Aku Ingin Menanggung Semua Sepi

Sedikit rasa cinta yang ingin kurasa
Sedikit rasa sayang yang ingin kurasa
Tolonglah tolong aku hanya sebentar saja
Maukah kau kiranya melakukan itu

Aretha mengigit pensilnya sambil melamun. Kebiasaannya ketika “menunggu wangsit dalam menulis”. Alvin tersenyum geli. Ia memeluk gadisnya dari belakang. “Retha, kalau saja besok tidak ada jadwal on duty, rasanya masih ingin bersamamu,” bisiknya lirih.

Aretha melepas pensilnya dan meraih lengah Alvin untuk lebih erat memeluknya. “Menyebalkan. Masa sih kangen yang ditumpuk selama hampir setahun hanya bisa dipuaskan dua hari?” suara manjanya membuat Alvin tertawa kecil.

“Daripada gak sama sekali?” Alvin mencium pipi Aretha.

“Padahal waktu kamu di sini hampir dua minggu,” Aretha mengisyaratkan sesuatu. Alvin mengerang.

“Aku tahu itu, Retha. Tapi kamu pun pasti tahu alasannya kan?”

Aretha tak menjawab. Ia melepaskan pelukan Alvin tan beranjak ke tempat tidur.  Alvin menghela nafas dan menyusul Aretha. Memeluknya kembali dari belakang hingga gadis itu tertidur.

Kesalahanku yang sengaja
Kebohongan yang tak ku sesali

Alvin membereskan tasnya. Sekali lagi ia menatap Aretha yang sedang terlelap. Mencium keningnya dan bergegas keluar kamar sebelum pikirannya berubah. Alvin terus berjalan hingga ke parkiran. Dibaca sekali lagi BBM yang masuk sepuluh menit lalu:

√ Papa cepetan pulang. Fahmi demam tinggi.

Dari Mirna, istrinya.

Alvin menyandarkan kepalanya ke kemudi dan merasakan denyut di kepala yang semakin membuatnya nyeri. Terngiang kata-kata Aretha siang tadi, “Vin, kita gak pernah mau terjebak dalam keadaan ini kan? Tapi apakah kita juga bisa mengelak? Gak pernah kebayang sama aku sebelumnya. Aku pun tak mengerti kenapa juga kita gak langsung memutuskan saja hubungan ini. Kenapa kita tetap saling bergantung? Mungkin karena kita gak pernah tau masa depan.”

Dan Alvin pun masih ingat kata-katanya sendiri pada Aretha sore ini, “Retha, resiko menikah ya seperti ini. Harus mengorbankan kebahagiaan sendiri demi keutuhan rumah tangga. Aku bertahan selama ini dan baru menyadari bahwa aku mempertahankan sesuatu yang rapuh. Bila ditekan sedikit akan hancur.”

Aretha membisikkan sesuatu pada saat makan malam, “Vin, aku bersedia menanggung semua beban dosa ini. Menunggumu yang hanya pulang nyaris setahun sekali, berlayar di tengah lautan. Meski Mirna pun menunggumu, aku tahu ke mana hatimu sesungguhnya kembali.”

Alvin semakin didera rasa bersalah. Pada Fahmi, Aretha, dan Mirna. Diteguknya sekaleng bir yang diambil dari dashboard. Keputusan itu harus diambil. Apa pun itu, semua ada resikonya.

Ya, mungkin.

——

#30HariLagukuBercerita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s