It Is Not About The Number

Love hurts you sometimes
It’s not so easy to find, no
Searchin’ everywhere, you turn and swear
It’s always been there

Bogor, 1 September 2012

Tania melempar tasnya begitu saja hingga menarik perhatian Robbie. “Ada apa lagi sekarang?” tanya pria berkacamata itu dengan tatapan mau tahu. Tania balas menatap dan menghela nafas.  Ia mendekati Robbie dan menciumnya penuh rasa ingin terpuaskan.

“Aku jengkel,” jawab Tania melepaskan ciumannya. Robbie mengubah posisi duduknya untuk menyimak.

“Papa tetap menyuruhku untuk melanjutkan S2 di Tokyo. Tak boleh ada bantahan lagi. Sudah kubilang pada Papa bahwa aku gak akan pernah mau lagi ke Tokyo. Kamu tahu kalau Papa tak pernah bisa percaya. Aku harus gimana, Rob? Sungguh, aku gak mau ke sana lagi… Menyakitkan,” suara Tania mulai bergetar.

“Tan, kurasa wajar Papa bersikap seperti itu. Kamu mungkin gak tau gimana terlukanya Papa dengan apa yang pernah terjadi padamu. Mengembalikanmu ke Tokyo bukan berarti Papa kejam padamu, Tan. Percaya deh,” Robbie meraih Tania ke dalam pelukannya.

“Tapi Rob…” Tania hendak protes namun ciuman dan pelukan erat Robbie menahan semuanya.

Tokyo, 1 September 2010

“Bukan begini caranya, Ken,” desis Tania melemah dan memohon ampun ke arah Ken yang menghunuskan pisau dapur ke pinggang kirinya.  Penglihatannya mengabur dan sebelum semuanya gelap, sayup Tania mendengar suara Papa.

Sepuluh hari Tania koma dan mendapat perawatan super intensif. Papa berhasil membuat Ken ditahan dan mendapat hukuman yang sesuai, tetapi gagal mengembalikan semangat hidup anak tunggalnya itu. Tania berulang kali hendak bunuh diri. “Daripada aku dibunuh Ken, lebih baik aku mati duluan, Papa!” jerit Tania setiap kali trauma itu muncul.

20 Agustus 2012

Love takes a little time
It’s not so easy to find, no, no
Searchin’ everywhere, you turn and swear
It’s always been there

Ken baru berkonsultasi dengan pengacara dan psikiaternya. Ken sudah merasa siap untuk bebas dari penjara, tetapi psikiaternya sangsi. Seminggu lalu dia mendapati Ken sedang berhalusinasi tentang Tania lagi. “Tuan Murayama, saya hanya sedang rindu padanya. Saya tidak menyakitinya lagi. Saya dengar dia akan datang. Benarkah?” tanya Ken penuh rasa penasaran.

“Kamu hanya bermimpi,” jawab dokter Murayama dingin.

“Dia yang akan menggenapi cinta saya. Sempurna,” senyum Ken mengembang dengan mata terpejam.

Dengan membayangkan tubuh terlentang di sofa panjang yang empuk milik dokter, Ken mendesah dan bergumam, “Dia yang pertama. Akan selalu menjadi yang pertama. Gadis Sunda yang enerjik dan penuh pesona.”

4 September 2012

“Aku mencarimu, Tania. Akan terus mencari. Kutunggu kamu di Tokyo atau aku yang akan ke Bogor.” Sebuah pesan masuk di kotak masuk surat elektronik Tania pada pukul 03.30 pagi. Gadis itu membacanya pada pukul 07.45 pagi.

Sebuah jeritan panjang terdengar.

=====

#30HariLagukuBercerita

4 thoughts on “It Is Not About The Number”

        1. banget pastinya. cuman kemarin itu aku rada hectic. jadi gak sempet kepikiran mau mendeskripsikan detail traumanya. geregetan karena di otak udah ter-setting mau nulis apa🙂

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s