Semua Harus Kembali Dari Mula

Iya, semuanya.

Bongkar mimpi lama dan ganti dengan yang baru. Semua, sama sekali baru. A brand new day. Harus bisa!

Perlahan, segalanya sedang kusiapkan. Terpenting adalah agar aku bisa melukis senyum anak-anak yang dapat kunikmati setiap saat. Makanya, meski gregetan karena tak sabar, tetapi semua harus cermat kususun.

Perlahan, pintu harapan itu terbuka. Pada saat yang sama, kututup jendela masa laluku. Entah, sudah berapa kali aku bermetamorfosis.  Seperti sebuah buku yang pernah kubaca “Repacking Your Bag”, ternyata selama ini kita membawa beban terlalu banyak dalam tas dan justru kebanyakan yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Pertama kali baca buku itu banyak yang kucorat-coret ketika menyadari bahwa “barang bawaanku” banyak sekali. Ternyata, ketika buku itu kubaca lima tahun kemudian, aku semakin terperangah. Aku harus ganti tas!!!

Mengapa? Karena kesalahanku memasukkan segala tetek bengek yang gak penting (dan kacaunya malah berpikir ‘nanti juga butuh’) membuat tasku keberatan, rusak, dan akhirnya jebol. Memaksa tetap memakai tas yang sama? Idiot! Oke, mari kita mencari dan mengganti tas!

Nah, apa yang disebut “TAS” itu sebenarnya? Ya, tempat menampung segala kebutuhan, keinginan, dan kemauan kita dalam hidup ini. Entah itu pikiran kita, hati kita, atau secara konkrit: rumah, misalnya.

Pernah aku menulis dalam sebuah postingan ingin rumah 2 lantai minimal 5 kamar. Seru, kan? Ramai oleh celoteh anak-anak, bisa untuk tempat menginap keluarga besar atau teman-teman. Kemudian, seiring pendewasaan pikiranku (tsaaaahhhh) malah aku ingin yang minimalis. Maksimal 4 kamar.

Banyak…. Banyak sekali yang sudah kubuang dari tasku. Selebihnya diberikan pada orang lain yang membutuhkan. Kusisakan yang benar-benar kubutuhkan. Terasa sekali ringannya 🙂 Ternyata aku bisa hidup tanpa beban-yang-jelas-tak-kubutuhkan-itu 🙂

Itu tentang isi tas. Sekarang bagaimana dengan anak-anak? Mudah. Mereka sih fleksibel aja. Kalau aku merasa nyaman, mereka akan lebih bahagia menghadapi hidup. (Jiah, bahasa lo, An!) Etapi benar kan? Jujur, aku bukan tipe yang bisa berbohong pada anak, sekecil apa pun masalah. Anak-anakku terbiasa tahu kalau aku ada masalah. Umar atau Salman selalu bertanya, “Bun, kenapa nangis? Aku jadi ikut sedih. Sabar ya, Bun? Ada aku kok di sini.” :’) Good boys :’)

Aku ingin pindah ke Bandung. Bukan tanpa alasan. Bandung, sekali lagi, bukan hanya masalah geografis. Ada separuh hatiku di sana. Mama, berasal dari sana. Aku ingin pulang meski tak akan kutemui wajah Mama di sana… Lagi pun, kembali ke Bandung artinya kembali ke titik nol. Memulai semuanya dari awal. Tutup segala kenangan buruk dan tinggalkan. Bawa sedikit kenangan indah untuk dijadikan pijakan 🙂

Tentang aku yang sedang belajar (kembali) bahasa Sunda? Hm, sepertinya memang takdir. Sampai tahun lalu, aku masih mencibir dan bertanya retorik, “Apa pentingnya sih aku berbahasa Sunda dengan baik? Cukuplah bahasa preman saja.” Akhirnya kesandung juga. >_<

Minggu lalu, mengetahui seorang penyanyi asal Perancis begitu antusias dan sangat suka dengan lagu-lagu Sunda, aku nyengir asem. Ke mana saja aku selama ini? Dan aku tambah salah tingkah ketika ada seorang bule mengirim e-mail pada kang Dhany mengatakan bahwa alat musik daerah harusnya dijual di toko musik. #jleeeebbbb….

Ini, menambah daftar mimpiku untuk belajar mencintai seni musik Sunda. (asal tau aja, aku masih sebel sama bahasa Sunda yang punya tingkatan ituh 😀 ) Seperti jawaban kang Dhany,  “Tak ada mobil yang start dari kecepatan 40 Km/ jam. Semua dari 0 Km/jam :)” ketika aku bilang bahwa aku mau mempelajari seni musik Sunda dan Nusantara tapi dari nol dulu. 🙂

Itu sebabnya setiap hari, aku usahakan mendengarkan Radio Baraya Sunda setidaknya 8 jam untuk membiasakan telingaku ini dengan bahasa Sunda ^_^ (di antara waktu membongkar playlist di youtube 😛 )

Sebenarnya, fokusku tetap pada Sastra Sunda. Puisi, cerita pendek (carpon = carita pondok), fiksimini, novel, dan semacamnya. Pada siapa harus belajar? Kang  Godi Suwarna (ini referensi banyak orang. *pingsan*), kang Soni Farid Maulana, kang Edi Warsidi, kang Hawe Setiawan, kang Yayan Supriatna, dan Nyai Endit. Kalau dongeng, katanya belajar pada Wa Kepoh (ebuset, ketinggalan pesawat deh gue!) Tunggu ah, yang dekat aja dulu: Abah Amin! Hehehehe… 😛 (modal SKSD Palapa = sok kenal sok dekat padahal gak tau apa-apa *ditoyor*)

Jadi, aku memang harus kembali belajar dari dasar banget. Istilah yang kubaca di linimasa twitter: “Harus melambung untuk merasakan jatuh dan harus menyelam untuk menyentuh dasar.” Menimba ilmu dengan rakus dan gak boleh menyerah. Pasti awalnya dibego-begoin (udah biasa dari jaman kuliah 😀 ) dan harus tahan banting. (yakali bisa, secara aku kan cengeng?)

impian masa kecil dan mama mengamini ^_^

Membayangkan tinggal di kampung tuh enak kali ya? Ke sawah, ke sungai, … Melihat Umar dan Salman berlarian bebas dan bermain tanpa batas. Mengasah pribadi tangguhnya dari alam… Sungguh, aroma hedonis Jakarta mengikis habis jiwaku hingga yang terasa dan terpikirkan hanya kompetisi nyaris tanpa makna.  Sambil mendengarkan degung, kacapi suling, dan diakhiri dengan Cianjuran… Ini mimpi… Yang dari dulu kucita-citakan, seperti Keluarga Cemara (itu lho, serial televisi tahun 90an). Whoah, surga dunia tuh begini! Apalagi kalau menghabiskan usia bersama orang “Uber”. (halah, kode lagi deh!) ^_^

Siapkan mimpi terbaik dan kirimkan pada malaikat agar Allah meridhoi 😉 Semoga. Aamiinn…

~dalam doa, mimpi, asa, dan tujuan yang satu~

2 thoughts on “Semua Harus Kembali Dari Mula”

  1. Leres pisan sakumaha nu disanggemkeun ku kang Dhany irfan, yen nanaon ge tangtosna start ti enol heula. Mung rupina mah urangna ulah teu payaan, kedah sabar sareng soson-soson diajar. Ari nu namina diajar, tinangtos kedah kersa sapertos orok heula, sateuacan mapah, nya ngorondang, sateuacan ngorondang, apan orok teh diajar calik heula, pon kitu deui urang, nu hoyong diajar kana basa Sunda.

    Karaos ku pribados, nu dugi ka kiwari oge diajar keneh, wurukeun keneh, sok remen lepat ari nyarios atanapi nyerat. Boroning urang nu diajar, dalah panulis moyan ge sakapeung mah lepat nyerat sareng ngalarapkeun kecap.

    Kumaha atuh diajarna? Cobi bari dipraktekkeun. Saupami urang gunem, saupami urang komen-komenan, biasakeun ngangge Basa Sunda. Perkawis basa Sunda loma atanapi ngangge basa Sunda Peman (sapertos nu disaurkeun ku teh An :D) eta mah engke ge nuturkeun. Saupami lepat, nya tinangtos aya lepatna, namina ge diajar.

    Ananging, ieu pamaksadan sae teh (diajar basa Sunda), moal kahontal saupami teu aya kawantun ti urangna kangge mraktekkeun. Der ah, dikawitan!

    Suka

  2. Ngeunaan wanci bihari, aya nu nyaur kieu : “Dua hal nu ngajadikeun poténsi jalma nyirorot (kl 40%) nyéta :
    1). Geugeumeueun, inget baé kana kagagalan nu geus karandapan (bihari), sareng 2). Kasieunan teuing dina ngalakonan mangsa nu baris disorang (baring supagi).

    Ngeunaan Basa Sunda utamana undak-unduk basa (asalna mah basa Sunda téh basa nu loma/satata teu aya undak-usuk basa),
    Kamandang sim uing anggo baé basa Sunda sabisana, keun baé teu ngundak-ngunduk ogé (saé bari diajar undak-usuk) tibatan tara dianggo laju ilang teu bisa basa Sunda.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s