Sesaat Aku Merasa Gede Rasa

Katakan saja ini modus. Aku tak peduli.

Saat aku mengirimkan pesan di Whatsapp bahwa aku akan memberimu sesuatu yang kujanjikan kemarin, saat itulah aku berharap keajaiban. Iya, aku tahu ini konyol.

Berharap bertemu denganmu sekali lagi, di tengah waktumu yang sangat sempit menjelang tiadamu. Jika kau sudah tak berada lagi di sini, aku hanya akan kembali berandai-andai dengan bayanganmu.

Awalnya kamu membalas bahwa kamu ada di tempat yang tak jauh dari Braga. Aku mengangguk mengerti. Namun ketika kamu mengatakan ada di Dago, saat itulah aku memohon keajaiban pada Tuhan. “Waktunya di sini semakin sempit. Bisakah Engkau memberiku kesempatan terakhir, Tuhan?” Norak? Konyol? Peduli apa?

Anehnya… Iya ini bagian yang paling aneh, menurutku. Aku tak panik. Aku bahkan sangat yakin bahwa kamu akan datang menemuiku. Meski… Bukan untuk aku. Kamu datang hanya untuk janjiku. Tak lebih. Tapi aku tak peduli. Yakinku adalah bertemu kamu. Itu saja.

Menunggumu dengan duduk di tempat yang sama yang kaugunakan pada hari Sabtu. Aku tertawa kecil. Hanya tempat itu satu-satunya yang kosong. Selera humor Tuhan memang aneh. Tempat yang seharusnya kuhindari, justru semakin membuatku ingin bertemu.

Waktu pada ponselku mengingatkan bahwa tak akan ada kesempatan itu. Tapi nalarku masih memberi sinyal positif pada pikiranku. Meski sungguh konyol, aku tetap yakin.

Ketika Whatsapp darimu bertanya posisiku, aku menjawab dengan enggan. Pikirku, untuk apa bertanya jika tak mungkin bertemu? Tapi tetap saja kujawab detail posisiku dengan tatapan yang menyisir semua sudut ujung jalan Braga itu. Kamu tetap tak ada.

Saat aku merasa cukup lelah menunggu keajaiban itu, kamu mengejutkanku dengan mengatakan bahwa posisimu ternyata tak lebih dari semeter di sebelah kiriku! Girang? Iya! Malu-maluin? Banget! Kampungan? Pastinya!

Seperti anak kecil mendapat kado istimewa di perayaan hari lahirnya, aku tertawa norak. Menyembunyikan rasaku yang sesungguhnya. Aku berjuang menahan debar yang ada dan memfokuskan pikiran agar bisa dengan jernih menjawab. Tak bisa. Aku panik. Waktuku tak banyak, tapi yang harus kulakukan juga membuat semuanya menjadi tak karuan.

Kemudian kata-kata itu pun meluncur lancar dari mulutmu, “Aku pulang dulu ya? Terima kasih semuanya.” Deg! Ah, waktumu sudah habis. Juga waktuku. Kita bersalaman kaku. Sebelum sempat aku menyadari kenyataan, sosokmu menghilang. Dan tanpa sadar…. Aku menangis (lagi).

Kamu sudah pergi. Kembali pada kehidupanmu yang nyata tanpaku. Tiga hari itu tak pernah bisa cukup untukku. Ah ya, ada satu kekonyolan terburuk yang kulakukan padamu. Hari Sabtu itu… Kenapa aku mengatakan bahwa aku akan ke suatu tempat, tapi sebelumnya aku akan menemanimu karena kita searah. Sumpah, aku bohong! Aku… Hanya ingin bersamamu karena kutahu waktumu tak banyak di sini. Semuanya berakhir di seberang bangunan tua yang sedang kauabadikan itu. Kamu menjadi milik teman-temanmu. Duniamu yang lain.

Hingga detik aku menulis ini, masih tak kupahami satu hal. Kenapa kamu rela kembali ke Braga hanya untuk sesuatu yang bisa kukirimkan dengan jasa kurir? Bahkan kamu sendiri bertanya apakah bisa kukirim saja? Lantas mengapa kamu justru kembali? Untuk apa?

Saat kita pertama bertemu, bahkan tak ada seremoni salaman layaknya sebuah perkenalan. Seperti sudah sering tatap muka. Tapi ketika hendak berpisah, kita bersalaman seperti dua orang asing. Apa yang terjadi sebenarnya?

Aku sangat paham bahwa bukan orang sepertiku yang pantas kamu jatuhi cintamu dan tak layak mendapatkan orang secerdas kamu. Tapi apa bisa semua dijawab dengan nalar?

“Kamu bisa memilih dengan siapa kamu menikah. Tapi kamu tak akan pernah bisa memilih kepada siapa kamu jatuh cinta.”

Aku hanya merutuk mengiyakan kalimat-entah-milik-siapa-itu. Dulu pernah kautegaskan padaku, “Aku tak akan pernah menikah. Tak mungkin aku menikah hanya untuk melegalkan persetubuhan semata.” Tetapi belakangan aku menyadari bahwa kamu sepertinya berubah pikiran. Entah siapa yang akan beruntung mendapatkan pria secerdas kamu. Aku menggigil membayangkan itu semua.

Saat ini, aku ingin menikmati rasa ini sampai mati mengering dengan sendirinya karena tak (pernah) kausiram dengan cintamu. Tak peduli bila harus  mati sia-sia. Setidaknya, aku pernah (merasa) memilikimu meski hanya tiga hari…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s