Berburu Tempat Menyepi Tanpa Henti

Belum sampai ke tempat tujuan. Aku belum menemukan yang kucari. Sebuah tempat yang benar-benar bisa kusebut sebagai surga dunia bersama anak-anak…

my almost perfect dream of SOHO

Bukan wujud fisik seperti sekarang. Suatu tempat itu masih menunggu kami bertiga untuk datang. Sama seperti ketika aku kecil 16 tahun di Cirebon. Di rumah yang sama. Seandainya saja Mama masih ada, tentu rumah Cirebon akan tetap ada untuk aku. Rumah Cirebon, sampai sekarang benar-benar “rumah” untukku pulang. Nyaman. Meski sederhana dan tanpa perabot mewah. Damainya merasuk hingga ke jiwa.

Sekarang, jiwaku nyaris letih mencari satu sudut yang bisa kusebut “istana jiwa”. Rumah yang sekarang kutempati “mulai rewel” atau akunya yang memang sudah tak nyaman. Bukan, sama sekali bukan tidak bersyukur. Ini jauh lebih dari apa yang kubayangkan yang bisa kupinta dari Allah. Rumah sendiri. (Euh, maksudnya rumah adikku sih. Cumah kan bagus gak ngontrak atau sewa.)

Setiap rumah ada “nyawanya”. Betul? Yap.

Jujur, saat aku menemukan rumah ini, aku dan adikku kompak berpikir. Tak akan lama di sini. Terutama aku. Bandungnya sudah tepat. Tapi lokasinya belum pas. Aku sungguh gelisah. Ditambah ternyata pergaulannya tak cocok untuk anak-anakku. Bukan seperti ini yang kumau. Anak-anakku melesat maju dan tak bisa diimbangi teman-temannya. Alhasil, justru kedua mujahidku yang merosot tajam karena “kelelahan berlari terlalu cepat” dibanding teman-temannya.

Aku dan rumah yang sekarang ternyata “gak klop”. Aku pun berkata padanya, “Aku tak akan lama di sini. Aku tau kamu mencari pemilik yang sesuai dengan keinginanmu. Tapi aku mohon, sampai aku menemukan rumah baru, izinkan aku dan kedua anakku menetap sementara di sini.” Sepertinya rumah ini mengerti. Ya ada sih protes-protes kecil darinya. Aku tahu itu.

Saat aku membeli rumah ini, tetangga semua bilang rumah ini dijual sangat mahal. Aku hanya bisa terdiam. Sementara tetangga Depok bilang aku menjual rumah kebangetan murahnya. Aku salah di kedua sisi. Tapi tak kusesali. Selalu ada hikmahnya, kan?

Ketika aku hendak pindah dari Depok ke Bandung, bayangbayang Mama masih melekat kuat dan hampir semua barang Mama kubawa ke Bandung. Tapi ternyata itu membebaniku. Terlalu kuatnya aku berpijak pada masa lalu membuatku sulit bergerak di masa sekarang. Akhirnya aku meragu untuk melangkah. Takut.

Kini, aku siap untuk melepas semua. Mulai dari nol. Bukan kenangan secara fisik yang harus kupertahankan dari Mama. Tapi nilai kehidupan, wejangan, dan cinta kasihnya yang harus kutanam dalam jiwaku dan anak-anak.

Tempat yang agak sunyi, tepat untuk menyepi. Penulis selalu ingin menepi dan menyepi untuk mengeluarkan ide-ide terbaiknya. No? πŸ™‚

Sepertinya, aku mulai siap menata hidupku dan anak-anak. Ehm, dengan siapa lagi? *keselek kulit duren*

4 thoughts on “Berburu Tempat Menyepi Tanpa Henti”

  1. Wah, mau berburu rumah baru lagi nih mba?
    Ada yg aneh sih dg yg namanya rumah itu. Kalo kita sudah sreg, biar kata orang dinilai aneh, tetap kita betah tinggal disana. Begitu juga sebaliknya. Tentu lingkungan sekeliling memegang peranan juga dalam hal ini.
    Nah, rumah saya di sukabumi dikelilingi gang. Gang kecil, yg motorpun susah masuk. Sodara2 pd aneh, knp beli rumah ini? Beda banget dg surround waktu tinggal di perumahan di Bekasi.
    Sepi nya itu yg saya jatuh cinta. Kalo sudah di rumah, hening apalagi di mlm hari. Tiis ceuli, kt orang sunda mah. Walau ditengah gang, tp gak jauh dr jln raya. Jadi kalo pulang dr Bekasi, turun angkutan umum, jalan sebentar sampe deh ke rumah.
    Sementara ini rumah yg pas untuk keluarga saya. Apalagi si mamah sudah aktif dan bikin grup rebana disana…
    Demikian cerita saya ttg rumah. Sekedar sharing saja…
    Salam,

    Suka

    1. iya pakde πŸ™‚ pencarian belum berhenti ternyata. Bandungnya sih sudah homey… tapi tidak letak fisik rumahnya.. doakan ya πŸ™‚

      nuhun sharing-nya, bermanfaat sekali πŸ™‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s