Ada Apa Denganku?

Dua minggu ini benar-benar ajaib, aneh, membingungkan, dan menggelikan sekaligus. Aku sampai terheran-heran dan tak habis pikir. Beberapa hal membuatku tertawa, sedih, takut, dan gak jelas. Entahlah. Bingung untuk menjabarkan segalanya. Hm, tapi yang pasti, membuatku semakin mengerti bahwa dunia ini memang betul-betul berputar. Kondisi seseorang tak selamanya di atas (senang-senang) atau di bawah (susah tiada berkesudahan). Semuanya seimbang. Semuanya terjadi atas kehendak Allah.

Dimulai dengan cerita kisah masa lalu yang menyeruak hadir. Mengingatkan pada masa kuliah dan ketidakpedulianku akan perasaanku sendiri. Dia hadir dan mengatakan secara tak langsung bahwa masih ada cinta tersisa untukku. Oh Tuhan, bagaimana aku bisa bilang ‘tidak’? Tentu, aku pun merindukannya dan kenangan itu. Tetapi dari awal pun kami tahu bahwa ritme hidup kami jauh berbeda. Kami menikmati perbedaan itu dan syukurlah hingga saat ini kami masih bisa berteman baik. 😉

Kemudian tentang kebijakan dan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan. Ini tentang rumahku yang hendak kujual.  Setelah tiga tahun mencari calon pembeli yang kira-kira cocok dengan harga yang kutawarkan… Ada satu calon pembeli rempong. Aku memahaminya sebagai bentuk waspada. Yaaa… Mungkin dia takut kalau aku berbohong. (emang aku ada tampang penipu ya?) Tak apalah. Dengan nego yang super alot, dia tetap memandang dan menganggapku sebagai pihak yang mudah diintimidasi. Wait! It is my house! You like it, buy it! Don’t push me like that! Tapi ya memang sih (calon) pembeli adalah raja. Aku biarkan dia berpikir sebagaimana aku bertahan dengan hargaku. Belum ada kejelasan lagi hingga aku menulis ini.

Kemudian seorang teman yang membuatku berteka-teki selama setahun menyapa via DM twitter. Kaget mendapati kenyataan bahwa dia sekarang berada di titik terendah kehidupannya. Jelas jauh berbeda dengan setahun lalu. Aku belum bertemu dia lagi, tapi dari kalimatnya, aku mencoba memahami. Ya, begitulah kenikmatan duniawi yang terlalu melenakan… Ketika Allah membalikkan keadaan semudah kita menjentikkan jemari… Kekagetanku gak seberapa dengan yang dia alami. Kupahami itu sebagai pilihannya dalam menjalani hidup barunya. Untunglah dia mengatakan bahwa keluarga memahami keadaannya kini. Sebagai kepala rumah tangga, harga diri untuk tetap dapat menafkahi menjadikannya pembelajar alam pada saat ini. Semoga engkau berhasil, kawan!

Selanjutnya adalah tentang seorang duda nun jauh di benua Eropa… #krik Hadeh… Kalau ini sih biasalah, ada yang meminta menjadi teman di fesbuk. Yeeeeeaaaahhh, guess what ‘s next? LOL! Tapi kita ikuti saja permainan dia sampai di mana. *hohohoho*

Dan, ah ya tentang #kamu. Iya, kamu pria terkasihku bermata sehangat senja dengan senyum seindah pelangi. 😉 Betapa aku rindu melihat keajaiban yang ada pada dirimu, penyemangat hidupku 🙂 Hati-hati selama di gua. Jika habis bekalmu, pulanglah terlebih dahulu. Aku menunggumu.

Mari, nikmati hidup yang sangat singkat ini dengan terus beristighfar pada Allah ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s