Hidup Di Kampung

Bangga bener yaks? ^_^

Tergelitik membuat postingan ini karena membaca tulisan temanku, seorang emak penulis buku anak, Orin. Hehehehe… Garagara membaca status dia di fesbuk bahwa selangkah lagi dia akan memulai hidup baru di desa dan fokus untuk mendidik anak-anaknya secara alami. Benar-benar belajar memacul, menanam padi, dan serba natural. NGIRI, tauk!!!!

Belum lagi ‘racun-racun’ dari kang Dhany yang selalu mengunduh foto-foto suasana kampung Sunda… Aaaarrgggghhh…. *gigit hape* Kapan giliranku ya Allah? Rasanya benar-benar ingin segera menikmati surga dunia…

modelnya sih bukan eikeh yang pasti... πŸ˜€

Masih ada gak sih kegiatan mencuci di sungai yang airnya mengalir jernih? Masih bisa gak sih mandi di pancuran alami? (tanpa jepretan paparazzi tentunya. hari geneh, tau2 beken aja gitu di internet lagi bugil. wew! *dikeplak*) Belajar di saung tengah sawah pasti seru sambil bawa bekal rantangan… Nikmat…

ini sih saung di sebuah sekolah, bukan di tengah sawah. tapi ya modelnya sesuai di pikiranku, gituh.

Etapiii…. Sinyal internet ada gak ya? Secara kan, kerjaanku 80% dilakukan bergantung pada koneksi dunia maya euy… (teteup yah butuh teknologi! LOL) Meski begitu, aku juga mau dagang kok. Hm, sudah ada dalam benakku kok mau berwirausaha apa. πŸ˜‰

Kebanyakan mimpi? Gak masalah! Toh masih lebih mudah diwujudkan ketimbang pergi ke bulan! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ Mengafirmasi diri, semoga terwujud… Siapa tau, punya usaha warung makan bersaung gitu? AAMIINN…. ^_^

Udara desa yang sejuk dan (semoga) masih alami minim polusi (ada sih pastinya, dari sepeda motor) pastinya akan bisa mengurai stresku selama bertahun-tahun di belantara metropolitan. Can’t stand it anymore

Membayangkan Umar dan Salman lari-lari bebas… Belajar dari alamnya langsung… Masih butuh ijasah? Masih? Masih? Masih? *entah ini nyinyir atau sinis* *ngakak* Well, depend on their decision. If they feel comfort with unschool, why people too fussy? This is my babies’ life. Let them choose it by themselves. Period.

Nah, selama ini sih Umar dan Salman sudah memiliki ritmenya sendiri dalam belajar. Mereka yang menentukan mau mempelajari apa. Pelan-pelan saja. Aku tak pernah memaksa. Buktinya aku dikejutkan oleh kemampuan Umar dan Salman. Ah sudahlah! Tak usah membandingkan anak-anak. Setiap anak itu unik. Tidak seperti di sekolah yang selalu menyamaratakan kemampuan. *iye, gue sinis!* (tulisan yang melenceng dari judul. hehehe…)

Ini opini dari Orin:

Pengen pulkam:
– aku kerja ga terikat tempat… jadi bisa di kota bisa di kampung. Daripada menyesaki ibukota kan mending memeratakan penduduk ke kampung…
– biaya hidup di kota ga waras lagi, serba mahal.
– informasi dan teknologi udah rata ke kampung juga internet lancar, listik nyala, PAM pun ada. Masak mau pake gas? ada kale.
– Makanan dikampung buat lidahku terasa lebih manis, mungkin karena lebih segar…
– Bisa menanam dan memelihara makanan sendiri. “memerangi” kapitalisme mulai dari diri sendiri, gak bergantung pada orang lain at least untuk kebutuhan pokok… mungkin sabun baju dkk masih beli, tapi ketergantungan kebutuhan pokok pada pihak lain berkurang…
– Udara jelas lebih bersih
– Eksposure pelajaran alami untuk anak-anak berlimpah
– Ilmu terasa lebih bermanfaat karena orang desa perbandingan yang educated dengan yang enggak banyakan yang enggak. Ga seperti di kota banyakan orang berilmu sayang kan ilmu ngendap ga kepake.Β 

Heeeee… Setubuh! #eh Sepakat!!

ada yang mau jadi tetanggaku? yuk ah kembali ke kampung!

Jatuh cinta pada kehidupan kampung semakin dalam terlebih ketika melihat serial Upin Ipin. Rumahnya Opah yang lega di tengah halaman itu nyaman kelihatannya. Apalagi adegan nyanyi bareng orang sekampung, itu pemandangannya adeeeeeemmm… Itu di Malaysia. Aku yakin, di dekatku juga ada yang seindah itu… *jadi ingat film Rumah Masa Depan deh*

Ayo, pulang ke kampung! Kembali ke alam. Belajar langsung dari asalnya. Siap!

2 thoughts on “Hidup Di Kampung”

  1. Met malam mba…
    Tulisan ini bagi sayah pribadi menjadi semacam romatika. Di tahun 70-an sayah masih mengalami suasana berlari di sawah, main layangan sepuasnya, mandi di kali yg jernih. Nah, itupun bukan di kota Sukabumi. Tapi di kampung ortu yg jaraknya sekitar 40 km selatan Sukabumi. Jampang. Kini Jampang-pun sudah tak seindah dulu lagi. Sayah pernah post di blog sayah berjudul Tour de Jampang. Ada foto-fotonya. Demikian Jampang saat ini.
    Seandai dalam waktu dekat mba pun move ke kampung. Tapi suasana kampung sudah jauh dari yg seperti mba gambarkan dalam postingan mba ini. Kecuali memang kampung yg benar-benar kampung. Tapi kan mba tidak berencana untuk move ke daerah yg benar-benar kampung?
    Apapun, semoga yg mba harapkan terkabul dalam waktu yg tidak lama lagi. Insya Allah…
    Salam,

    Suka

    1. seperti tulisan di atas, aku tetap mencari yang ada akses internet yang artinya sudah ada listrik dan bisa masak dengan gas. πŸ˜€ hehehe…

      setidaknya, suasana jauh dari hiruk pikuk kota bisa aku dapatkan, pakde πŸ™‚ jika memang yang BENAR-BENAR suasana kampung sudah tak ada lagi (ini sih tragis kalo beneran), yaaaa… bentuk rumahnya bisa menjadi wakil kerinduan itu πŸ™‚

      hatur nuhun, pakde πŸ™‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s