Februari yang Berat Untuk Dilalui

Mungkin aku terlalu cemen atau lebay atau cengeng atau rapuh. Whatever lah gimana aku mau dinilai. Tapi aku terus menulis dan menulis untuk menumpahkan semua yang mengganjal agar aku bisa keluar dari rasa nyeri ini dengan selamat. Hiperbolis? Mungkin.

Februari tahun 2012 kulewati dengan susah payah. Antara harus tetap tersenyum di depan anak-anak, mengatakan bahwa semua baik-baik saja kepada sahabatku, menahan air mata agar gak tumpah, dan berjuang mensugesti bahwa semua hanya masalah waktu. Lepas dari #senja bukan hal yang mudah bagiku tahun lalu. Yang melihatku menangis sangat tahu bagaimana wajahku yang seperti orang habis dibogem (pretlah!). Saidah dan Ichy tau banget itu. Ah ya Kak Jo juga sama.

Tadi siang aku chat ringan dengan #senja di Whatsapp dan ya, aku sudah bisa bersikap biasa terhadapnya. Tapi bukan hal yang mudah dilakukan dalam waktu sebulan dua bulan lho! Susah move on ternyata!šŸ˜€ Eh sebenarnya sih aku termasuk gampang buat manuver, tapi kasus #senja tuh beda. Asli beda banget. Butuh waktu gak sebentar hanya untuk mempersiapkan mental, kalau suatu saat ketemu lagi tuh akan biasa gitu. Ternyata benar. Saat pertama kali ketemu lagi pada bulan Mei 2012, kalo boleh milih sih rasanya pengen menikam dia dengan belati. Seru kan? Ahahaha, gaklah! Itu hanya pilihan kata yang norak.

Februari ini, sekali lagi aku dihadapkan pada kenyataan. Dengan pria yang berbeda. Yang tak pernah kuduga bakalan seperti ini. Patrick yang kukenal ternyata bisa sedemikian frontalnya terhadapku. Ā Tiba-tiba tanpa ada badai, hujan, petir, dan gempa bumi, dia langsung “mendorongku” ke jurang dan menguburku hidup-hidup. (Eh bodo deh hiperbolis, biar seru!)

—interupsi, saat nulis ini perut aku kram dan sakit banget—- #seluruhduniaharustaušŸ˜†

Pertanyaanku bahkan tak dijawabnya. Apa salahku, hingga detik menulis ini aku pun gak tau. Beneran gak ngerti ada apa dengan semua ini. Asli deh. Karena selama ini aku becanda dengannya selalu over dan gokil. Nyaris di luar batas. Dia emang tipe humoris. Tapi ketika aku hanya becanda yang sangat standar, dia justru melakukan semua hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Membenciku seolah aku adalah pesakitan yang membawa virus mematikan dan harus dibasmi.

sepertinya Patrick hendak mengatakan ini padakušŸ˜¦

Gak ngerti. Beneran gak ngerti. Tapi kuat dugaanku, ini berkaitan dengan seseorang atau beberapa orang di luar sana yang mengenal kami. Karena gak mungkin ada asap kalau gak ada api, kan? Masalahnya (lagi), aku gak mungkin bertanya pada siapa pun juga karena mereka tau bagaimana kedekatan aku dengan Patrick. Ini sih bencana buatku. Entah. Aku gak bisa mikir lagi.

Aku harap bisa melewati Februari ini dengan baik. There were two things that I have to face it all bravely. Satu karena keputusan yang kubuat sendiri dan satu lagi pasrah pada keadaan. Kuharap semua akan baik-baik saja.

Aku pasti akan baik-baik saja. Meski membutuhkan waktu lama, mungkin itu cara Tuhan mendewasakanku. Menempaku sekali lagi dengan ujian semacam ini. Tuhan maha tahu betapa aku sangat rapuh mengenai hal ini. Uh oh!

Sepertinya ada makna lain yang seharusnya diterjemahkan dari #kode 1 Syawal. Hey, Ichy! Let we discuss about it again! Oh ya ketika aku menulis bagian ini, hatiku mulai tenang meski perut masih kram. (penting gitu ya, An?) #abaikan. Mungkin Ichy benar tentang akhir tahun. (ini ngomongin apa sik?)

that’s all.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s