Alien Itu Adalah Kami

Judul yang aneh? Ya, seaneh kami bertiga di tempat tinggal baru selama setahun ini. Kami dianggap makhluk dengan perilaku ajaib yang tak mudah diterima masyarakat sekitar. Oke,  coba simak beberapa twit aku sekitar pukul 1-2 siang tadi dulu ya:

—-

Lucu adalah si anak tetangga lempar bata seukuran kepalan tangan dewasa ke rumah gue, emaknya mau marah2 ke anak gue. Coba kalo berani!

Jelas2 anaknya yang TIAP HARI lempar batu/bata dan buang sampah di rumah gue seenak jidat, lah kok emaknya mau marah ke anak gue? Hell-o!!

Umar atau Salman wajar marah ngerasa gak rela rumahnya ditimpukin. Tapi udah kularang untuk berlaku keras. Anak itu lebih kecil dr krucil.

Iyaaa, ini masih anak yang sama. Memaki dengan menyebut ‘kebun binatang’ pada Salman *lap keringat* usia? 3 tahun lho!

Aku selalu berjuang agar Umar dan Salman tetap di rel yang benar meski aku sendiri bukan perempuan baik. Etika dan sopan santun harga mati.

Aku sll tekankan pada krucil, mslh kalian dgn teman selesaikan sndr. Jgn jd tukang ngadu. Kalian bukan anak manja dan bukan pengecut.

Aturan semacam ini yg sebabkan krucil bagai alien :)))) lho aku kan lihat masa depan 5-20 thn ke depan. Bkn hny minggu depan! ;;)

Bhahahahahak :))) rumah gue ngedadak jadi tontonan anak2 dan krucil di-bully? Oh come on folks! Where are your brain??

Ortunya tukang ngadu dan tukang gosip, ya gak heran juga sih nurun tuh tabiatnya :)))

Oia, ibunya anak td pnah bilang,”Bunda hebat ih gak pernah mukul anak kalo marah.” aku bengong. Hebat? Bukan! Itu wajib! -,-”

Karena aku gamau krucil menjadi pribadi kasar, pendendam, egois ,dan sok jagoan. Apa hebatnya sih?

—-

Namanya juga twitter, gak bisa lengkap menceritakan kronologisnya. Jadi gini, siang tadi tuh, seperti biasa (sounds weird, rite?), anak-kecil-lucu-dan-lihai-bin-licin (eh?) itu melempar bata dari arah pagar ke teras rumahku. Sementara duo krucilku dan satu lagi temannya sedang memainkan galon Aqua kosong sebagai kendang di ujung teras. Aku keluar dari kamar karena mendengar ada bunyi benda jatuh.

Kemudian aku mendengar suara tangis anak itu. Pas kulihat, tangannya sedang digenggam Umar. Aku bilang pada Umar, “Lepasin, Bang! Udah!” Umar protes dan aku melotot. Dia melepaskan anak itu dan mendekat padaku sambil marah. “Bunda! Dia lempar bata! Kan kotor! Baru juga dipel!”

kira-kira tadi begini ekspresi jeritan nan heboh itu. keliatan banget ngotot bin nyolot minta dukungan ibunya kan? dan gak mau disalahin. *yaeyalah*

Aku menggeleng dan menempelkan telunjuk di bibir tanda diam. “Abang, ssshh… Bisa disapu, kan? Udah!” Umar tetap gak rela. Tapi dia kembali main galon. Sementara anak itu jeritannya semakin kencang (dan bagi SIAPA SAJA YANG MENDENGAR DAN CERDAS pasti tahu itu jeritan cari perhatian dan minta dibela, bukan karena kesakitan whatsoever). Ketika aku menyapu bekas lemparan bata tersebut, sekilas aku menoleh ke arah pagar, ibunya datang mendekat ke rumahku tapi kemudian balik lagi. Aku gak ambil pusing.

Gak sampai 10 menit, pas aku memang harus ke bawah (maksudnya ke Alfamart untuk beli isi ulang galon), di jalan gang depan rumah ramai sekali anak-anak, termasuk si preman bau kencur yang nakalnya luar biasa. Soal bully, dia jagonya. Do you know something? Dia sangat bangga kalo udah bisa nyiksa yang lebih kecil atau lemah dari dia. Sakit? Entah. Bukan urusanku saat ini.

Sempat terlihat oleh mataku, seorang anak kecil dilarang mendekati Salman oleh seorang anak perempuan temannya si tukang bully itu. Aku sempat bingung, kenapa banyak sekali anak-anak secara tiba-tiba setelah ‘insiden’ jeritan menyebalkan itu? Hal ini baru kudapatkan dari Umar setelah kebali dari Alfamart. “Oh itu kan si Aa (tukang bully itu) mau nyuruh adeknya pulang.” Rasanya aneh. Gak biasanya.

Setelah hujan reda, ada tukang mie ayam. Umar dan Salman beli di depan rumah si anak kecil nan heboh itu 😛 Teringat bahwa persediaan telur dan kecap sudah habis, aku beli dong di warung. Guess whose is that? 😉 Ya aku sih cuek aja, karena merasa gak punya salah dan gak ada masalah, toh?

Seperti twit di atas, aku menekankan pada anak-anak, jika ada masalah dengan teman, selesaikan sendiri. Jangan jadi tukang ngadu. Aku tak pernah mengajarkan mereka menjadi manja, provokatif, dan cari masalah baru. Karena orang lain belum tentu melihat kejadian yang sebenarnya dan berpotensi fitnah. Menghindari masalah pun bukan solusi. Kalau hanya sekedar berantem, rebutan mainan, atau ada yang gak mau berteman sih biarin aja! Hal seperti itu kalau orang dewasa ikut campur, bisa beranak pinak itu urusan! 😆

Aku sih gak mau tau ya gimana cara orang lain mendidik anaknya hingga kelakuan anak-anak di sekitar lingkunganku itu homogen. Asli bingung! Anak-anak di sini tingkahnya seperti ini:

1. Senang meledek yang lemah / kalah / salah

2. Senang berbohong / mengajak berbohong

3. Senang mengadu untuk cari perhatian

4. Senang berbisik di hadapan banyak temannya yang lain

5. Senang memukul / menendang / melukai (ringan pun tetap menyakiti toh?)

6. Senang mengumpat

7. Senang melempar benda yang membahayakan orang lain (batu, bata, balok, pecahan genteng, dll).

Kenapa aku bisa menjabarkan 7 hal ini? Karena melihat dengan mata kepala sendiri. “Laporkan, An!” Lapor? *senyum sinis mampus* Lapor ke mana? Komnas Anak? Bukan urusanku, untuk saat ini. Masih tidak (belum dan jangan sampai!) membahayakan fisik dan mental krucilku. Insya Allah masih sanggup melindungi mereka dari keanehan di lingkungan kami.

Tapi sepertinya kamilah yang aneh di mata mereka. Warga baru yang datang dari  lingkungan heterogen, terbiasa mandiri,  selalu melakukan perubahan sesuai perkembangan zaman, mau tinggal di tempat terpencil (pojokan, dekat kuburan, jauh dari jalan raya), dan ternyata punya rules sendiri bagi hidupnya.  Kamilah alien itu.

Pas, aku membaca http://wp.me/p3dyyt-4B ini. Aku tak akan banyak komentar. Nah tuh ada hadist yang shahih kan? *senyum paling manis*

Well, nuff said. Time to sleep. So tired to think about it all. *sigh*

Iklan

2 thoughts on “Alien Itu Adalah Kami”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s