Pak Raden dan Perjuangan Hak Cipta

Berikut ini adalah penuturan daeng Khrisna Pabichara dalam twitnya setelah acara #PakRadenNgamen di rumah tokoh kecintaan anak-anak itu di Jakarta kemarin sore (14 April 2012).

===

Terima kasih kepada sahabat Si Unyil yang sudah menghadiri acara#PakRadenNgamen dengan penuh antusias.

@_PakRaden_ menderita osteoarthritis yang menyerang sendi tulang belakang, pinggul, lutut, dan kaki. #PakRadenNgamen

Tetapi yang paling didambakan oleh @_PakRaden_ adalah kembalinya hak cipta atas boneka Si Unyil dkk. #PakRadenNgamen

#PakRadenNgamen sekaligus kampanye sadar hak kekayaan intelektual bagi seniman/budayawan agar tak senasib dengan@_PakRaden_

Mata @_PakRaden_ berkaca-kaca tiap menerima sumbang rasa, apalagi waktu Amel ‘presenter cilik’ yang sekeluarga mengagumi beliau.

Bermula dari tawaran PFN untuk menertibkan maraknya pemakaian nama Unyil dkk sebagai merek, @_PakRaden_ pun mengiyakan tawaran itu.

Ada produk makanan ringan, roti, bahkan acara di televisi yang menggunakan nama Unyil atau Pak Raden. Sebab itulah diurus Hak Ciptanya.

Tanggal 14/12/1995 penyerahan pengurusan Hak Cipta ditandatangani. Pihak pertama PFN diwakili Dr. Amoroso Katamsi, pihak kedua @_PakRaden_

Surat perjanjian bernomor 139/P.PFN/XII/1995 menyebutkan bahwa@_PakRaden_ adalah pencipta nama Si Unyil dan bonekanya.

Surat Perjanjian tersebut juga disebutkan bahwa boneka Si Unyil dibuat @_PakRaden_ dalam hubungan dinas dengan PFN (pihak pertama).

Pada Pasal 1 diterakan penyerahan pengurusan Hak Cipta dan Hak Eksploitasi (komersial) dari @_PakRaden_ kepada PFN.

Pada Pasal 2 disebutkan bahwa @_PakRaden_ menyerahkan Hak Cipta “Boneka Si Unyil” tanpa imbalan apa pun dari PFN.

Apabila ada pihak ketiga menggunakan brand Si Unyil dkk., maka@_PakRaden_ berhak atas royalti 50% dari kerja sama itu (Pasal 3 ayat 1).

Royalti 50% dari kerja sama dengan pihak ketiga itu diserahkan oleh pihak pertama selambat-lambatnya satu bulan kepada@_PakRaden_

Apabila terjadi perselisihan pendapat antara kedua belah pihak (@_PakRaden_ dan PFN), akan diselesaikan secara musyawarah (Pasal 5).

Perjanjian penyerahan Hak. Cipta itu berlaku selama lima tahun (Pasal 7). Berarti, 14/12/2000 mestinya kembali kepada@_PakRaden_

 Yang janggal adalah perjanjian itu ditandatangani dalam dua versi berbeda dengan nomor yang sama: 139/P.PFN/XII/1995.
Pada rangkap pertama, Pasal 7 menerakan batas waktu lima tahun. Sementara berkas kedua, Pasal 7 tanpa batas waktu.#PakRadenNgamen
Kedua perjanjian bernomor sama dengan satu pasal isinya berbeda ditandatangani pada hari yang sama. #PakRadenNgamen
@BeaWalter Saya tidak menemukan paraf pada tiap halaman. Asumsi saya, karena pasal awal sama, Pak Raden tanda tangan.
Lebih parah lagi, hingga hari ini @_PakRaden_ belum pernah menerima sepeser pun hak royalti (pasal 3 dan 4).#PakRadenNgamen
Andaikan pihak ketiga memakai brand “Mainan Si Unyil” dengan akad kerja sama Rp 60 juta, berarti ada hak @_PakRaden_ Rp 30 juta di sana.
@_PakRaden_ bukan pegawai negeri di PFN. Awalnya beliau diajak Pak G. Dwipayana untuk membuat film anak buatan dalam negeri.#PakRadenNgamen

Upah terakhir yang diterima @_PakRaden_ sebesar Rp 2,5 juta bukan dari royalti, melainkan honor beliau mengisi suara Pak Raden.

@bennebee Sejak penandatanganan hingga hari ini, @_PakRaden_belum pernah menerima royalti. Kami bermaksud mencari informasi ke Dirjen Haki.
Sejak 6 tahun silam, @labulucu mempertanyakan pengurusan royalti itu. Namun @_PakRaden_ menolak karena masih kuat mendongeng atau melukis.
Namun semenjak menderita osteoarthritis, kemampuan@_PakRaden_ menurun dan ke mana-mana harus dengan kursi roda. #PakRadenNgamen
Mengingat jasa @_PakRaden_ dalam menghadirkan tontonan menghibur dan mendidik, naif jika pemerintah berdiam diri#PakRadenNgamen.
Bondan-F2B dan Charlie yang spontan hadir dalam#PakRadenNgamen adalah bukti banyak orang mengenang Si Unyil dan @_PakRaden_
Namun, sebagaimana tutur @_PakRaden_, upaya memperjuangkan hak cipta ini sekaligus agar kita menyadari pentingnya hak kekayaan intelektual.
Terima kasih sahabat kicau yang menyimak linikala saya. Semoga hajat besar @_PakRaden_ bisa beliau raih tatkala “matahari makin rebah”.
+++++
twit-twit tambahan:
@_PakRaden_ tidak menerima, Mas. RT @harrismaul: mpek2 Pak Raden sama Roti Unyil bayar hak cipta nggak sama beliau?
RT @_PakRaden_: Terima kasih atas segala yang terjadi malam ini. Pesta sudah usai, perjuangan baru dimulai. #pakradenngamen
Pak Raden, Bondan Prakoso dan F2B. #pakradenngamen http://mypict.me/mRyYl

Berat menanggung biaya berobat rutinsetiap Selasa, bayar listrik, dan masih menumpang. RT @acankz miskin sekalikah itu pak raden?

Sakit, Tiap Bulan Pak Raden Keluarkan Rp 2 Juta http://m.tempo.co/2012/03/21/391672/
Bagaimana jika gagal mendapatkan kembali hak cipta? Usaha dulu, gagal juga hasil dari sebuah usaha. ~ @_PakRaden_
Usro’ juga RT @DharmawanAngga Usro RT @1bichara: Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariah, Ableh, Meilani, Cuplis, Ucrit, Kinoi, Bu Unyil
Benar, Om. RT @Bemz_Q: Kejadian yg menimpa @_PakRaden_ dan boneka-bonekanya adl contoh buruk ttg perlindungan hak cipta di negeri kita.
RT @ilham_bintang Drs Suryadi atau Pak Raden adalah gambaran realitas kelam masalah penghormatan/perlindungan hak cipta seniman di Indonesia
@therendra Pasal 6 menyatakan akan ada perjanjian tambahan, tapi menurut @_PakRaden_ tak pernah ada perjanjian lain.
====
Sebab banyak DM yang mempertanyakan kata ‘kejanggalan’ pada twit saya semalam soal perjanjian @_PakRaden_ dengan PPFN, berikut jawaban saya.

1. Dasar perjanjian Surat Perjanjian No. 139/P.PFN/XII/1995 ialah ‘penyerahan’. Berarti PPFN wajib, mengembalikan ‘yang diserahkan’ itu.

2. Ada klausul ‘pengurusan dan penggunaan untuk maksud-maksud komersial’, berarti ada hak royalti bagi yang menyerahkan–yakni@_PakRaden_
3. Eksploitasi–maksud-maksud komersial–dari Si Unyil di luar film/video ada hak royalti @_PakRaden_ sebesar 50%, tertera pada Pasal 3.
4. Faktanya, @_PakRaden_ tidak pernah menerima royalti dari pembuatan acara, merek dagang, atau maksud komersial selain film dan video.
5. ‘Jika terjadi perselisihan … dilakukan musyawarah.’ (pasal 5), musyawarah seperti apa dan bagaimana bentuk penyelesaian sengketa?
6. Perjanjian dalam dua versi. Pertama, ada batas waktu. Kedua, tak berhingga. Menurut saya, ini yang paling janggal.
7. Bagaimana bisa satu perjanjian bernomor dan bertanggal sama bisa memuat klausul berbeda–pada pasal yang sama?

8. Jika dasar argumennya adalah “PPFN yang menanggung biaya produksi, jadi royaltinya berlaku selamanya”. Ini lebih janggal lagi.

 9. Contoh: Penerbit menanggung biaya cetak/sebaran/promosi buku, tapi setelah batas eksploitasi selesai, hak eksploitasi dikembalikan.
10. Pendapat saya seputar perjanjian antara @_PakRaden_ dan PPFN semata-mata tafsiran pribadi. Salam takzim.
=-=-=-=
Informasi @_PakRaden_ di: Khrisna (081398958598) Arif (085210636336) Suryo (08156612441) Chusnato (082124379430) Amang (08990066000)
Donasi utk @_PakRaden_ bisa ditransfer ke Bank Mandiri: 157-00-0111711-9 (Arief Maulana) atau BCA: 0840382796 (Chusnato)
Iklan

Satu pemikiran pada “Pak Raden dan Perjuangan Hak Cipta”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s