Mesin Diesel yang Ingin Cepat Panas

Iya itu aku. Banget.

Menyadari kelemahanku selain slebor dan pelupa (buka aib sekalian, untung gak lupa udah punya 2 jagoan ganteng😛 ), aku juga termasuk nekat. Pun untuk menjalani dunia baru, berbisnis dengan segudang ilmu yang sama sekali baru di lapak sebelah.

Saat aku baru bergabung, jelas aku gak ngerti sistemnya bakalan gimana. Kan nekat. Tapi punya tujuan. Fokusku saat itu hanya satu: masa depan anak-anak. Gak ada lagi. Bahkan aku gak mikir akunya sendiri bakal gimana.  Segala yang sedang kuupayakan hanya demi mereka berdua. Mau gimana caranya, selama halal dan Allah ridha, insya Allah kujalani. Meski berat. Meski berliku. Meski harus jungkir balik. Toh aku yakin, semua akan indah pada waktuNya🙂

Masalahnya aku sangat lambat dalam memulai segala sesuatu. Entah karena kebanyakan mikir, takut duluan, atau emang mesin otakku yang telat panas. Orang lain udah paham materi bab tujuh, aku masih mandeg di bab satu. Kan aneh… Aku menyadari hal ini ketika kelas 2 SMP. Saat itu pelajaran matematika. Padahal itu materi udah diulang sekitar 4 kali dan aku masih belum paham. Aku bertanya pada sahabatku gimana cara mengerjakannya. Dia menjelaskan sambil rada jengkel. Hihihi… Dia bingung kali ya aku kok gak ngerti-ngerti? Kemudian ketika catur wulan berikutnya sudah materi yang berbeda, aku baru bisa memahami materi cawu sebelumnya! *dhuar* *tutup muka pake panci*

Setiap aku memaksakan diri untuk berlari dengan kecepatan yang sama dengan teman-teman, aku justru akan tumbang. Bukan manja atau lebay, tapi emang otakku gak bisa gitu. Sakit kepalanya beneran. Ngilunya sampe bikin menggigil. Aku gak tau sakit apa, gak pernah periksa juga. Pokoknya kalau maksa mikir untuk mengejar ketinggalan, langsung deh kesemutan. Kalau beruntung, ya gak sampe sesak nafas atau muntah. Aku kenapa siiihhhh??

Tapi aku juga gak mau dianggap malas. Makanya aku terus maksa meski sakit. Gak mau denger orang lain membandingkan aku dengan teman atau bahkan rivalku sendiri. Entah, gak ngerti. Tapi (lagi) karena aku malu untuk mengakui kelemahanku ini dan terus menyembunyikannya, gak heran kalau banyak yang memarahiku karena lelet dan menuduhku terlalu santai. *pasrah* Saat ini pun aku sudah tersalip oleh temanku sendiri di lapak sebelah. Malu sih gak, hanya geregetan aja. Aku belum mengaku kalah kok. Karena kerjaku ya harus perlahan. Gak bisa secepat dia.

Tapi aku sudah berjalan sejauh ini. Aku gak mungkin berhenti dan gak mau mundur lagi. Sesakit apa pun, pasti bisa deh! Senyum kedua krucilku adalah senjatanya.🙂

Saat aku menulis ini, keningku sudah nyut-nyutan. Bodo ah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s