The Bastards Whom I Know As The Best One

Judulnya gak nahan, maaakkk!!😆 (updated 1 September 2012)

Biasalah, lagi iseng-iseng survey. Dan tulisan ini juga geje kok. Daripada nyampah di temlen twitter atau fesbuk, mending di sini🙂

Enam bulan terakhir ini aku berkenalan dengan banyak bajingan kelas hiu… Juga banci kelas ubur-ubur. Ahahahaha… Dari mereka aku mengetahui banyak rahasia yang “unspoken” dan “unbelievable”🙂 Justru, dari mereka pula aku belajar menjadi lebih bijaksana, waspada, dan periang. Aneh?

Begini: Justru karena mereka bajingan, aku jadi mengetahui busuknya pria. Kelemahan pria sekaligus kekuatannya terekam jelas di setiap tutur kata dan tingkah lakunya. Menarik. Menantang. Mereka, ironisnya, lebih dewasa dan cukup berpendidikan. Lebih cerdas.

Menjadikanku lebih waspada. Tentu saja! Agar tak termakan rayuan najis tralalanya mereka😉 Tetapi, karena tagline aku adalah “am a flirt but not a bitch”  cukup cocok diaplikasikan dalam berhubungan dengan mereka. *nyengir* Menantang insting perempuanku yang lumayan mudah meletup bila bertemu jenis mereka itu. Uwow!😀

Aku lebih periang? Ya, benar sekali. Beberapa teman menyadari bahwa aku sudah kembali seperti An-an yang dulu.😉 Ah, kehadiran para bangsat itu membawa nilai positif juga ternyata! Ahahahaha… Aku bisa tertawa lepas lagi, nyaris tanpa beban pikiran (kata mereka, “Udahlah, An! Hidup udah terlalu berat. Jangan ditambah lagi dengan galau elu itu!),  dan juga membuatku lebih santai. Cuek. Sudah cukup aku stres dengan pekerjaan sajalah, kehidupan pribadi jangan ikutan seperti roller coaster (meski pada kenyataannya memang lebih parah seperti halilintar).

Perkenalan dengan B, jelas membuka mataku tentang dunia mereka. Padahal aku punya teman bajingan itu dari jaman sekolah. Pemabuk, pencuri, penzina, dan bahkan pembunuh pun aku kenal. Tapi mungkin faktor waktu dan usia membuatku justru bisa lebih memahami dunia hitam itu.

B, dengan caranya sendiri memperkenalkan dirinya sebagai bajingan. Tanpa basa-basi. Dia bilang bahwa pria memang ditakdirkan untuk memilih antara menjadi bajingan atau banci. Hm, aku pernah baca di twitter, entah siapa yang ngetwit. Dia memilih jadi bajingan. Karena dengan begitu, kelaki-lakiannya tetap terjaga. Wew ah!

Dengan J, yang mengaku juga sebagai bajingan, aku mengenal dunia yang kelam. Masa lalu yang terlalu sakit hingga membekas jejak sebuah trauma abadi. Dia memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Menyakiti dirinya tanpa ampun. Tetapi dia tak sadar jika dia pun menyakiti orang-orang yang mengasihinya.

Tetapi J masih mau berubah. Dia bilang, seandainya diijinkan Tuhan untuk menemukan seseorang yang dapat memenuhi apa yang dia cari, dia baru akan berubah. Sementara itu, dia akan tetap berkeliaran. Liar.

Ketika aku mengenal K, sama sekali tak terpikirkan bahwa dia adalah tipe bajingan. Looks neat enough. Tapi ternyata, beberapa sumber justru mempertegas bahwa dia juga bangsat. Meski… Belum 100% bisa dibilang demikian. Sisi bancinya agak mendominasi. Dia masih ragu untuk bergerak maju dan berinisiatif.😉

He is smart enough and always can debate me in every chance. Dia, dengan caranya, selalu menggugat pernyataan sarkastik dan pesimisku dalam satu waktu. Dia yang memprotes ketidaksabaranku dalam menghadapi sesuatu. Dia tahu aku sangat manja dan justru dengan santainya dia tega membuatku lebih mandiri. Beuh!

Terakhir untuk saat ini adalah P. Dengannya, aku mengetahui dunia bajingan yang berbeda. Meski aku sering mendengar cerita semacam itu, tapi berhadapan langsung dengan pelakunya membuatku terkaget-kaget. Dia orang yang asyik diajak bercanda. Juga untuk diskusi hal yang serius. Dia bijaksana🙂

Dari P aku belajar arti berekspresi tanpa beban. Kalau kata iklan sih, “eskrepsinya manaaaaaaa?” Ahahahaha… Dia yang justru membantu mengeluarkan sisi kegilaanku. “Aku tau kamu tuh bisa lebih santai dari ini. Ayolah, An! Hidup ini jangan dibikin kaku!” Dia benar.🙂

The lastest one is L. Lupa untuk menyebutkan dia. Jangan tanya alasannya. Dia yang selalu bisa membuatku ingat siapa diriku dan mengapa aku ada. Untuk menulis dan menyuarakan kegelisahanku dalam cara yang berbeda. Dia benar-benar tipe anti mainstream. Beda.

Setiap aku menanyakan sesuatu, dia bilang tak suka atau tak minat. Melawan arus. Tetapi hasil karyanya keren. Dikenal dengan karya yang bernuansa gelap, tapi justru menonjolkan siapa dia. Dia tahu bagaimana menempatkan dirinya di tengah kegilaan jaman.

-=-=-=-=-=

Nah, dari kelimanya hingga aku menulis ini, kudapatkan warna lain dalam hidup. Bagaimana kehidupan mereka pun tak semudah yang dibayangkan. masa lalu mereka semua justru yang membuat mereka berbeda. Bijak menghadapi segala persoalan dan tetap maju menyelesaikan semua rintangan.

Mereka sih tetap asyik aja meski dicap bajingan tengik sekali pun. Karena mereka punya prinsip, “Gue gak ngerugiin orang. Gue gak makan sama orang. Gue mau jungkir balik urusan gue!” Tapi tetap mereka bisa menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Ah, udah kepanjangan ya nulisnya?😀 Maaf, lagi iseng aja. Tentang video youtube di atas, itu iseng aja. Lagu kesukaanku. Hehehehe…

~di suatu malam, merindukan mereka teramat sangat~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s