Allah yang maha tahu menguji kelemahan terbesarnya. Dia ketakutan dan memintaku untuk membantunya agar bisa kuat menghadapi godaan yang sekaligus kelemahan terbesar itu. Aku baru menyadarinya siang ini. Tugasku adalah mengingatkannya agar mengingat Allah. Hanya Allah satu-satunya penolong. Dia masih panik dan akhirnya tergesa plus gegabah mengambil sebuah keputusan. Kuharap masih ada waktu agar dirinya menyadari kekeliruan itu.

Random banget kan? Entahlah aku harus bagaimana. Setidaknya aku sudah menulis. Sedikit lega. Meski masih menyisakan tanda tanya besar. Bisakah semuanya berlalu dengan baik meski mungkin tidak secepat yang kuinginkan?

Laa haula wa laa quwwata illa biLlaah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s