Three Days In Bandung With Krucils

Well… It was so amazing! Only three of us and everything were in my best control… 😉

Hari Kamis 26 April siang tiba di Bandung setelah naik bus 3 jam dari Depok. Langsung ke Kiaracondong naik angkot 2 kali. Harusnya sih sekali, tapi si supir angkot yang pertama nyebelin banget. Mentang-mentang isinya tinggal aku dan krucil, maen dioper aja seenak jidat. Dengan logat Batak yang kental, dia menyuruh aku pindah dan tetap memaksa menarik ongkos. Padahal setauku di mana pun yang namanya dioper gak perlu ngasih ongkos dong? Semoga dia gak sakit perut deh udah maksa minta ongkos dengan cara seperti itu.

Sampai di Kiaracondong, naik becak lagi ke dalam jalan Soma dan sudah kuberi ongkos 5000 masih ditagih lagi 5000. Yah, demikian juga dengan Anda ya Bapak tukang becak, semoga gak sakit perut.

Sampai di Penginapan Paksoma yang terletak di jalan Parepandan II, segera mendapat kamar yang sudah kupesan via sms. Lumayanlah untuk bermalam. Sangat sederhana tapi anak-anak nyaman. Tidur kan merem, jadi gak perlu juga kamar mewah 😛 Rekomen buat yang punya bujet terbatas seperti eikeh untuk penginapan tapi bujet gede buat belanja. #eh #abaikanbujetbelanja

Setelah krucil mandi sore, mereka asyik bermain di halaman homestay dan aku bekerja online sambil menyelesaikan tulisan. koneksi internet bagus tapi sinyal Esia langsung tewas. Beuh +_+ Tapi yang penting aku bisa online untuk checking tugas dan memantau bisnisku yang baru bertelur. *ayam, kaleeee*

Tidur di malam pertama di penginapan membuat anak-anak nyaman. Syukurlah 🙂 Aku pun tidur cepat karena hujan membuatku malah ingin segera berada di balik selimut, yang kemudian tarik-tarikan dengan krucil. 😆

Jumat 27 April. Bangun pagi, aku sudah diajak galau sama koneksi internet yang bikin emosi. LEMOT BLASSS…. Aaaaarrrggghhh…. Padahal sudah coba koneksi dari subuh. Untunglah sempat mengerjakan tugas dan ketika selesai, jeblok lagi deh tuh sinyal. #ngek!

Sarapan mie baso dan susu untuk anak-anak. Emaknya kebagian menjadi cleaning service aja 🙂 Selesai mandi dan berpakaian, kami langsung berangkat untuk jalan-jalan. Bingung mau ke mana… Pikiran pertama adalah ke Leuwi Panjang dulu dan mau langsung ke Soreang. Tapi karena salah lihat angkot (hanya kelihatan warna merahnya saja), ternyata naik yang jurusan Elang, sodara-sodara! *panik* Wataw, ini sih ke alun-alun yaks? Baiklah… Kita menuju daerah belanja nasional *apadeh* Menjelajah ke Kings Plaza dan mentok juga makannya di Hokben demi bonus mainan. Sebelumnya sih main di Timezone dan beli jus buah segar untuk bibirnya Salman itu 😦

Harus ekstra sabar karena Salman sedang sariawan. “Bunda, sakit! Bunda, perih! Bunda, gak mau makan!” Duh duh duh… Sedihnya… Tapi untunglah minumnya kuat. Jus, susu, dan air putih masuk semua. Jadi kencing banyak tak masalah.

Setelah menunggu bubaran shalat Jumat, barulah kami ke Masjid Agung. Umar dan Salman puas berlarian karena luasnya bangunan masjid. 🙂 Kami tak bisa berlama-lama di masjid meski masih ingin main karena harus langsung ke Soreang. Uwow, hujan deras di daerah Kopo dan Soreang. Si supir angkot yang awalnya berniat baik menolong mengantarkan sampai tempat tujuan (Cangkuang) dan mengatakan biayanya hanya 20.000 tiba-tiba di tujuan menjadi 25.000. Ya sudah, aku hanya diam. Mudah-mudahan tidak diare, ya Pak?

Di Cangkuang persis orang bego. Umar dan Salman mulai rewel karena tak betah menunggu orang yang akan menunjukkan rumahnya. Iyes, kita memang sedang survey calon rumah baru 😉 Bisikan hati sih nyuruh langsung pulang deh. Males banget kan nunggu yang gak pasti sambil bawa anak begitu? Kasihan krucilku… Setelah menunggu dari siang dan baru ketemu si adik pemilik rumah pas Ashar (esmosi es lilin deh!), kami langsung ke Rencong demi mencicipi Bubur Jagong Rencong yang terkenal itu… Hohoho.. Om Taufik langsung geer deh! Dan juga baru ingat mainan hadiah dari Hokben tertinggal di angkot si bapak. Duh… “Maaf ya, Bunda? Aku gak sengaja,” ujar Umar dengan wajah takut. Aku menghela nafas berat mencegah agar tidak marah.

Agak kecewa setelah aku ke rumah yang di Cangkuang itu. Cukup banyak kejanggalan yang kudapati dan membuatku malas berlama-lama di sana. Lingkungannya sih asyik. Tetapi rasanya cukup sekali aja ke sana. Meski awalnya aku jatuh cinta pada kriteria yang disebutkan si calon penjual padaku via e-mail. Ketika melihat langsung, mungkin aku akan bertahan. Namun bahasa tubuh dan bicara penghuni rumah membuatku berpikir ulang. What’s going on there?

Di Rencong, aku melihat sendiri kehebohan yang selama ini hanya aku baca di fesbuk. Beneran ternyata, ngantri dan ramai sekali. Keren ih! Taufik tak menyadari kedatanganku dan krucil sampai dia sendiri yang menoleh ke belakang (posisiku di dekat pagar). “Heeeee… Udah lama?” tanya Taufik kaget. Umar yang nyamber, “Om sibuk sih! Jadi gak tau deh kalau aku dateng,” ujarnya dengan mimik lucu. Rasanya aku kok akrab ya dengan wajah seseorang yang membantu Taufik berjualan? *tapi siapa?*

Langit sudah gelap, maka kami tak bisa berlama-lama di Rencong karena Umar dan Salman sudah rewel kelelahan. Baiklah! Kita pulang (ke penginepan)! Setelah shalat Maghrib, kami pulang naik angkot ke Moh. Toha dan dilanjutkan dengan taksi. Maklum, satu-satunya cara menenangkan mereka adalah dengan tidur di taksi. Kasihan sekali 😦 Semoga perjuangan mereka tak sia-sia 🙂

Sempat terjebak macet sesaat ketika melewati kawasan pabrik yang sedang ganti shift. Waduh, bakalan menikmati ini setiap lewat sana pas makan siang dan sore hari kali ya? Juga sempat jengkel dengan seorang pemuda yang duduk di pinggir angkot gak mau turun kasih jalan untuk seorang ibu yang mau turun. Dih!

Sampai di penginapan, baru terima sms dari sepupu yang tinggal di Antapani. Wah, gak bisa dong malam-malam ke sana? Gak sopan banget kan? Ya sudah, extend semalam di Kiaracondong. Lagi pun, mendadak aku berpikir untuk survey ke daerah Manggahang Baleendah pada Sabtu siang sebelum kembali ke Depok.

perjuangan mencari rumah yang sebenarnya. tempat berkumpul bersama keluarga.

(Kalau gak ingat untuk apa tujuanku pindah-pulang- ke Bandung, rasanya mau menyerah karena lelah…)

Sabtu 28 April. Bersiap untuk kembali ke Depok. Tapi kami bertiga punya tujuan akhir hari ini. Ke Manggahang. Bismillah aja sih. Setelah sarapan, mandi, dan berpakaian, Umar bertanya, “Bun, kita mau ke mana? Pulang?” Pertanyaan yang membuatku galau to the max. Asli. Pulang ke mana? Lebay? Biarin deh!

Hari ketiga naik turun angkot lagi sebenarnya membuatku nyeri. Melihat anak-anak yang begitu antusias namun mudah lelah karena jauhnya perjalanan, menjadikan aku semakin kuat berusaha untuk tidak menyerah begitu saja.

Naik angkot yang supirnya (lagi-lagi) orang Batak. Macet total di depan pabrik tekstil untungnya tak membuat krucilku uring. Dengan asyiknya mereka berceloteh dan mencari perhatian para penumpang lain. Salman tetap kadang rewel dengan sariawannya. Do’oh >_<  Mereka kembali lelah ketika angkot telah melewati kemacetan dan mendekati daerah Manggahang malah tertidur. Yang ada memang aku pun sempat terlelap dan akhirnya kebablasan. Turun dari angkot, beli es krim dulu baru kembali ke rute awal yang untungnya hanya berjarak 1 kilometer.

Setelah tanya sana sini, akhirnya menemukan rute tujuan. Menunggu ojek untuk mengantarkan kami ke lokasi. Hey, ketika naik ojek, yang kulihat adalah bukit dan hamparan sawah. Subhanallah, seksi banget! Dan seketika aku merasa pulang… Ojek yang hanya dua ribu itu mengantarku sampai ke depan rumah yang kumaksud.

Suasana tenang di sekitarnya langsung membuat anak-anak gemas untuk bereksplorasi. Mereka menjelajah rumah tanpa sempat mengucapkan permisi pada tuan rumah. Aduuuhhh…. “Gak apa-apa, Mbak Anna,”  jawab Pak Banu, sahibul bait. (jadi keren gitu namaku dipanggil Anna. Sounds so sexy, hm? 😉 ) Sementara aku berbincang dengan Pak Banu, Umar dan Salman tetap asyik bermain. Aku melihat sosok Pak Banu sebagai pria kesepian sejak ditinggal mendiang istrinya. Persis almarhum bapakku. Rapuh. Ringkih. Namun menyisakan sedikit semangat untuk tetap produktif di usia senja.

Mendung yang mendadak membuat langit gelap seketika. Aku terpaksa mengajak anak-anak untuk bergegas pulang. Baru saja sampai di pos siskamling untuk menunggu ojek, hujan turun mendadak dengan derasnya. Wadaaaaaaaaawwww……… Lho, kok tapi Umar dan Salman tidak uring? Malah mereka asyik bermain kulit buah duku dan melemparnya ke sawah… *hehehe, maaf ya buat yang punya sawah* 😀 Umar tidak pakai jaket dan menolak memakai cardigan aku. “Gak ah! Enak begini, kok! Pake aja sama Bunda deh!” Dan aku? Menikmati tetes hujan yang berlomba untuk sampai ke tanah.

Setelah agak reda, pas ada sebuah ojek menawarkan untuk ke depan. “Payun, Teh?” Hayu ah! Udah sore nih! Serunya naik ojek ketika hujan. Umar dan Salman tertawa dan teriak, “Basah nih, Bun!” Hehehehe…

Kami menuju rute sebaliknya yang siang tadi dilalui. Hujan rintik. Sampai di Soekarno Hatta, kami makan dulu di RM. Ampera. Umar sih makannya lahap. Bagaimana Salman? Teriakan sakit sariawannya membuat semua yang makan pada menoleh. *gubrak* Dia itu memang selalu heboh kalau sakit. Apa juga dirasa sangat menyakitkan. Cari perhatian. Hweeeeeeeeehhhh….

Setelah selesai makan (dan Salman hanya menyisakan lauk utuh yang akhirnya dibungkus untuk dibawa pulang), kami menuju terminal Leuwi Panjang untuk kembali ke Depok. Di bus, mereka tidur nyenyak. 🙂 Good boys 😉

—————-

Ada beberapa yang mengusik hatiku selama di Bandung. Aku mempelajari tabiat warga Bandung yang naik angkot, warga sekitar, ketidaktahuan mereka tentang rute-rute angkot, dan keagresifan menawarkan layanan angkutan umum membuatku rada keki. Gak tau yaaa… Jangan pada protes! 😀

Terutama yang naik angkot dan duduk di dekat pintu. Kalau ada yang mau turun, kenapa sih gak ikutan turun dulu untuk memberi jalan? Etikanya di mana gitu lho??? Behave, guys!!

Nah, aku harus cerita apa lagi ya?

UPDATE:

Oh ya, aku mau cerita tentang 8 orang Malaysia yang menginap di Paksoma. Hm, kekuatan internet memang dahsyat! Ceritanya di Jumat pagi, aku sedang memberi sarapan Salman ketika seorang ibu mendekatiku. “Dari mana, Dik?”

“Jakarta, Bu,” kujawab dengan senyum efektif.

“Jakarta? Jauh dari sini?” tanya Ibu itu polos. Aku yang blingsatan. Kok pertanyaan si Ibu aneh ya?

“Tiga jam perjalanan, Bu,” jawabku berusaha tenang.

“Oh, begitu? Naik apa?”

“Bus kota. Dari terminal Leuwi Panjang.”

“Oh, begitu ya? Saya sekarang hendak pergi ke Jogja. Rancangannya hendak ke Surabaya.”

Ran-cang-an? Bahasa Melayu?

“Ibu dari mana?”

“Malaysia,” jawabnya tenang. *gubraaaaakkkk* Aku langsung berdecak kagum dengan penginapan-maha-sederhana ini.

“Sendirian, Bu?”

“Tidak. Dengan seorang laki dan dua orang ibu tua. Sisanya seusia saya,” jawabnya dengan logat yang akhirnya kusadari memang Melayu. *gigit sendoknya Salman*

Kemudian ibu itu pamit hendak merapikan barang-barangnya. Tak lama, datang seorang nenek menepuk pundakku pelan. “Tak ada kawan?” Aku kaget dan menoleh.

“Oh, saya dengan anak,” jawabku masih kaget.

“Ah, kanak-kanak,”  si nenek tertawa memperlihatkan ompongnya sambil memandang Salman. Aku tersenyum tipis. Dan si nenek pun berlalu dengan cueknya. Hihihihi…

Kemudian datanglah seorang bapak yang ternyata satu-satunya pria dalam rombongan Malaysia tersebut. “Hei, ada kanak sedang makan.” Salman mendadak grogi dan malu. Dia menghentikan makannya dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Si bapak itu tertawa, “Ah, malu dia. Makanlah, Nak. Makan, ya?” dan dia pun berlalu menuju kamarnya. Salman mengintip dan tersenyum salah tingkah. Hihihihihi… 😛

Nah, begitulah kami mewarnai hari di Bandung selama 3 hari 😉

Iklan

One thought on “Three Days In Bandung With Krucils”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s