Do It All (Almost) Alone

Geeeezzzz…. *inhale exhale*

Can’t think anything clearly anymore.

Ah ya, tentunya aku harus sadar satu hal: lahir ke dunia ini sendirian. Tentu mati pun kelak sendirian. Lantas, kenapa harus pusing kalau mengerjakan semuanya sendirian selama hidup???

Manusia makhluk sosial. Memang. Tapi saking memiliki jiwa sosial malah jadinya sok sibuk. Nyinyir atau sarkas? BOTH!

Ya, aku sedang berusaha tenang ketika memikirkan kepindahan rumahku. Pengurusan surat rumah, transport, pajak, berurusan dengan pemerintahan daerah, packing all the fucking stuffs, ngurusin anak-anak (yang nyaris terlantar karena aku sibuk sendiri), kerjaan yang keteteran (utang tulisanku numpuk ya bo!), dan segala hal remeh-temeh lainnya.

Mau nangis? Bukan mau lagi. Saat menulis ini pun aku sedang menangis. Bukan karena aku cengeng, tapi karena nahan sakit kepalaku yang teramat sangat. Vertigo aku kumat. Rasanya mau pecah. Ditambah teriakan anak-anak berebutan mainan. Cakep deh!

Aku gak minta apa-apa sama Allah. Hanya dua hal: aku diberi kekuatan fisik dan pikiran selama mengerjakan semua ini, ditambah dengan kesabaran menghadapi anak-anakku. Fokusku terbelah. Anak-anak sih sebenarnya tak masalah. Tapi akunya yang have guilty feeling more than anything… *sigh*

Adikku sendiri pekerja kantoran yang tak mungkin bisa membantuku mengurus kepindahan rumah ini. Aku maklum dan aku berkata padanya bahwa semua baik-baik saja…. Well, i hope so.

Kalau saja aku tak punya rasa malu dan iman (meski tipisnya minta ampun), aku sudah memaki dunia dan seisinya. Hah, ini memang kelemahanku yang manja dan cengeng.

Pada akhirnya aku setuju dengan perkataan kangmas Robert, idolaku yang ganteng:

Apa pedulinya orang-orang dengan apa yang aku lakukan? Emang masih ada yang peduli? (langsung digampar para sahabat dan juga… patjar😀 ) Hihihi, pernyataan yang mengundang omelan tujuh hari tujuh malam. But anyway, aku ingin membuat para sahabatku bangga bahwa aku bisa menyelesaikan semuanya hampir sendirian (kalau campur tangan Tuhan sih itu gak masuk hitungan karena pasti adanya). Meski akhirnya aku marah-marah sambil menangis, mereka tahu bahwa aku memiliki keterbatasan. Setidaknya demikian.

Terima kasih untuk Sary, Ve, Kiki, Danny, Ichy, Nta, Saidah, Ndah, Vei, Alfa, Indra B7RU, Zul, Irfan, kang Wawan, kang Kipow, dan kang Sona untuk segala bantuannya baik moril dan materil sampai detik aku menulis ini. Doa kalian sungguh berarti saat aku membutuhkannya. Tanpa kalian, aku tak akan sekuat ini…

Allah, give me Your strength… More…

One thought on “Do It All (Almost) Alone”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s