My Man In You

Pandangan semua orang yang ada di Teras Cafe terhenti ketika sebuah Harley Davidson mematikan mesinnya dan si pemiliknya (mungkin?) turun. Polo shirt warna biru laut dan jaket kulit yang pastinya sangat mahal membuat si pemakainya tampak semakin tak terjangkau. Sepatu kulit mengilat (hm, apa ya mereknya?) dan Levi’s yang memperlihatkan pantat seksinya juga semakin membuat para wanita di sana menahan ludah. Hwaduh Tuhan, itu malaikat ya?

“Any man of mine’ll say it fits just right
When last year’s dress is just a little too tight
And anything I do or say better be okay
When I have a bad hair day”

Seorang wanita masih tetap sibuk menatap iPad dan sebuah notes di samping kanannya. Jemarinya memutar pensil dan sesekali kepalanya bergoyang. Ear phone membuatnya merasa dunia hanya miliknya. Dengan make up tipis justru membuat kecantikannya semakin terlihat tampak alami.

Pria berpantat seksi itu mendekati si wanita dan mencium pipi sambil mengacak rambutnya. “Jangan makin ngerusak rambut gue deh!” protesnya merasa terganggu. Si Pria terbahak.

Bad hair day, heh? Vina, kamu abis ngapain? Latihan berkuda lagi dan langsung ke sini? My lovely girl… Lagi ngapain sekarang?” suara tenornya benar-benar menggoda!

“Biasa, nyari inspirasi. Andre, kamu bawa pesananku gak?” wanita bernama Vina itu menengadahkan tangannya menagih sesuatu.

Andre tertawa lagi. “Vin, kamu gak sabaran banget sih? Nih!” Andre mengeluarkan sebuah kotak berbungkus kertas warna krem. Vina bergegas membukanya dan menahan nafasnya. Ia menatap Andre penuh binar.

You did it, Darling,” Vina mulai menangis. Andre mencium hangat bibir Vina.

“Kamu sudah menemukannya, Vin. Ini yang terbaik bagimu? Just do it, Sweetie,” Andre tersenyum melihat Vina membolak balik piringan hitam itu.

“Kamu tahu bahwa aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kita. Jadi kuminta kamu melakukannya dan kamu berhasil. Tuhan, piringan hitam ini kucari sampai ke New York bulan kemarin, tetap nihil. Ini kamu temukan di… Roma? Ah, betapa sebuah piringan hitam telah berkeliling dunia,” celoteh Vina kenes.

“Dia seperti menunggu untuk dijemput,” seloroh Andre.

“Nilai emosionalnya tinggi, Ndre. Hanya ini yang bisa menguatkan kita,” gumam Vina lirih.

Seorang pria lain datang mendekat. “Vina?” panggilnya dari jarak sekitar lima meter.

Vina dan Andre menoleh ke arah suara tersebut dan mereka saling berpandangan. Vina tampak salah tingkah.

“Well any man of mine better disagree
When I say another woman’s lookin’ better than me
And when I cook him dinner and I burn it black
He better say, mmmm, I like it like that yeah”

“Indra. Hai,” jawab Vina datar.

“Hai, Ndra,” Andre bangkit dari duduknya dan menyalami Indra. Pria itu tampak kaku dan mengangguk efektif.

“Aku mau menjemputmu, Vin. Mama menunggumu,” suara Indra tak basa-basi. Vina mengerang.

“Aku bisa pulang sendiri,” ketus Vina dan menampik uluran tangan Indra. Andre sengaja diam  melihat keduanya bertingkah seperti itu.

“Bilang Mama, keputusanku sudah final. Tak ada lagi yang harus didiskusikan. Terserah Mama dan Papa mau bilang apa. Kamu pun tak perlu bertanggung jawab apa pun. Puas kan? Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu, Ndra?” Vina menatap tajam Indra.

Andre merapikan semua barang Vina dan tinggal menunggu gadis itu mengajaknya pergi.

“Indra, kamu tak berutang apa pun padaku. Lupakan saja semua janji kamu pada Mama. Abaikan. Tak perlu ada beban. Sudah ada Andre sekarang. Kamu paham? Aku pergi,” Vina bersusah payah bangun dari duduknya. Andre dan Indra berebut membantu dan Vina menepis keduanya.

“Heh, aku gak serapuh itu!” hardik Vina sebal. Dia melangkah cuek sambil tetap sibuk dengan iPhone-nya.

Gerimis mulai turun. Indra menatap punggung Vina hingga perempuan itu naik ke Harley milik Andre. Sebelum pergi, Vina memberikan secarik kertas pada Indra.

‘Indra yang baik,

Kamu harus tahu satu hal saja.

Aku pernah melakukan kesalahan yang tak aku sesali ketika bersamamu.

Tetapi maaf, aku tak bisa menjalani hari-hari terakhirku bersamamu.

Biarkan aku bersama Andre atau siapa pun yang aku mau.

Dengan begitu, aku bisa tenang mengenangmu sebagai bagian yang terbaik dari hidupku.

Vina.’

Seluruh tamu cafe sudah kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Indra, melipat kertas itu perlahan, berjalan ke arah yang berlawanan.

Hujan turun deras secara mendadak.

#30HariLagukuBercerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s