Here I Stay Just For A While

Tell me your secrets, and ask me your questions
Oh let’s go back to the start
Running in circles, coming in tails
Heads on a science apart

“Ulangi,” bisik Firman dengan tatapan tajam. Aku menelan ludah. Aku baru duduk setelah latihan teater barusan.

“Apa yang harus kuulangi?”

Nobody said it was easy
It’s such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh, take me back to the start.

“Kamu ulangi lagi gerakanmu tadi. Salah! Kurang cepat. Bahumu jangan turun!”

“Tapi Mas Edo…”

“Dia sutradara gak becus! Dan jangan mentang-mentang dia pacarmu, terus seenaknya nyuruh kamu berakting buruk kayak tadi.”

“Firman!” Aku beradu tatap dengan cowok yang baru kukenal saat mulai ikut audisi film terbaru Eduardo Wijaya, sutradara muda yang mulai mendapat banyak perhatian kritikus sinema.

“Aku penata gerakmu, bukan dia. Jika aktingmu buruk, semuanya akan terlihat jelek. Film jadi murahan karena akting para pemainnya buruk. Kamu paham? Gak? Sudah berapa kali main film? Siapa aja sutradaranya? Kalau baru pertama kali ini, gak usah sengak. Nurut aja,” Firman semakin pedas. Dia berlalu setelah dipanggil bagian sound system.

Aku merasa déjà vu  dan bingung. Wajah cowok kurus itu sepertinya akrab. Tapi di mana ya pernah melihatnya. Kenapa dia berani berkomentar pedas kepadaku? Apakah dia melakukannya hanya kepadaku atau pada yang lain juga sama? Aku semakin tak mengerti. Baru bertemu tiga bulan, tetapi dia seperti hendak menelanku bulat-bulat.

“Kamu masih tak ingat siapa dia, Ly?” tanya Nuning yang ternyata ada di belakangku sejak tadi.

“Hah? Siapa? Firman? Kamu kenal dia? Eh, kamu dengar semua tadi kata-kata dia juga ya?” aku gelagapan.

“Iya, aku dengar semua. Gak sengaja sebenarnya. Aku mau ke Mas Edo, trus melihat kalian berdua. Kamu benar-benar tak ingat siapa dia, Ly?” ulang Nuning seperti mendesak.

Dadaku bergemuruh. Sepertinya ada yang salah. Sepertinya ada yang aneh. Kepalaku sakit. Siapa Firman? Mengapa Nuning terlihat sangat penasaran jika aku tak mengenal Firman.

Aku menggeleng pasrah. Aku benar-benar tak tahu siapa Firman. Semakin aku berusaha mengingatnya, semakin kepalaku berdenyut nyeri. Napasku tersengal. Aku mulai menangis. Nuning memelukku.

“Jangan paksakan. Semua akan baik-baik saja. Perlahan, nanti kamu akan ingat,” bisik Nuning lembut. Penata rias kesayangan semua orang itu mengusap punggungku hingga napasku kembali teratur.

“Dengarkan semua kata-kata Firman. Kamu akan mengenalnya kembali. Nah, sekarang, pergilah ke ruang ganti,” Nuning tersenyum hangat. Aku mengangguk patuh.

Kengerian menjalar. Aku merasa panik. Kontrak pertunjukan teater ini akan berakhir dua bulan lagi. Aku dengar, Firman akan pindah ke Kanada. Mendadak, ada rasa rindu yang menyakitkan. Entah mengapa. Entah bagaimana.

Aku berjalan ke ruang ganti sambil terhuyung. Rasanya keanehan ini harus segera berakhir. Tetapi aku tak tahu caranya. Siapa aku sebenarnya? Mengapa Firman menjadi sangat penting untukku?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s