Kak Amei Sayangnya Krucil

RIP: Tiurma Meilana Ishabela Sagala

15 Mei 1980 – 13 Desember 2012.

(Hampir) Semua firasatku terbukti. Diawali dengan bersitan pikiran sekitar dua tahun lalu bahwa dia tak akan hidup lama. Entah, tetiba aja begitu. Aku hanya menggeleng dan mencoba menghalau hal aneh seperti itu. Tapi hal itu menguat setahun terakhir. Aku pun bingung menjelaskannya.

Mei adalah tetanggaku satu gang semasa aku tinggal di Depok Agustus 2001-Mei 2012. Anak kedua dari tiga bersaudara. Judes dan sadis sih wajahnya, hihihi… Tapi dia sebenarnya perhatian dan baik banget orangnya. Pun, dia adalah tipikal workaholic sejati. Gak heran sebenarnya jika dia sering ngedrop.

Ketika aku punya anak pertama, dia dan kedua saudaranya memperlakukan Umar seperti adik bontot. Dimanja. Disayang. Dan dia pun gak mau dipanggil “Tante”. Hanya mau dipanggil “Kakak”. Alasannya? “Biar awet muda.” *halah*

Saat Salman lahir, Umar tak jadi bontot lagi. Justru opungnya semakin sayang. Kepada siapa pun, opung selalu bilang, “Ini cucu kesayanganku.” Entah dari anak yang mana. Mwahahahaha😛😀 *dikeplak*

Tanggal 8 Desember 2012, Mei sekeluarga mengadakan pesta ulang tahun Umar di McDonalds Mall Depok. Jujur, antara merasa gak enak hati, bingung, aneh, dan sebel. Sebelnya ya karena bingung. Kok Mei mau sih rempong bikin acara ultah buat dua anak. Iya, dua! Umar dan Salman. Padahal ultah Salman masih bulan depan alias Januari. Firasatku buruk. Tapi ya, lagi-lagi aku berpikir itu hanya pelampiasan rasa sayang Mei terhadap krucil.

Ketika aku bertemu dia di Depok Mall, kulihat ada yang aneh dari diri Mei. Entah apa, saat itu aku gak bisa jelasin. Tapi sekarang aku baru sadar, Mei memang terlihat beda tanggal 8 itu. Ada sorot mata yang tak biasa. Antara sedih, gembira, takut, dan entah apa lagi. Berulang kali, secara tak sadar pun aku selalu memperhatikan gerak gerik Mei.

Kemudian saat pulang ke Bandung, ternyata Mei ikutan nganterin. Lagi-lagi, entah kenapa perasaanku gak nyaman. Demi Tuhan, aku gak ada maksud keceletukan dalam hati, “Terakhir nih, Mei, elu nganterin krucil ke Bandung. Lu gak akan bisa lagi liat mereka.” *tampar pipi sendiri* Aku pun melihat Salman seperti gak bisa lepas dari Kak Amei.

Tanggal 12 sekitar hampir tengah malam, tetiba aku memikirkan kuburan. Seperti biasa, ada rasa ketakutan karena aku merasa kehadiran malaikat maut. Mungkin seperti drama, aku terlalu berlebihan. Entah, yang jelas aku merasa ngeri sendiri. Aku hanya bisa mengingat kedua anakku dan adikku. Tak terpikir pada siapa pun.

Tanggal 13 seusai shalat Subuh, punggung dan pinggangku merasa sangat dingin. Bukan seperti dinginnya udara pagi Bandung, tapi dingin seperti es. Beku. Aku mendengar suara, “Ada yang pergi. Sendiri.” DEG! Siapa? Kapan? Di mana? Kenapa? Tak ada jawaban.

Kemudian aku ngetwit bahwa kopi pagi itu justru bikin aku gak nyaman. Aku gelisah. Degdegan menunggu kabar sejelek apa pun dari siapa pun. Pukul 07.30 , adik Mei mensyen aku di twitter, “Bun, kamei meninggalll..” Yang jelas aku malah marah karena merasa candanya kebangetan. Pagi-pagi ngajak rusuh! Tapi itu kenyataan. Setengah jam kemudian, dia menelepon sambil terisak. Aku masih linglung dan berjanji segera datang. Lagi, setengah jam kemudian, abangnya yang menelepon untuk meyakinkanku dengan suara serak. Tuhan, kabar itu nyata!

Mobil sudah ada, tapi supirnya gak ada. Antara gelisah dan stres karena deadline kerjaan, aku hampir gak bisa mikir apa pun. Pukul 1.30 siang, mobil dan supir pinjaman dari teman pun datang. Seperti yang sudah diduga, hujan dan jam pulang kantor menyisakan kemacetan menuju Depok.

Sampai rumah duka, Umar sama sekali tak berani untuk melihat jenazah Mei. Dia memilih berada di mobil. Antara takut dan tak mau mengakui kenyataan. Salman? Dia bengong tak mengerti. Aku memeluk Mamanya dan sekuat tenaga tak ikutan menangis. (Ceritanya sih mau sok kuat, gitu) Kemudian memeluk adik dan menyalami abangnya. Kemudian aku memilih berdiam di rumah Nenek Sanglir karena memberi kesempatan pada keluarga untuk melihat Mei terakhir kali.

Aku makan malam bersama krucil di tempat favoritku dulu, nasi goreng Bang Kasum. Hm, harganya naek lagi euy seribu. Tapi Umar makan sangat sedikit. Hanya lima sendok.😦 Hihihi… Eh, sempat juga melihat mantan rumahku yang MASIH SAMA SEPERTI SAAT AKU PINDAH. (Rasanya pengen ngebantai pemilik baru yang udah bikin rusuh waktu itu. Ah, sutralah!)

Aku pamit pada pukul 11 malam, saat anak-anak sudah terkapar di mobil saking lelahnya. Melihat Mei terakhir kali, wajahnya damai. Aku masih tetap tidak menangis. Hanya ada perasaan kosong.

Di dalam perjalanan pulang ke Bandung, aku stalking timeline twitter Mei ( @queen_mei15) dan menemukan beberapa twit tentang krucil.

6 Juni: Kangen my cute baby umay and salman..#sabar ya nak#

6 Juni: Kangen my baby umay and salman #hugnkiss4ubaby#

4 Agustus: Minggu dpn wajib k bandung….

21 Agustus: Gws ya baby…. pic.twitter.com/cR9G6QBd

24 Agustus: Kangen duo krucil..

15 September: Makasiiii yaaa duo krucill, you made my day so beautyfull…love u baby always

16 September: Miss this duo krucill, see u soon baby.. pic.twitter.com/jlJnozmO

8 Oktober: Miss duo krucil….

9 Desember: Menikmati jalan ditengah malam kota bandung…

Sudah berakhir semuanya. Ya, mungkin saat menulis ini aku gak berasa apa pun. Tetapi semalam aku mendengar lagu “Moments” dari Kenny G. Asli, itu baru nangis…. Dan aku ingat ketika melihat dia adalah orang terakhir yang keluar dari rumahku saat mengantar pulang tanggal 8 Desember itu. Sekali lagi, sepintas aku bergumam, “Gue cuman bisa liat punggung lu, Mei. Dan ini terakhir.” Ampun dije! *keplak pipi sendiri*

Aku bukan tetangga yang baik bagi Mei. Ada selisih paham yang cukup mengganggu di masa lalu, memang. Tapi itu tak mengubah rasa sayang dia terhadap krucil.

Terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan pada krucil, Mei. Terima kasih dari mereka yang kuwakili. Maaf bila selama ini krucil menyusahkanmu dengan segala permintaan mereka. Maaf bila mereka merepotkanmu.

Damai untukmu, kembali ke Rumah Bapa di Surga. Tuhan Yesus sangat sayang padamu.

—-

3 thoughts on “Kak Amei Sayangnya Krucil”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s