Untuk Kamu yang Kutemui di Braga

Sekali waktu. Di sekitar Festival Braga, pada tanggal 29 September 2012. Saat itu pukul dua siang. Melihatmu mulai dari jalan Asia Afrika. Tak hanya melihat. Kuperhatikan segala gerak gerikmu. Di tengah gerimis yang mengikatku, matamu sesekali mengabadikan beberapa obyek dengan kamera DSLR dan tak luput ponsel Androidmu juga kautengok. Tawamu selalu pecah membaca teks di aplikasi Whatsapp atau mendadak serius memantau linimasa dan mention tab.

Aku tertawa kecil melihat kelakuanmu yang random. Ketika akhirnya kamu menyadari bahwa aku memperhatikanmu, dengan kikuk kamu bilang, “Temui aku di kafe mana pun. Pilih sendiri. Nanti kususul. Aku masih ingin mencari foto.” Aku mengangguk.

Maka kulangkahkan kaki menembus kerumunan orang yang berada di Festival Braga. Berbagai macam manusia dengan karakternya masing-masing tumpah ruah di sana. Beraneka pasangan yang bergandengan tangan mesra. Aku lupa hari itu adalah Sabtu malam. Duhai!

Aku melihat meja pojok depan Kopitiam Oey kosong plus colokan yang membuatku berharap surga dunia tak hanya berhenti di sana. Memesan segelas Isj Cappucinno dan segelas Teh Tarek Semenandjoeng. Mantap! Kupikir bisa menjaga mood yang mulai agak kusut karena kelelahan.

Baru kusesap kopiku, kulihat kamu datang dan kupikir kamu memang menyusulku. Ternyata aku salah. Kamu tampak tergesa dan berkata “Aku janjian sama temenku dulu. Aku ketemuan di sini juga.” Dan drama pertemuan mereka pun kurekam dengan jelas di ingatan. Mereka tertawa, berbincang, dan entah sibuk apa lagi. Aku, hanya terdiam di meja yang sama, berseberangan dengan meja mereka. Terpana.

Aku mengangguk mencoba memahami meski masih bingung. Tak ada maaf, kamu benar-benar mengacuhkanku. Akhirnya, setelah tugasku selesai dan minumanku habis, aku bergegas pulang. Tanpa pamit padamu.

Aku menghubungimu melalui Whatsapp dan menyindirmu yang tak mengenaliku. Kamu, membalasnya dengan mengungkit kejadian malam sebelumnya. Aku kembali terpana. Semacam balas dendam kecil, rupanya. Kucoba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu dan kamu tak membalas. Seketika, ruang jiwaku mengering dan perih.

Agak sulit aku menemukan kalimat yang dapat mengungkapkan perasaanku yang tak karuan saat itu. Kemudian, di Minggu paginya, aku mencoba menulis seperti ini:

kalau memang tak ada apa-apa. kalau memang semua semata memuaskan rasa penasaran, lantas mengapa aku menangis? mengapa aku kehilangan?

Apakah aku jatuh cinta padamu? Aku mulai merutuk.

aku benci rasa kehilangan ini. karena hanya aku yang merasa. hanya aku yang menerjemahkannya beda.

Sepertinya demikian. Kemudian tanpa sadar ingatanku kembali ke tahun 2010, saat pertama berkenalan denganmu. Pada pandangan mataku pertama tertuju di linimasamu, aku mulai bergetar jatuh cinta.  Aksaramu menari gemulai. Di jemarimu, berbagai diksi seolah mengantar pembaca pada imaji yang berkelana.

Tak terpikir bagiku untuk bisa pusing memikirkan kamu seperti sekarang. Mengapa aku pun menangis ketika menulis ini, entah. Sampai dengan konyolnya aku seperti orang depresi menulis seperti ini:

cintai aku. sedikit saja. sesaat saja. agar aku bisa merasa (pernah) ada di sisi hatimu. mewarnai ruang sepimu.

Padahal jelas-jelas kamu tidak mencintaiku. Tak bisa jatuh cinta padaku juga. Sederhana saja, karena masih banyak yang lebih baik daripadaku untuk bisa kamu jatuhi cintamu.

Saat ini, aku hanya sedang ingin menikmat kenangan tentangmu di Braga. Itu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s