Antara Takdir, Doa, dan Kutukan

Serem kan pembahasannya siang begini tentang begituan? *ih apa sih, An?*

Gini deh biar gak bingung, aku mau cerita curhatan sahabat terbaikku semalam. Sila disimak:

Sahabatku (sebut aja Ahmad) hendak menikah dengan seorang wanita pilihannya. Sampai di sini, semua tampak wajar toh? Berikutnya: Mantan istrinya tidak rela. Aneh? Iya. Isi ancamannya adalah, “Kalau Papa menikah dengan (maaf-red) pecun itu, liatin aja entar anak Papa lahirnya cacat!” Dengan suara penuh emosi dan pikiran kalap. Baiklah.

Maka ini yang kutulis di twitter tadi pagi:

  • jika ada yang mengancam bahwa suatu saat bila kau punya anak akan lahir cacat, apakah kalian percaya?
  • jika yang mengancam itu merasa menjadi pihak yang terdzolimi, masihkah ada keraguan? percaya atau tidak pada ancamannya?
  • memang antara doa pihak yang terdzolimi dan Allah tak ada sekat. namun bagaimana kita bisa menilai dia itu terdzolimi atau hanya mengancam?
  • jika memang pada akhirnya di masa depan anak itu lahir cacat, karena takdir atau karena ‘kutukan’??? #seriustanya

Respon dari teman-teman sama. S-A-M-A.

@susyillona: GAK!! RT @andiana: jika ada yang mengancam bahwa suatu saat bila kau punya anak akan lahir cacat, apakah kalian percaya?

@_rndr:  • Kayaknya “doa” dan “kutukan” beda di mata Allah. Allah paling tahu apa yang dipanjatkan umatNya yg teraniaya sebelum ia berkata.

@_rndr: • Seandainya pun anak itu lahir cacat, percayalah itu bukan karena kutukan, melainkan ketetapan Allah. Dan itu ada maksudnya.

Aku bertanya pada Jaka (@_rndr) :  berarti, bukan karena “doa yang merasa terdzolimi” itu kan ya?

@_rndr: pastinya bukan. Allah mengabulkan doa. Bukan kutukan.

@agytta: Takdir RT @andiana: jika memang pada akhirnya di masa depan anak itu lahir cacat, karena takdir atau karena ‘kutukan’???

Nah, dari sedikit jawaban itu saja aku sudah mempunyai kesimpulan. Tentunya kalian juga kan? Kita, bersama Allah, yang menentukan takdir atau nasib di masa depan. Bukan campur tangan orang lain. Tentu saja, takdir Allah masih bisa berubah. Caranya? Doa. Doalah satu-satunya pengubah takdir.

Hanya Allah yang mengetahui, mana ucapan orang yang benar-benar terdzolimi, mana yang ancaman, mana yang ketakutan karena merasa tak aman, dan mana yang bercanda.

Masalah sahabatku ini sebenarnya sederhana. Dia dan mantan istrinya sama-sama ketakutan dan beberapa alasan dapat diterima, namun alasan lainnya dapat dipatahkan. Ketika menghadapi alasan yang dapat diterima inilah, sahabatku nampak tak berdaya. Aku menenangkannya dengan berkata, “Allah yang akan menentukan takdir, bukan dia!” Sementara alasan yang dapat dipatahkan adalah masalah materi, hal yang sungguh ‘cetek’ dan mengada-ada.

Kita tidak pernah tahu masa depan, maka jangan pernah menjanjikan apa pun. Ketika kita diberi kesempatan untuk berubah, maka cobalah untuk melakukannya tanpa harus menjanjikan apa-apan. Lakukan dan diam. Biarkan orang lain yang menilai apakah perubahan itu sudah sesuai atau belum.

Namun ketika di tengah jalan dalam tahap berubah itu ternyata ada juga hal yang perlu dimusyawarahkan, satu-satunya sikap kita yang benar adalah: tidak emosi berlebihan seolah besok kiamat! Itu bodoh! Think it clearly! Apakah benar bahwa perubahan yang terjadi dalam perubahan itu menyakitkan dan menyulitkan? Seberapa cerdas kita mengelola emosi? Manajemen marah dan manajemen ikhlasnya tolong dipelajari ya?

Sementara kutukan itu ya asalnya dari Allah, bukan karena ucapan negatif seseorang, KECUALI orangtua (menurutku, sila dikoreksi). Kuharap, siapa pun itu bisa dengan bijak membedakan mana takdir dan mana kutukan. Oh ya ini juga #selfnote untukku.😉

Jika hendak marah, maka marahlah dengan elegan dan tidak asal mengeluarkan ucapan negatif seperti itu.  Itu justru… Memalukan diri sendiri. Orang lain malah tak rugi apa-apa.😛

Mendoakan yang buruk pada orang lain sama saja melempar kotoran ke wajah sendiri. Yaaaa, aku juga harus memperbaiki cara ngomel pada orang. Ahahahaha….😆

Terkadang, ucapan buruk itu berubah menjadi dendam yang harus terpuaskan dan terselesaikan hingga tak ada penyesalan membuat hati nurani membatu. Itukah yang diinginkan setelah mendendam?

“Forgiveness is such a simple word. But it is so hard to do when you’ve been hurt. Although that is so hard, but i’m sure you can do that.”🙂

Kalau sudah begini, di taruh di mana rasa malu pada Allah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s