Tema Basi Bernama J-O-D-O-H

Ayeyeye…. Dikeprokin massal. Beuh.

Ini alasanku membuat postingan “rada geje” begini:  @ahmadgozali: Diamini dari tanaah suci. “@andiana: Bisik lirih pada Sang Penggenggam Asa: tahun depan sudah punya imam saat Ramadhan ♡”

See? Mas Gozali, sekali lagi mendoakanku. Di hari terakhir Ramadhan. Tepat ketika azan Subuh berkumandang. Imbasnya, minimal 7 RT dari tweet aku terima and it may still counting… Soalnya follower mas Gozali kan banyak banget 😀 Merinding loh… Didoakan dari tanah suci dan diamini banyak orang… Allah, asli deh aku nangis…

Hasilnya, ada seseorang mengenalkan saudaranya padaku di tab mention. #glek Iya, ganteng dan keliatan macho. *ya trus?* Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih padanya dan kembali menyerahkan semua urusan pada Allah.

Sementara itu, godaan pun bertebaran di sekitarku. Banyak pria yang menarik perhatian. Oh ya, aku memang membuka hati dan mata selebar-lebarnya dengan tameng super kokoh agar tak mudah tersakiti. #tsaaaahhh Dan aku memang lebih mudah tertarik pada pria yang cerdas. Ganteng nomor sekian. Kalau dia bisa mengimbangi pemikiranku apalagi mampu mendebat semua ucapanku, itu baru keren. Tak heran aku sering terlibat pertengkaran bermutu bersama pria yang dekat denganku. *kerjaanku emang bikin rusuh dan panas* 😆

Sejak aku menjadi single parent, sama sekali tak terpikirkan untuk mencari kebahagiaan sendiri… Meski ada rasa membutuhkan teman diskusi, teman berbagi, seseorang yang memelukku dari belakang ketika aku rapuh, dan mencium keningku ketika rindunya ingin dibagi hanya padaku… (duh, sok lebay lagi deh!) Tetapi kebahagiaan anak-anakku lebih utama. Ketika mereka mempertanyakan kehadiran seorang ayah di rumah, barulah aku bergerak mencari. Mereka mulai merasa asing tak ada seseorang yang biasa dipanggil “bapak” di rumah. Maka, dengan bahasa mereka sendiri, selalu bertanya, “Mana Om Adie? Kenapa Om Zul gak ke rumah? Kapan Om Yusuf main lagi? Aku boleh ketemu Aa Abi?” Itu sudah merupakan sinyal dari mereka…

“An, maukah kau menunggu?” dia bertanya itu tiga kali.

Jadi, terkadang, meski menunggu itu menyebalkan… Aku akan bersabar demi seseorang yang akan menjadi imam di keluarga kecil kami. Untuk generasi Rabbani kelak… Insya Allah. Aamiiinn…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s