Ketika Aku Tetaplah Seorang Pengecut

Aku kembali menangis.  Hampir tak tahu harus bagaimana. Diam saja pun tak menyelesaikan masalah. Ternyata aku tak sekuat yang kupikirkan selama ini.  Aku bukanlah seorang fearless woman sejati. Masih terlalu banyak ketakutan yang menghantui dan memenuhi kepalaku hingga mau meledak rasanya. Hiperbolis? Bodo!

Selama 12 tahun aku berulang kali melakukan hal dungu yang tak seharusnya, tetapi mengapa tetap kulakukan? Keburukan yang semata 100% hasil kerja otakku tanpa ada ketetapan Allah, begitu? Ketika sebenarnya hati kecil sudah memberi sinyal waspada dan menolak, kemudian pikiranku malah memutuskan sebaliknya. Akhirnya, kekacauan selama satu dekade menghancurkan masa depan tiga orang: adikku dan kedua anakku. Tolol kok dipelihara sih, An?

Sampai di titik akhir aku meminta sesuatu pada Allah. Mungkin, permintaan ini sangat emosional. Tapi kok ya rasanya tak ada yang lebih pantas. Aku meminta pada Allah untuk menyepi. Sendiri. Begitu saja.

~ketika hati dan pikiran tak lagi mampu berbuat~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s