Memaknai Sebuah Kata yang Hilang

Dulu, kupikir sudah memahami cinta dengan cukup baik. Sekarang, aku tak peduli lagi apakah aku sudah mengerti atau tidak sama sekali.

Cinta itu apa? Mengapa harus ada? Kapan sebaiknya bisa merasakan cinta dengan tepat? Siapakah yang pantas untuk dicintai dan mencintai? Di manakah cinta dapat ditemukan?

Masa depan seperti apa yang akan kuhadapi tanpa cinta. Cih! Pernyataan macam apa yang menyiratkan kebuntuan pemikiran seperti demikian? Membuktikan bahwa aku dhoif dan futur.

Aku selalu mencintai orang yang salah. Dicintai oleh orang yang salah pula. Apakah ini artinya aku memang tidak boleh benar-benar bahagia? Bagaimana caraku menilai sebuah hubungan yang sehat, mesra, kuat, dan langgeng bila aku sendiri tak merasakannya?

Munafik kan? Selalu saja banyak yang bertanya dan curhat tentang hubungannya dengan pasangan. Aku, menjawab semua pertanyaan bagai ahli dalam hal itu. Kenyataannya? Aku sendiri yang justru membutuhkan konsultasi. Ironis. Miris. Tragis.

Saat ini aku di posisi yang tidak mengenakkan. Mencintai dan dicintai seorang pria yang justru sebenarnya sama sekali tak boleh terjadi. Aku memilih untuk menjalaninya. Dalam diam. Aku mengetahui resikonya dan untuk itulah aku ada sekarang. Sudah tak ada lagi yang harus dieprdebatkan. Perasaan ini akan kalah bila berdebat dengan akal. Apalagi jika harus berhadapan dengan kata norma dan tabu. Apa pedulinya?

Sudah terlalu banyak cinta yang dianggap salah arah. Seringkali, mereka yang menganggap-kisah-cintanya-normal-dan-tak-bermasalah itu selalu saja merecoki dengan bereaksi negatif terhadap sesuatu yang mereka pikir tak biasa. Irrasional.

Aku pernah membahas cinta sahabatku sesama jenis. Ada yang salah? Mereka saling mencintai. Mereka tak merugikan orang-orang di sekitarnya. Mereka merugikan dirinya sendiri? Apa pedulinya? Itu urusannya sendiri. Aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan yang terbaik. Selesai. Mereka kadang lebih romantis daripada pasangan normal. Aku aja iri. Aku tak perlu menyebut nama mereka. Ada yang gay dan ada juga yang lesbi. Mereka terlihat kompak, mesra, bahagia, dan seolah dunia milik berdua. Gue termasuk yang ngontrak ya?😀

Cinta saudara sedarah yang kemudian kadang disebut incest meski tak selamanya benar. Ini pun dianggap abnormal karena tak seharusnya demikian. Faktor psikologis dan tekanan keluarga biasanya menjadi salah satu penyebab. Aku tak akan membahas ini.

Juga tentang cinta yang tak boleh diungkapkan. Sederhananya: Selingkuh. Bahasa gaulnya apa sih? Menikung? Well, untuk masalah yang satu ini, rumitnya melibatkan banyak pihak secara tidak langsung.  Ketidakharmonisan sebuah hubungan sangat rentan terhadap perselingkuhan. Kurang komunikasi dan kepercayaan juga bisa ditunjuk sebagai biang keladinya. Siapa yang salah dan siapa yang benar? Tak ada. Semua salah , tetapi semua juga bisa benar. Bukan pembenaran, tetapi lebih dari itu. Mungkin, inilah masalah pelik yang tak pernah habis dibahas dan dicerca dari jaman dahulu kala. *teuing ah!*

Makna cinta duniawi terlalu universal untuk digugat. Maaf aku gak akan membahas cinta pada Allah dan Rasul. Itu mutlak. Terlalu suci untuk seorang Diana yang masih kotor dan hina ini.

So, kembali ke pandanganku pribadi tentang cinta. Mau tau? NONSENSE!!! Gak usah bicara cinta sama aku! Sudah cukup berulang kali aku mencoba memaknainya, tidak pernah berhasil. Tak ada yang bisa meyakinkan aku bahwa cinta itu indah dan abadi. Bullshit semua!

Jadi, maaf aku sudah tak bisa lagi jatuh cinta seperti dalam dongeng Cinderella atau Aladdin atau apalah itu semua. Cintai saja aku, nanti baru kupikirkan untuk membalas cinta itu atau membuangnya ke tempat sampah. Selesai urusan.

~mencari makna cinta tak semudah membuka KBBI, sialan!~

5 thoughts on “Memaknai Sebuah Kata yang Hilang”

  1. *nangis tersedu-sedu* siapa pun kamu, dan entah bagaimana aku bisa sampai baca tulisan, hanya TUHAN yg tahu… karena aku sedang mengalami persis seperti yg kamu tulis… sakiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali rasanya. Kalau aku gak ada anak aku sudah ga mau bangun lagi di pagi hari. Hal ini membunuhku perlahan namun pasti. Bukan karena aku sangat mencintai pasanganku… hanya pengkhianatannya terasa sakit sekali. Hidupku rasa gelappppp sekali, diri ini rasanya nistaaaaaa sekali. Tiap helaan nafasku bagian sebilah pisau yg mengiris-iris jantungku… aku tidak sanggup hidup seperti ini. Aku bukan wanita matre, karena itu aku memilih suamiku sekarang…. karena aku tdk butuh uang…. aku butuh perhatian, kasih sayang, kejujuran dan kesetiaan. Tapi apa yg aku dapat?
    Tolong…. aku sudah berdoa…. tp aku masih terpuruk sekali…
    Aku sadar, suamiku bs spt itu pasti ada kesalahanku juga… tapi haruskah sampai merusak janji setia?
    Aku hanya bertahan krn rasa tanggung jawabku sudah melahirkan seorang anak lucu dan cerdas yg aku miliki skrg ini ke dunia….
    Tapi, aku tdk tahu akankah aku sanggup bertahan… aku hanya manusia yg lemah….
    Aku ga tahu harus buat apa lagi… bagaimana aku sanggup overcome ini semua….
    Sakiiiittttt sekaliiii….

    Suka

    1. dear Agony, kembalikan semua pada Tuhan. ketika aku menulis ini, egois dalam diriku masih menguasai. sekarang, aku sudah berdamai dengan diri sendiri. menikmati setiap jengkal cinta Tuhan padaku. kamu juga pasti bisa🙂 pasrahkan, berdoa dan mohon ampun pada Tuhan. Dia ada untukmu, bahkan saat kamu terpuruk sekalipun. dekati Dia. Tuhan ingin kamu mendekat dan mengemis cinta-Nya🙂 tetap bertahan ya sista!🙂

      Suka

    1. Sary… terima kasih🙂 iya, proses yang sungguh berat. sangat. ujiannya pun berlapis. pasti terasa olehmu kalau tulisan ini sangat emosional…. you know me so well, sista🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s