Ini Tentang Sekeping Hati

Entah apa yang harus aku tulis di sini. Tapi lagi-lagi aku ingin menangisi sesuatu yang tak penting. Oh ya, tentu saja tak penting bagi orang lain. Tidak bagiku. Penting, ya… Penting! Sangat.

Tentang sebuah hati yang mengapung di tengah samudra luas. Terik mentari, gelombang besar, ancaman hiu pemangsa, dan kelelahan mencari daratan… Hanya keajaiban yang bisa menuntun sepotong hati itu agar selamat dalam pencariannya…

Aku merasa seperti terombang-ambing.  Mempertanyakan makna dari sebuah kata ‘cinta’. Mungkin yang kumaksud di sini bukan cinta pada Allah dan Rasul yang tak boleh diduakan dengan apa pun. Ini tentang keduniawianku. Oh ya, aku menulis ini ketika sedang futur. Lah trus kenapa ditulis? Untuk pengingat. Untuk bahan renungan. Untuk muhasabah. Untuk tafakkur. (buset dah lu bahasanya, An!)

Bahwa aku tak akan mungkin bahagia bila belum mencintai Allah & Rasul sepenuh jiwa. Betapa akan rapuh dan menderita aku bila fokus mencari cinta fana yang tak akan bertahan lama dan tertinggal di dunia. Lantas ketika aku mati, yang kucinta di dunia pun akan melupakanku. Begitu?

Yang kualami selama ini, cinta dunia memang datang silih berganti. Jujur, aku bukan tipe yang bisa setia dengan orang yang sudah lebih dulu menyakiti. Sekali aku menangis, itu sudah cukup. Aku masih bisa mencari pria lain yang sanggup menghapus air mata dari pipiku dan merengkuhku dalam peluknya.  Ya, aku tentu saja hanya bisa setia dengan pria yang bisa membuktikan bahwa dia mencintaiku karena Allah. Mau berusaha menjadi imamku yang mengajariku bagaimana menjadi makmum yang baik.

di sudut ruang jiwa, sepi dan perih.

Sepotong hati yang terdiam kaku di sudut ruang jiwaku sedang meradang. Dalam waktu delapan tahun terakhir, terluka berkali-kali. Kusembuhkan sendiri dengan airmata penghambaan pada Allah. Berjanji pada-Nya untuk taat. Aku telah berusaha dan aku gagal.

Sudah cukup sekali. Maka kini, aku hanya ingin bermain untuk menyembuhkan luka. Mari, siapa saja dapat singgah untuk mencerahkan hatiku. Mewarnainya dengan biru, ungu, kuning, hijau, merah, cokelat… Apa pun! Aku tak akan memberikan hatiku lagi pada yang hanya ingin merendahkanku. Aku menantang siapa pun dengan nama Allah.

Aku di sini. Tak peduli hujan yang membasahi. Kutinggalkan payung entah di mana, agar aku dapat menari di antara rintihan bening yang dapat menyembunyikan airmataku…

#kamu, masih ada ruang di hatiku. boleh kau isi kapan pun. aku menunggumu pulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s