Time Is On Our Side

Jadi ingat lagunya NKOTB jaman baheula… πŸ˜› Itu judul lagu yang dinyanyikan Donnie Wahlberg πŸ™‚

=-=-=-=-=

Aku baru saja membaca sebuah postingan tentang hal sederhana yang bisa membuat kita awet muda. Membacanya membuatku tertegun. Sungguh, terkadang hal seperti itu luput dari pikiran kita, bukan?

IKHLAS. Semua orang bisa menyebut kata itu, namun sedikit sekali dari kita yang benar-benar bisa menerapkan dalam kehidupan nyata. “Iya, saya ikhlas kok. Gak papa.” Tetapi nyatanya di hati masih tertinggal setitik rasa dongkol dan tak rela. Sounds familiar? I did it. Often. Akhirnya membuat aku merasa berat, pusing, ketakutan, dan semua pekerjaanku terhambat. Ujungnya, hanya bisa beristighfar.

Sosok Hendri Lamiri sendiri belum pernah kutemui secara langsung dan dekat face to face. Pernah melihat penampilannya sedang bermain biola tapi lupa di mana. Keren. Indah. Seolah alunannya menyatu dengan jiwanya. Itu mungkin 10 tahun yang lalu. Dan ketika aku membaca postingan di atas yang mencantumkan fotonya, seperti terbawa ke masa lalu. Iya, wajahnya nyaris tak berubah. Sama segar dan tampannya. #uhuk πŸ˜›

Ini yang sedang berjuang kuubah dan pelajari. Menjadi pribadi yang benar-benar ikhlas terhadap segala ketentuan Allah. Siapa yang bilang gampang? Prosesnya ya seperti sebuah baju kotor habis bergulat di tanah merah sehabis hujan dan masuk lumpur (hiperbolis emang!) kemudian direndam deterjen, dicuci, dibilas, dijemur, disetrika, dan disimpan dengan rapi. Tak ada satu pun bagian dari proses itu yang enak. Pun diri ini. Aku sendiri tidak tahu ada di bagian mana. Rendaman atau cucian? Masih jauh untuk menuju proses paling perih: Disetrika. (muka super datar). Lantas, seperti apa ‘proses setrika’ dalam kehidupanku? Mana kutahu? Itu rahasia Allah.

Mungkin juga, proses pembersihan diriku ini juga yang mengandung bahan berupa IKHLAS 100% yang harus kuaduk bersama di setiap ibadah dan kegiatan duniawiku. Seperti akhirnya aku menyadari hikmah indah di balik semua peristiwa selama ini. Ditinggal Mama dan Bapak menghadap-Nya, kuliah dan kerja yang penuh dinamika, serta ujian selama delapan tahun tidaklah mudah kulewati. Penempaan total 13 tahun cukup untuk mengubahku dari gadis manja menjadi perempuan mandiri. Selesai? Belum!

Aku masih membutuhkan Allah sebagai tempat mengadu dan mengembalikan segala sesuatu yang menurutku berat. Aku masih cengeng, ternyata. Aku masih labil, ternyata. Aku masih kotor hati, ternyata. Hingga akhirnya tahun 2011 menjadi titik nadir ke sekian dan titik balik pertamaku. Teguran dan tamparan dari Allah kali ini membuatku mampu mengambil keputusan yang seharusnya aku ambil 5 tahun sebelumnya. Bukan, aku bukan mau menyesali keadaan. Tetapi ketika kupikirkan, keberanianku tahun lalu ternyata memang sudah takdir-Nya. Rahasia-Nya yang Maha Indah.

Dahsyatnya rahasia Illahi itu pun masih membuatku merinding hingga aku menulis postingan ini. Kekuatan cinta itu nyata adanya. Allah mengirimkan padaku sebentuk kasih sayang yang tulus ikhlas, lembut, tanpa pamrih, dan indah hingga membuatku tak henti-hentinya bersyukur.

Kini aku mengerti. Aku mulai dapat membaca segala isyarat dari-Nya yang selama ini selalu kutampik dan kuanggap remeh. Memang badai pasti akan berlalu. Justru hal itulah yang membuat para pelaut menjadi lebih tangguh, kan? Mereka menjadi tahu bagaimana caranya menghadapi masalah di tengah lautan.

Kini aku sudah berpindah dari kapal yang ternyata tak sesuai tujuan awalnya. Aku sudah berada di kapalku sendiri. Tentu saja tak semudah ketika aku hanya menjadi awak kapal. Saat ini akulah nahkoda, awak, dan juga penumpang sekaligus. Ingin rasanya sekadar berlabuh sejenak. Menenangkan pikiran, meregangkan otot, mengistirahatkan segalanya. Lagipula, persediaan bahan bakar mulai menipis. (helllooooo, ini #kodetingkatpropinsi yaaaaa.. πŸ˜› ) Tetapi rupanya Allah belum meberiku ijin untuk rehat barang sejenak. Baiklah, aku menunggu saja isyarat dari-Mu duhai Kekasih… Keikhlasan yang terus kupelajari hingga akhir hayat. Tanpa menuntut apa pun kecuali ridho-Mu.

Time is (always) on our side, baby… Hanya saja, terkadang kita mau enaknya dan membuang pahitnya. Padahal, kepahitan itu sumber kekuatan kita. Waktu terbaik kita adalah saat ini dengan bekal masa lalu untuk menuju masa depan. Tak usah menyesal dan menengok ke belakang. Tak usah mengkhawatirkan yang ada di depan. Cukup berbuatlah yang terbaik saat ini. Sekarang. πŸ™‚

+++++++

tulisan ini untuk #kamu, yang selalu tersenyum seindah pelangi dengan tatapan sehangat senja… πŸ˜‰ terima kasihku senantiasa…

3 thoughts on “Time Is On Our Side”

  1. baaca postingan ini teringat dengan kejadian yang menimpa kakak ku yang tegar dan kuat.. Teteh tetap semangat dan kuat ya.. Semoga pelangi kehidupan mu semakin berwana dan berilau..;)
    salam kenal

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s