Hampa yang Menusuk Jiwa

Hari pertama (lagi) tanpa pengasuh anak-anak di rumah. Sejak pindah ke Bandung, sudah 2x ganti pengasuh dalam waktu enam bulan. Memang tak mudah mencari yang sesuai kriteria idaman kita 100%…. Setidaknya, berharap 60-70% pun sudah bagus kan?

PAY ATTENTION TO ME!

Pengasuh pertama bernama Ririn, usia 16 tahun, berasal dari Purworejo. Komunikatif sih. Tapi namanya remaja, masih seneng maen kan? Aku diemin bukan berarti aku gak merhatiin cara kerja dia. Serampangan sih. Dan malas. Heu… Nyapu & ngepel mesti diingetin. Nyuci bisa siang atau malah sore hari. Masak, sudah kubilang jangan pakai MSG. Cukup gula & garam. Diam-diam malah ditambah bumbu mie instan. *dhoenk!* Yang bikin shock itu adalah ketika dia minta pulang paksa karena mau ada acara tahlilan 1000 hari neneknya (weird enough) dan mendapati beberapa barangku (termasuk BARANG SUPER PRIBADI) gak ada di tempatnya. Panjang tangan juga tuh anak. Bukan hanya itu, 2 hape aku dipakai fesbukan dan SMSan sama dia. WOY!!!!! Masih menambah daftar minusnya, 2 lipstik harga ratusan ribu rusak padahal BELUM PERNAH dipakai lho sama aku. Plus deodoranku juga.  KECENTILAN! Tapi semua daftar minus itu masih bisa dimaafkan (wogh, baiknya dirikuuuuuuuuu….. faklah!). “Dosa” terakhir ini yang tak akan pernah aku maafkan: berani membentak dan memarahi Umar.

Beralih ke pengasuh kedua yang justru sebenarnya untuk inval sampai aku dapat pengganti. Namanya Neni, 25 tahun, berasal dari Ciparay, Kabupaten Bandung. Oke, dia telaten, sabar, resik, gesit, dan sopan. Minus dia? Kurang komunikatif, main hape dan dengerin musik. Sebenarnya sih cocok, tapi ketika mendapati kenyataan dia tidak sanggup menghadapi Umar, pengen ngamuk rasanya. Padahal dia kebanyakan santainya lho… Karena anak-anakku udah lumayan mandiri. Kalau aku di rumah aja sering liat dia santai kok, gimana aku ngantor, coba? Buat apa aku bayar mahal? Bukankah dia pengalaman sebagai nanny? Harusnya paham bagaimana mengasuh anak, toh? Lagipula, di hari pertama dia datang pun aku sudah bilang kalau menghadapi anak-anakku harus extra sabarnya. Trauma mereka masih ada. Jangan sampai ada suara yang tinggi. Bagi mereka, hanya suara tinggi (plus bentakan >_<) aku yang bisa mereka terima. Yah, dia bekerja hanya untuk uang. Mungkin karena belum pernah punya anak, gak ada rasa tersentuhnya sedikit pun melihat kondisi anak-anakku. Aku juga gak mau memaksa sih.

Sejak seminggu lalu aku mencari informasi sana-sini… Ke Solo, Jogja, Cirebon, Cimahi… Mungkin saja ada yang punya info gitu siapa yang mau kerja di rumahku. Karena nelepon berbagai yayasan di Bandung pun hasilnya nihil. Stok kosong (berasa mau beli beras) atau waiting list. Mami!

Padahal kriteriaku kan gak ketat. Pokoknya sayang dan telaten sama anak-anakku. Rumah berantakan gak papa deh. Yang penting makan, mandi, main, dan belajar ada yang nemenin. Masak yang gampang aja dan porsinya gak banyak kok. Aku juga udah biasa mengajar anak-anak hidup prihatin. Sehari makan 2x, maksimal 2 menu, dan jarang menu daging. So, gak ribet sebenernya ngurus krucilku karena mereka udah lumayan mandiri. Nyapu & ngepel ya karena anak-anak kan main tiap hari pasti kotor dong? Kesadaran aja sih… Kalau nyuci baju pun hanya baju mereka. Karena bajuku ke laundry semua.

Galau Dengan/Tanpa Pengasuh >_<

Aku sih mikirnya, alasan mereka gak masuk akal semua. Memojokkan Umar. Sebenarnya mereka gak tahan tinggal di kampung. Mungkin maunya kerja di kompleks perumahan mewah. Maklumlah…. Udah kena virus hedonis, kayaknya… Aku gak bisa melarang. Terserah mereka. Silakan cari majikan lain. Belum tentu nemu yang baek dan gak banyak cingcong kayak aku. Heu…

Dan suasana sepi begini bukan karena gak ada pembantu / pengasuh… Rasa hampa yang sangat menusuk. Nyeri. Perih. Entah berapa kali Umar dan Salman menanyakan om-om mereka. Adie, Zul, Danny, Sean…. Mereka butuh sosok pria dewasa di rumah. (buset lu, An! curcolnya geje!)

Aku memang salah telah menghilangkan sosok yang sangat genting dalam usia pertumbuhan jiwa mereka. Tapi semua kulakukan justru demi keselamatan nyawa mereka…. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa mereka panggil dengan sebutan  “Ayah”. Serba salah…

Sangat ingin ada di rumah 100% untuk anak-anak. Ken pernah bilang kalau aku lebih cocok jadi ibu rumah tangga, bukan wanita karier. Ketika aku protes siapa yang cari rejeki, dia menjawab dengan kesal (kalau ketemu beneran kayaknya aku digaplok), “Ya suami lu nanti lah! Gimana sih!” Duh😦

Jiwaku yang rapuh ini menggigil ketakutan. Tapi aku sadar, mereka jauh lebih rapuh dan rentan…Yang membuatku tetap sadar untuk menyeret langkah mendekat pada Illahi… Memohon ampun dan perlindungan.

Entah sampai kapan aku mampu bertahan…

2 thoughts on “Hampa yang Menusuk Jiwa”

  1. Sulit juga ya menemukan pengasuh anak-anak yg pas. Memang selalu ada saja minusnya. Namanya manusia gak ada yg sempurna. Tp ya 60%-an aja mendekati yg paling pas itu sudah oke…
    Jadi sekarang gimana krucil di rumah waktu mba meninggalkan mereka saat mba kerja?
    Semoga cepat menemukan pengasuh yg pas ya mba…
    Salam,

    Suka

    1. belum dapat, pakde😦 sampai tanggal 1 januari sih sama aku terus. nah galaunya ini kalau sampe aku harus masuk kantor… semua pilihan sama sulit dan gak mungkinnya…

      insya Allah pakde, aaamiiinn… nuhun pidu’ana…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s