Perempuan Mandiri

Aku, sedang menuju ke arah sana. Berusaha tidak manja.

Tergelitik menulis tema ini karena membaca postingan Bundanya Cinta di sini. Jadi teringat pesan almarhumah Mama, hampir 15 tahun lalu.

“Kamu harus memiliki penghasilan sendiri, Teh. Kita tuh perempuan. Kita gak pernah tau yang terjadi di masa depan. Kita harus siap dengan yang terburuk. Misal aja, kalo Bapak meninggal trus Mama gak punya uang sendiri, gimana? Sekolah Teteh dan Adie gimana? Makan sehari-hari gimana?”

“Bapak kan wartawan yang gak ada pensiunnya, jadi Mama harus back up untuk masa depan kalian. Ini yang Mama bisa. Jadi karyawan biasa. Tapi nanti kalau pas masa pensiun, gak terlalu pusing. Dari uang pensiun, bisa deh dagang kecil-kecilan.”

ya gak gini juga kali... multitasking tuh bahaya 😉

“Intinya, jadi perempuan harus mandiri. Gak tergantung suami. Jangan nyusahin suami. Minta ijin ke suami dan bilang apa alasannya kita harus ada penghasilan sendiri. Kalau suami gak mengijinkan, berarti dia siap menjamin kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anak sampai jenjang tertinggi. Ya, minimal SMA.”

Jadi ingat, kelas 1 SD dulu aku sudah jualan di… kelas! 😀 aku pakai uang jajanku  untuk modal dan beli mainan, stiker, alat tulis, dan apa pun deh yang menarik lalu jual ke teman-teman. Lumayan lho. Hanya saja, saking semangatnya, pernah ketahuan guru dan semua daganganku disita. Beliau ngomel-ngomel karena aku dianggap tidak memperhatikan. Nyatanya, nilai ulangan harianku selalu di atas 8 kok. Tapi ya aku jadi agak dongkol saat itu dan semangat dagangku kendor seketika.

Kemudian saat SMA, aku membantu tante dan sepupuku yang membuat kue basah. Kujual di… Kelas lagi! 😛 😀 Laku banget dan tentu saja ada yang menjadi Si Sirik. Hehehehe… Ibu Kantin marah-marah dan menuduhku mengambil pelanggannya. Ih, situ aja kali kurang kreatif 😀

Lulus kuliah aku juga langsung bekerja. Pokoknya cari kesibukan yang menghasilkan. Aku pun akhirnya memikirkan apa yang Mama katakan itu. Ketimpangan rumah tangga akan terjadi ketika sumber penghasilan utama tak lagi mencukupi atau lebih parah: terhenti. Ini bukan semata masalah emansipasi. Tetapi penyelamatan ekonomi keluarga. Apalagi bila sudah memiliki anak. Amanahnya lebih berat. Pertanggungjawabannya langsung pada Allah.

Sampai sekarang pun aku masih belum menemukan sosok super mom yang ideal. Tetapi, kisah Siti Fathimah, ananda Rasulullah, mungkin bisa dijadikan teladan. Bagaimana seorang Siti Fathimah menjadi istri dan ibu yang bekerja ekstra kuat hingga keletihan tersurat di wajahnya. Hal ini pun membuat gundah Sayyidina Ali yang sempat meminta khadimat pada Bapak Mertuanya. Apa jawaban Rasulullah? Ali dan Fathimah diminta berdzikir. Itu saja.

Melayani suami, mengurus dan mendidik anak, dan membereskan rumah beserta segala keribetannya sudah cukup membuat juling. Belum lagi kalau bekerja full time di kantor. Yakin bisa dikerjakan semuanya sendirian? Tanpa khadimat? Salut dan jempol deh buat semua perempuan yang bisa demikian. Catatan ya: sanggup demikian ketika anak-anak berusia balita yang sangat membutuhkan perhatian total ibunya.

Lain cerita kalau anak-anak sudah bisa mandiri. Minimal usia SD. Beban pikiran Ibu tentu berkurang sedikit. Ada yang bisa dimintakan bantuan untuk sekedar merapikan tempat tidurnya sendiri, mandi dan makan sendiri. Betul?

Apa pun dan bagaimana pun caranya seorang perempuan mendapatkan penghasilan, terserah. Be creative! Sekarang banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sambil online. Menjaga anak, mengurus rumah, dan berpenghasilan dapat dilakukan berbarengan.

Jujur, aku sih belum sanggup melakukan multitasking seperti itu. Pasti ada yang dikorbankan. Dan aku memilih membiarkan rumah kayak kapal pecah 😀 Maklum tak ada asisten rumah tangga. Dalam kondisiku, yang penting anak-anak tetap prioritas utama dan terus berpikir bagaimana caranya tetap berpenghasilan demi mereka 🙂

Aku iri pada perempuan-perempuan tangguh di luar sana. Tanpa pembantu, tetap bekerja, rumah selalu rapi, dan keluarga tak telantar. Keren deh! Tapi ada gak ya? Setahuku sih yang rumahnya rapi rata-rata karena ada pembantu. Eh maaf ya kalau salah? 🙂

Sebagai perempuan, jangan pernah sepenuhnya tergantung pada penghasilan suami KECUALI sang pemimpin rumah tangga itu SANGGUP memenuhi kebutuhan primer 100% dan sekunder hingga 70%. Lupakan tersier jika untuk primer saja harus berjuang ekstra keras. Sorry, ini hanya pendapat pribadi dan belum tentu cocok di setiap kondisi rumah tangga. 🙂

Hidup ini sudah sulit, janganlah dibuat lebih sulit. Nikmati saja ^_^

Iklan

2 thoughts on “Perempuan Mandiri”

  1. langsung jleb bacanya. inget mama. bener-bener supermom. Terus jadi sedih jarang bantuin di rumah 😦
    pantesan mama ngomelin mulu tiap hari..hehehe… *kuatin niat buat bantu beberes rumah* 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s