Mom, I Miss You Badly

And you too, Dad!

Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan bahwa Mama dan Bapak ada di rumahku. Dekat sekali denganku. Rasanya aku ingin memeluk mereka. Jelaslah tak mungkin… šŸ˜¦

Ketika dengan gemetar aku berbisik lirih pada Allah, ada kehangatan yang menyelimuti. Hangat yang biasa kurasa saat kecil dulu. Damai. Tenang. Sesekali aku merasa Mama seperti sedang menangis. Kemudian aku merasa Mama tersenyum dan mengangguk. Entah apa maksudnya.

Bapak… Yang pernah kusakiti hatinya… Hingga saat ini rasa bersalah dan menyesal itu tak jua bisa hilang. Ā Setiap ingat Bapak, rasanya nyesek. Sakit banget. Wajah Bapak yang pias, mulutnya yang bergetar saat bicara, dan matanya yang memerah menahan tangis itu masih melekat erat dalam ingatanku. Durhakanya aku… Memohon pada Allah agar Bapak mau mengampuniku seolah terlihat mustahil. Hingga suatu saat yang entah kapan, aku memimpikan Bapak tersenyum padaku. Kaget. Sungguh aku tak percaya.

Saat aku menulis ini, aku merasa bahwa Mama dan Bapak ada di dekatku. Maka ingatanku kembali pada saat kecilku yang manja. Ah, rindunya aku menikmati saat-saat ‘bertaruh’ ketika Persib bertanding melawan Persebaya di tahun 90an, makan siang di luar sambil berdebat tentang nilai ulangan yang anjlok (halah), dan menemani Mama di rumah sakit sambil menggosipkan dokter ganteng (haiyah). šŸ™‚

Saat ini, yang kurasa adalah restu mereka akhirnya kudapat. Tentang apa? Segalanya. Semua yang kubutuhkan. Perlahan, aku merasa pintu ridho itu terbuka. Setelah sembilan tahun aku memohon doa yang sama setiap hari… Aku menyadari sulitnya memohon ampunan orangtua yang telah aku durhakai semasa hidupnya. Allah telah menghukumku dan aku sudah terbebas dari hukuman duniawi itu. Tak henti aku bersyukur. Tak ada lagi yang bisa kuamini selain janji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. (Untuk hal ini, para sahabatku pasti mengerti tentang apakah ini šŸ™‚ )

Seandainya saja mereka masih ada di sampingku, Yaa Allah… Betapa aku ingin sekali mencium tangan dan kening mereka sepenuh cinta seperti dulu…

Setelah orang tua meninggal dunia banyak amalan yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada keduanya, di antara lain:

1. Mendoakannya

Mendoakan agar mereka diampuni, dirahmati, diberi kemuliaan disisi-Nya, dan dilapangkan di alam kubur.

2. Menunaikan janjinya

Apabila kita pernah mendengar orang tua mempunyai janji atau niat untuk melakukan suatu kebajikan, namun belum terlaksana karena maut menjemputnya, kita sebagai anaknya dianjurkan untuk merealisasikan niat baiknya itu. Misalnya, mereka pernah berniat mendirikan panti asuhan, sebelum niat baik ini terwujud, Allah swt. memanggilnya, sebagai wujud bakti anak terhadap orang tua adalah merealisasikan niat baiknya tersebut.

3. Menjalin silaturrahim

Sebagai makhluk sosial orang tua kita pasti memiliki sejumlah kerabat, wujud bakti kepada mereka adalah dengan menyambung silaturrahim dengan orang-orang yang biasa bersilaturrahim dengannya, terutama silaturrahim dengan kerabat dekat orang tua.

Sumber quote: di sini

Hati ini terasa ringan sekarang. Terimakasih yaa Allah… Meski sekarang agak kesulitan untuk menjalin silaturrahim dengan kerabat orangtua (rata-rata ya sudah wafat juga), tetapi dengan yang masih hidup insya Allah terjaga…

Aku cinta kalian, Ma, Pak!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s