Lebih Sulit Dari yang Kubayangkan

Aku gak pernah menyangka akan seperti ini jadinya. Berhari-hari aku masih bingung menghadapi hatiku sendiri. Gamang. Sudah tau masa depan akan bagaimana, lantas mengapa aku masih juga terpaku?

Dia bukan seperti yang kubayangkan sebelumnya. Sama sekali. Bukan sosok yang kusyaratkan pada Allah. Tidak ada dalam daftar permintaanku pada Allah, dia yang kumau atau kubutuhkan. Bahkan dengan santainya aku masih mengelak ketika ada desir halus di hatiku terhadapnya. It’s only the lust. Not more. Jadilah aku hanya diam.

Tapi semua berubah 180 derajat ketika aku menemuinya pertama kali. I really hate that damn chemistry. Asli dengkul lemes tuh bukan lebay. Baru kali itu aku merasakannya. Biasanya sih kalau ada yang kusuka, paling butterflies in my belly bikin gak nyaman sampe naik ke dada. Ihix.

can't be with you

Dia berbeda. Entah, aku gak bisa menjabarkannya. Aku bahkan masih menyangkal ketika akhirnya aku pulang ke rumah dan membawa rasa bingung itu. Jangan pernah pakai perasaan bila berhubungan dengan pria semacam dia, demikian kata teman-temanku. Just playing your part in that game. When it’s over, you’ll never get hurt. 

Dan aku berusaha ‘menurut’ pada perkataan mereka. Okay, aku gak akan pakai hati. Tapi sialnya, hal itu muncul tanpa pernah kusadari kapan mulanya. Pertemuan pertama itukah?

Dan pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulutku, “Kenapa harus aku?” Dia hanya menggeleng dan tersenyum tipis. Mencubit hidungku dan tertawa kecil. “Jangan tanya lagi ya?” pintanya. Aku hanya bisa diam lagi. Aku bisa apa?

Kupikir semuanya akan baik-baik saja ketika akhirnya kami terpaksa harus berjauhan. Demi mereka yang lebih membutuhkannya dan membutuhkanku. Kami tanpa masa depan.

Tidak, aku tidak sedang terpuruk. Aku hanya ingin membuang segala beban perasaanku hingga saatnya tiba, aku bisa menghadapi hari-hari ke depan dengan perasaan lapang dan ringan. Itu saja. Kalau hanya kupendam sendiri, gak akan baik untuk kesehatanku toh? Lagian, dia pun punya cara sendiri dalam menghadapi semua ini. Aku tau itu kok🙂 Tuhan selalu punya cara agar aku tau apa yang dia kerjakan. Hal ini berat untuk kami. Tapi pasti bisa kami lalui dengan baik.

——–

Terima kasih untukmu selalu. Terima kasih atas segala perhatian dan rindumu. Pelukan hangat dan eratmu sungguh luar biasa. Kamu gak akan pernah sadari hal itu, makanya aku bersyukur.🙂

Jika memang Allah menakdirkan kita bersama, itu kuasaNya, bukan kehendak kita. Jadi, jalani saja segala keadaan ini. Doaku tak pernah putus untukmu. ♥

2 thoughts on “Lebih Sulit Dari yang Kubayangkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s