Apa yang Kamu Korbankan?

Ini sama sekali gak ada kaitannya sama Idul Adha minggu depan ya? Tapi ya hikmahnya sih bisa 11-12 deh🙂

inilah inti yang kupikirkan….

Pagi ini pikiran dan perasaanku diacak-acak lagi.

“Bukan cinta yang salah tidak memilihmu. Karena dirimu terlalu memilih untuk jodohmu. Jodoh tidak jauh darimu, karena kamu salah menoleh.” 

(Ini status FB pagi ini, copas dari twitnya Ladrang)

Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. Bisa jadi, semua kisah besar dunia berawal dari cinta.. walaupun salah menoleh, heu..

(Ini balasan dari temanku di wall dia tapi menyebut namaku)

Aku kembali mengingat perkataan dua orang yang sudah kuanggap dekat denganku. **** (A) dan  *****(B)🙂 Mereka berdua, ajaibnya, mengatakan hal senada dengan kalimat berbeda pada saat yang hampir bersamaan.

Coba perhatikan ucapan A: “Andi, aku ini orang bebas. Aku tak pernah suka terikat dan terbebani oleh satu orang. Tetapi keadaan memaksaku untuk terikat. Terpaksa. Jadinya ya kujalani saja. Masalah aku cinta sama dia atau gak, aku sudah tak ambil pusing. Sekarang yang terpenting adalah anak-anak. Mungkin kamu bingung, bagaimana bisa punya anak tanpa cinta? Ya bisa dong! Kan gampang, tinggal bersetubuh. Beres. Aku sempat menyesal. Tapi kemudian aku berpikir, jalani saja. Biarkan orang lain mengetahui yang mereka lihat. Mereka tak usah repot memikirkan yang aku rasa dan yang kulakukan di luar sana. Aku gak minta makan sama orang lain kok.”

Dan perbincangan kami panjang lebar. Aku meringis. A mengorbankan identitasnya demi anak-anak. Tapi karena dia sudah menekankan bahwa dia orang bebas dan sesuka hatinya melakukan apa pun, dia juga tak peduli istrinya mau berpikir apa.  Aku memahaminya.

Kemudian B. Dia bilang dari awal ya pernikahannya demikian. Ketika aku tanya apakah dia mencintai istrinya atau tidak, dia bungkam. Aku tak melanjutkan rasa penasaranku. Dia kemudian berkata, “An, ketika menikah, semua orang harus berkorban. Waktu dan diri untuk keluarga. Aku berkorban. Aku berjuang untuk mempertahankan. Tapi… Karena dari awal memang sudah salah, maka pertengkaran itu seperti makanan wajib hampir setiap hari. Kamu harus tahu bahwa istriku seperti yang pernah kuceritakan padamu. Begitulah dia. Aku berusaha mengerti dia, tapi tidak sebaliknya. Sampai saat ini, aku mencoba bertahan. Entah sampai kapan.”

Aku diam. Mencoba memahami dan mencerna kalimat B.  Aku hanya tersenyum tipis dan bingung.

Kemudian aku menoleh ke belakang. Bagaimana hancurnya rumah tanggaku. Apakah karena aku lemah dan penakut atau karena memang harus demikian? Terkadang aku bingung, haruskah mempertahankan pernikahan kemudian berselingkuh atau berpisah dan menjadi orang bebas sejati.

Apa sebenarnya yang dikorbankan? Harga diri? Status? Perasaan? Pemikiran?

~di sudut ruang hampa~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s