Ketika Sebuah Pilihan Bukanlah Sejatinya Pilihan Itu Sendiri

Lebih baik jadi yang kedua karena kita bisa diutamakan, daripada yang pertama tadi diduakan…

(Mang Ujang)

Lagi-lagi, aku mendapat sebuah kalimat sederhana itu dari seorang Mang Ujang. Tapi kok ya #makjleb. Yang lebih baik ada gak sih? Ya ada dong. Menjadi satu-satunya. Menjadi yang utama. Tetapi itu sebuah bentuk ideal yang sama-sama dipertanyakan…

Menjadi satu-satunya berarti mengharapkan kesempurnaan sementara siapalah kita ini? Tak ada yang bisa sesempurna itu. Ini juga yang menjadi pemikiranku dan penelitianku (yang absurd dan tidak ilmiah, jadi terserah kalau mau diabaikan.) beberapa bulan terakhir ini. Berbagai bentuk hubungan sudah kupelajari.

Salah satu sahabatku berkata,”Kalo dah punya keluarga tuh sebenernya kita menggadaikan kebebasan kita untuk kebahagiaan dan keutuhan keluarga.” Dan ini ternyata dialami oleh banyak temanku (jika tidak bisa dan tak boleh disebut mayoritas). Salah satu temanku yang lain bilang, “Gue orang bebas. Gue nikah karena terpaksa. Jujur, dulu MBA. Tapi bini gue juga nyadar gak bisa nahan gue untuk lama di rumah. Dia juga nyadar kalo bisa aja gue punya selingkuhan di luar sana.” Aku hanya diam mendengarnya.

Jujur, kenyataan ini mengerikan. Banyak yang kutemui di kehidupan nyata orang-orang yang kukenal, baik yang dekat atau selewatan. Ketika pasangan resmi bukanlah yang sesungguhnya mereka cintai. Ada sebuah hati yang lebih memesona dan mereka butuhkan namun tak bisa diraih apalagi direngkuh erat.

Tak hanya pada teman-teman priaku, yang perempuan ternyata sama. Suami mereka bukanlah soul mate yang utuh mereka bayangkan. Jiwa mereka terus mencari. Namun ketika menemukannya, mereka hanya bisa meringis.  Menangis diam-diam. Mencoba memberi seluruh hidupnya bagi pasangan yang sah. Meski sulit. Meski itu artinya membohongi dirinya dan juga menyakiti semua pihak.

Lantas mengapa menikah?

Kemudian, mengapa tetap dipertahankan?

Kedua pertanyaan itu bukan kapasitasku dalam menjawab. Kembali pada diri sendiri.

Bahagia Itu Pilihan

Dalam agamaku, perpisahan (perceraian) adalah sesuatu yang dibenci Allah. Ya, memang. Tetapi, bila kemudian hubungan itu lebih banyak mudharat dan justru berpotensi melukai banyak pihak, masih layakkah dipertahankan. Oh, aku bukan menyarankan jalan terburuk itu. Jalan itu jika semuanya mentok. Tentu saja, maunya sih awet hingga maut memisahkan.

Dan, semua ingin akhir yang bahagia. Tetapi prosesnya itulah yang mendewasakan. Apa yang kita pilih. Siapa yang kita pilih?

Kita tak pernah mengetahui masa depan seperti apa yang akan dihadapi.

Beranikah kita untuk bahagia????

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s