Bukan Prioritas Siapa Pun

Semua orang punya prioritas utama. Memiliki, minimal satu, yang paling didahulukan ketika menghadapi pilihan.

Aku men-twit “setiap pilihan selalu mengandung resiko. apa pun itu. yang lebih buruk tentu ada, yaitu tidak punya pilihan atau tak mau memilih.” kemarin dan ada tanggapan di Facebook. (sayangnya sudah dihapus sama si pemilik status. *mendelik sadis*)

Iya, setiap orang pun pasti akan memprioritaskan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Pasangan, anak, orangtua, sahabat, saudara, dan siapa saja yang membutuhkannya di saat yang tepat.

Mungkin ini sangat lebay ketika aku menyadari bahwa aku bukanlah prioritas bagi siapa pun. Ehm, maksudku, karena sekarang aku mempunyai status single fighter, maka tidaklah menjadi penting bagi orang yang kupikir akan mengutamakanku (ribet yak penjelasannya?😛 ) Meski demikian, aku tetap dikelilingi oleh sahabat tercinta yang ternyata sigap dan siap membantuku whenever I need them so much. Ini sudah cukup bagiku sekarang.

Memikirkan masalah prioritas, aku mendadak ingat Sean dan John. Hanya mereka berdua yang benar-benar sudah membuktikan bisa hadir untukku saat aku ingin mereka ada. Pas sekali waktunya. Mereka tidak mengumbar alasan yang tak jelas. Mereka hanya memintaku bersabar.

Tetapi ya, karena aku hanya mempunyai satu kesempatan langka untuk bertemu mereka, tentunya harus digunakan sebaik mungkin. Waktu mereka sangat berharga untukku dapat menikmatinya. Menghabiskan waktu dengan sebaik mungkin. Karena kita tak pernah tahu masa depan…

Tapi ya, Sean dan John jelas berbeda. John si tahanan kota itu tak memiliki banyak waktu bahkan untuk dirinya sendiri. (Sukurin!😀 ) Tetapi ketika aku memintanya untuk bertemu, dia mencoba untuk memprioritaskan aku di saat yang dia janjikan untuk itu. Sean tak lagi seperti dulu yang bisa kapan pun ada untukku. Kini, dia mencoba untuk membatasi diri. Aku memahami alasannya. Setidaknya, dia masih ada untukku melalui online. Hingga aku menulis ini, John masih belum menghubungiku lagi. Sepertinya kekecewaan sedang menyelimutinya. Apa yang pernah dia harapkan dariku, pada kenyataannya jauh dari bayangannya. Sinar matanya redup. Sekilas, namun tampak jelas olehku. Aku pun malu sudah mengecewakannya. Aku membiarkan dia tenang dulu sampai mau menghubungiku lagi. Mungkin…

Ya, John memang berbeda dengan Sean. Ingat ketika aku punya kebimbangan pilihan dengan si Joe, Sean tertawa getir dan marah. Namun saat akhirnya Joe menghilang dari duniaku, Sean kembali memenuhi hari-hariku. Entah dengan John. Dia sangat perasa dan peka, di balik sikapnya yang rada nyebelin di muka umum.

Bagaimana dengan Ken dan Bob? Hm, aku bukanlah siapa-siapa bagi Bob. Dulu, kini, atau nanti. Ketika aku bertemu Bob, dia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri. Ketika rasa penasarannya hilang, berakhir pula percakapan hangat kami yang selama ini terjalin. Entah mengapa.

Ken, menjadi sumber tanda tanyaku hingga detik ini. Dia hanya menekankan agar aku bersabar untuk apa pun dan tetap harus memilih. Seperti dia yang memilih diam dan menunggu waktu yang tepat menurutnya. Meski bagiku justru seperti membuang waktu. Entah, aku tak punya hak untuk menginterupsi.

Semua, tentang pilihan dan prioritas. Siapalah aku yang bisa menuntut mereka untuk ada selalu saat aku membutuhkan. “Ada waktunya, Andi. Tolong mengerti kondisiku. Ya?” pinta John ketika manjaku kumat minggu lalu. “Aku menunggu waktu yang tepat, gak mau grasa-grusu seperti orang lain,” ujar Ken kemarin. Aku hanya diam.

Ah, aku tetap keras kepala. Kapan aku menjadi prioritas utama?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s