Still Want Me Do My Best?

She was kind of exciting
A little crazy, I should’ve known
She must have altered my senses
As I offered to walk her home

Nola merapikan tas ranselnya dengan tergesa. Salah lagi. Salah lagi. Selalu seperti ini. Rasanya gadis itu sudah memasang alarm dengan benar di ponselnya. Pukul 15.00 WITA dia pastikan akan berbunyi. Sekarang sudah 15.45 WITA. Pesawat tujuan ke Cengkareng akan berangkat se… se… setengah jam lagi! Ggggggrrrrhhh…. Android ini menyebalkan! Secepat dia mampu, berlari meraih kunci mobil, ke garasi dan menyalakan mesin dengan kepala berputar.

Baru saja hendak memundurkan mobil double cabin hitam metaliknya, seseorang mengetuk kaca. Mang Adin. Nola membuka kaca dengan enggan. “Apa lagi?”

“Maaf, Non. Ini jaketnya ketinggalan di sofa,” Mang Adin menyerahkan jaket kulit berwarna cokelat kepada Nola dengan hati-hati. Gadis itu mengambilnya dengan kasar. Mang Adin terenyak namun langsung menguasai diri.

Nola langsung menutup kaca dan meninggalkan Mang Adin yang tersenyum pasrah.

***

Mang Adin baru saja membereskan sisa rumput yang dia rapikan seharian di halaman seluas hampir 600m2 itu. Sendirian. Pahadal matahari sudah bersinar dengan galaknya sejak pukul sembilan pagi. Nola, tak sadar memperhatikan dari beranda kamarnya di lantai dua. Gadis itu sedang menyelesaikan makalah wirausaha bersama Hendi dan Donnie. “Nola!” Hendi melempar kaleng soda bekas ke arah gadis berambut keriting itu.

“Apaan sih?” protes Nola kesal.

“Sebulan elu di Jakarta, begitu pulang jadi aneh. Lah elu ngapain dari tadi ngeliatin tukang kebon lu itu? Iya dia emang putih, bersih, ganteng, santun. Gak cocok banget jadi budak lu. Naksir?” seloroh Donnie. Nola spontan melotot.

“Kalo gak ya gak usah gitu juga kaleeee,” Hendi mencibir malas.

“Cowok aneh. Kenapa juga Papa terima kerja di sini? Apa maksudnya? Sudah setengah tahun, sama sekali gak pernah denger dia itu bersuara kecuali hal yang mendesak dan ditanya Papa. Pelit suara,” gumam Nola.

Hearts will break
’cause I made a stupid mistake
It can happen to anyone of us
Say you will forgive me

*****

Suara di ruang kerja Papa. Tapi tampaknya tak hanya sendiri. Sayup terdengar dengan lampu yang masih menyala terang. Nola yang penasaran mencoba mendekat perlahan. Ini sudah terlalu larut bagi Papa untuk menerima tamu. Nola melihat ke arah jam dinding. Apa? Pukul satu? Gila apa ya? Nola semakin ingin tahu.

“Tapi, Pa…” suara tertahan seorang pria. Nola merasa mengenalinya.

“Jangan pernah panggil aku Papa! Berapa kali aku bilang? Jaga kelakuanmu!” gelegar suara Papa.

“Saya akan terus memanggil Anda Papa. Agar Anda menyadari bahwa saya pun anak Anda. Kenyataan berikut adalah, saya mencintai Nola. Sangat. Anda tahu apa artinya itu,” si pria entah siapa itu semakin yakin dengan suaranya.

“Kamu…”

“Ya, saya! Jika Anda tidak mau mengakui saya, terima saja kenyataan apabila suatu suatu saat saya akan menikahi Nola. Anda suka atau tidak. Terima atau tidak. Sebaliknya, apabila Anda mengakui saya, tentu saya akan menjadi kakak yang baik bagi Nola.”

“Jadi ini tujuanmu selama ini?”

“Ini hanya sebagian kecil, Pa. Saya tidak akan berada di sini tanpa alasan utama,” suara pria itu bergetar.

Agak lama hening sampai akhirnya suara Papa ragu bertanya, “Lastri?”

Nola tercekat. Lastri? Apakah yang dimaksud adalah Tante Lastri Kusumaratih? Pria itu siapa? Ketika Nola hendak mengintip lebih dekat, seseorang menyergap dan menutup mulutnya kemudian menyeretnya menjauh dari pintu ruang kerja Papa.

Di dapur.

“Mang Adin! Apa-apaan sih?” jerit Nola tertahan.

“Non, jangan nguping terlalu jauh. Jangan sampe Non sendiri menyesal. Nanti saja. Suatu saat Non pasti tau,” bisik Mang Adin berusaha menenangkan Nola.

“Siapa pria itu, Mang? Ngaku anak Papa? Tante Lastri? Yang bener aja dong!” Nola masih emosi.

“Bukan seperti yang kamu dengar, Non. Jangan langsung percaya begitu saja. Mungkin dia mau memeras Tuan. Sabarlah sebentar.”

“Kamu malah nyuruh aku untuk sabar? Gila ya? Seseorang ngaku anak Papaku dan aku disuruh sabar?”

“Non, suatu saat nanti pasti ngerti. Tapi gak sekarang,” tajam Mang Adin menatap Nola yang justru membuat gadis itu terenyak.

“Matamu seperti kukenal… Mata teduh seseorang yang selalu menaungiku…”  Nola mencoba mengingat sesuatu namun Mang Adin langsung mengalihkan pembicaraan.

“Ya udah sekarang Non istirahat. Untuk tamu Tuan malam ini sih biarin aja. Nanti Tuan akan bicara pada Non. Percaya deh.”

Nola masih hendak protes namun Mang Adin memintanya segera masuk kamar. Entah mengapa, Nola menurut saja.

****

Ibu, semua rahasiamu tetap aman bersamaku. Sudah cukup aku membuat pria itu terusik dari pemikirannya tentang kita. Aku akan tetap menjaga Nola sebagai Adin. Biarkan saja…

~ Alvin ~

#30HariLagukuBercerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s