Ketika Aku Ditelanjangi

Tolong ya gak usah piktor dulu deh! *tabok yang baca* #eh😛 hihihihi….

Jadi, aku menulis ini setelah ‘dibantai’ olehmu di whatsapp (untungnya kita via  WA, bukan via BBM yang error di hari ini). Iya, kamu! Kamu melihat caraku berpakaian seolah melihat seorang ibu dari jaman tahun kemerdekaan gitu ya? *muka datar*

“Kamu sebenarnya bisa terlihat lebih cantik andai bisa memilih pakaian yang pas.”

Hm, aku yang asli memang cantik sih (pede kebangetan)

“Dandananmu membuatmu terlihat lebih tua.”

Gitu? Ya ya ya, aku memang gak suka dandan juga sik.

dengan celana panjang, sebenarnya aku lebih bebas bergerak. lagian, aku bukan tipe feminin. *ngikik*

“Cuma mau kasih masukan saja sih, cobalah ubah sedikit gaya berpakaianmu.”

Aku berubah? Untuk siapa? Aku dandan untuk siapa? Emangnya siapa yang peduli?

“Aku, sebagai teman, peduli.”

Ah, aku tersenyum tipis membacanya. Tapi nyeri.

“Ganti wedges-mu dengan sepatu sandai yang membuatmu nyaman berjalan.”

Menurutmu wedges ini membuatku menderita? Tapi aku suka. Ya, tapi (juga) ternyata kamu tahu kalau aku berjalan tidak seperti model di catwalk. Hmmm…

“Aku sangat memedulikan penampilan perempuan.”

Peduli pada penampilan setiap perempuan yang kau kenal atau semua perempuan? Tapi aku sama sekali tidak bisa tampil modis. Aku memang old fashioned. Karena aku tak peduli dengan diriku sendiri.

“Nggak harus modis, tapi enak dilihat. Terlalu modis juga membuat mataku nggak nyaman.”

Ah, aku jadi bingung. Enak dilihat olehmu itu seperti apa? Beritahu aku cara membuat matamu nyaman memandangku.

seperti ini, maksudmu? memangnya gimana aku berjalan dengan wedges?

“Jujur sih merasa jalan kayak emak-emak. Padahal umurmu masih jauh dari angka 40. Aku jujur. Sangat jujur.”

Aku hanya menelan ludah membaca tulisan itu. Ya, aku memang emak-emak. Aku pun memang tak peduli dengan penampilanku. Memangnya aku harus memikat siapa dengan penampilan palsu? (Jawaban dalam hati yang sangan defensif kan?) Lantas bagaimana yang disebut modis itu?

“Bukan modis, aku lebih suka menyebutnya padu padan.”

Okay, selama ini aku tidak padu padan ternyata.😦 Sekali lagi, sampai kamu menuliskan semua kritikmu, aku tak peduli. Karena aku memang tidak sedang hendak memikat siapa pun. Tak menyadari bahwa aku diperhatikan seperti ini olehmu. Teliti sekali sih, kamu?

“Dandanmu bukanlah gayamu. Kamu tidak menjadi dirimu sendiri.”

Ini, kalimat pamungkas yang menghujam jantungku #terTompi *halah banget* Dia ternyata bisa menyimpulkan diriku secara tepat. Dan gara-gara semua komentarnya, aku sempat memandang isi lemari pakaian dengan sangat lama. Bengong. Bingung. Juga membuatku googling pada bagian images dengan kata kunci “padu padan”. *ngakak koprol*

Tetapi ketika aku bertanya pada #mygoodboy, “Kamu merasa terganggu dengan penampilanku?” Dia menjawab tidak. “Lantas apa yang kamu lihat dariku?” Dengan santainya dia menjawab, “Bibirmu.” Woooooyy…. Fokuuusss…. *tepok jidat*😆

====

berasa buka aib… telanjang beneran.😆 truuuuusss??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s