One Fine Day With Krucils

Ini sih maknanya ganda πŸ˜›

Krucil pertama maknanya adalah tim volunteer kegiatan Buku Berkaki yang memang disebut demikian. Hari ini aku bersama Shelvy dan Zul berkunjung ke RS. Kanker Dharmais untuk bercerita bersama adik-adik di bangsal anak di lantai 4.

Krucil kedua ya Umar dan Salman πŸ˜› Mereka ikut dalam rangka belajar mengenal dunia yang sama sekali baru. Meski beresiko besar karena lokasinya penuh dengan radiasi dan sumber penyakit tak kasat mata. Tetapi berbekal niat baik dan liLlaahi ta’ala, ayo kita kemon! πŸ˜‰

Sungguh, menakjubkan adalah ketika melihat seorang Yoga (3 tahun) yang penuh semangat joget ketika ponsel ibunya memutarkan lagu “Playboy” 7 ICONS *gubrak* πŸ˜€ Empat anak lainnya yang sempet berkumpul bersama kami selama kurang lebih 20 menit menunjukkan reaksi berbeda. Ada yang diam saja, yang malu-malu menunjukkan minat, dan ada yang sibuk dengan iPad-entah-punya-siapa-itu πŸ˜€

Kemudian, sesi dongeng dari Kak Shelvy baru saja sampai di halaman 4 atau 5 (lupa), para teman kecil kita ingin segera kembali ke kamar. Mungkin karena sudah lama di ruang bermain itu. Akhirnya, justru sesi konseling bersama Mas Erwin Fauzi (salah satu penggagas Community For Children With Cancer / C3) yang berlangsung seru dan cukup membuatku, Shelvy dan Zul terperangah.

Tentang apa itu kanker anak, bedanya kanker dan tumor, apa yang dilakukan pertama kali saat anak demam, benjolan, dan 3M = merasa, meneliti, dan menganalisa.(Eh tolong koreksi kalau salah) Maaf juga ya kalau tulisan ini jadinya ngacak (sesuai ingatan yang keluar ketika menulis πŸ˜€ )

Bahwa ternyata Leukemia adalah kanker yang menyerang anak Indonesia sebesar 70% dari jumlah penderita. Banyak? Bagaimana dengan Kanker Bola Mata? sekita 73,5% penderitanya. Coba cek di RSCM. (Aduh, tadi salah denger gak ya jumlah persennya? Koreksi lagi ya?)

“Untuk Kanker Bola Mata yang paling banyak diderita oleh anak-anak di bawah 5 tahun, belum diketahui penyebabnya. Sebenarnya dapat diantisipasi. Kembali pada kepekaan orangtuanya. Ketika anak mengeluh, ‘Bu, kok mata kiri aku gak bisa ngeliat ya?’ jangan langsung menuduh dengan mengatakan, ‘Ah, kecolok atau kelilipan apa gitu?’ Tetapi perhatikan selama seminggu. Bila memang mata kirinya tetap tak bisa melihat, segera ke dokter anak. Kerusakan pada syaraf mata tak bisa dilihat dari luar, kan?”

Mas Erwin bertanya padaku, apa yang kulakukan pertama kali saat anak demam? Aku jawab: Kasih minum yang banyak dan tidak memberinya obat. Kata dia, tindakan itu sudah benar. Karena, demam belum tentu indikasi seorang anak itu sakit. Siapa tahu antibodi sedang bekerja karena perubahan cuaca yang ekstrim. Tetapi bila sudah 3-4 hari panas tidak turun, segera ke dokter.

“Apa yang biasanya dikatakan dokter?” tanya Mas Erwin. Aku dan Shelvy menjawab kompak, “Kalau gak DBD ya typus.”

“Tak ada yang bilang gejala kanker kan? Lantas disuruh apa? Cek lab? Apa yang dicek? HB dan trombosit? Bagaimana dengan leukosit? Padahal justru itu yang penting. Karena darah putihlah yang menjadi indikator ada sesuatu yang tak beres dalam tubuh,” ujar Mas Erwin membuat kepalaku berdenyut. “Makanya mintalah pemeriksaan jumlah leukosit bila dalam 3-4 hari panas tidak turun,” lanjutnya dengan suara penekanan. (iya, saking pentingnya ini info!)

“Nah, apa pengertian leukemia menurut kamu?” tanyak Mas Erwin padaku. Kujawab saja bahwa sel darah putih menyerang sel darah merah. Jawaban goblok dan polos. πŸ˜€ Padahal sebenarnya bukan itu. “Sel darah putih menyadari ada yang salah pada tubuh. Maka dia meningkat untuk mempertahankan daya tahan tubuh, yang mengakibatkan jumlah sel darah merah menurun. Jadi sel darah putih tidak menyerang sel darah merah. Pernah dengar tranplantasi sumsum tulang belakang? Nah! Itu artinya sudah turun mesin dan ganti baru. Donor sumsum tulang belakang juga 50-50. Pernah baca buku ‘Aku Sekuat Kamu’? Dia seorang survivor leukemia di Singapura.”

“Jumlah leukosit 5000-10.000 artinya aman. Jumlah 11.000-20.000 artinya tubuh kena infeksi. 20.000-100.000 artinya ada yang gak beres dengan tubuh kita. Segera ke dokter ahli. Kalau sudah 100.000 ke atas, hati-hati pembuluh darah otak pecah dan meninggal seketika,” lanjutnya dengan mimik serius.

“Apa bedanya gejala DBD dengan Leukemia? Sama. Demam dan bintik merah. Lantas bedanya di mana? Bintik pada DBD menyebar. Kalau bintik pada Leukemia berkumpul hingga terlihat seperti lebam. Nah, itu yang patut dicurigai. Segera ke dokter ahli.”

“Kanker ada dua, cair dan padat. Cair yaitu Leukemia. Padat yaitu tumor. Tumor ada dua. Ganas dan jinak. Tumor ganas pun terbagi dua, yaitu tampak dan tidak tampak. Nah, tumor itu seperti benjolan. Kamu kejedot aja itu udah tumor. Tetapi akan hilang dengan sendirinya. Itu benjolan yang terasa sakit kan? Tumor ganas tidak akan terasa sakit. Itu sebabnya pula, penderita tumor tidak boleh dipijat. Kenapa? Karena justru akan menyebar.”

“Yang tidak tampak itu seperti tumor / kanker yang menyerang dalam tubuh. Kalian bisa melihat otak kalian? Gak kan? Nah, seperti itu. Gejala kanker otak apa? Tidak seimbangnya ketika seseorang sedang berjalan. Berjalan tak bisa lurus dan sering terjatuh. Jalan, jatuh lagi. Jalan tak jauh, jatuh lagi. Terus begitu. Yang diserang memang syaraf otak yang seharusnya membuat kita berjalan seimbang. Waspadai dan segera ke dokter ahli.”

“Sakit kanker, apa pun itu, ujung-ujungnya adalah pengobatan dengan kemoterapi. Tujuan kemo adalah mematikan sel yang aktif. Apa pun itu. Makanya kenapa rambut bisa rontok dan akhirnya botak? Rambut dan kuku bila digunting akan tumbuh lagi kan? Nah, itu yang dilihat oleh kemo sebagai sel aktif yang harus dimatikan.”

“Kanker pada anak sulit diketahui penyebabnya. Beda dengan kanker pada orang dewasa. Dan harap diingat, apa pun sakit si anak, jujurlah. Jika kita tak jujur, anak dapat melihatnya dari bahasa tubuh orangtuanya. Bilang saja dia sakit kanker. Kita pasti akan melihat reaksinya dia. Tapi itu lebih baik. Kita bisa mengantisipasinya. Justru biasanya yang sulit adalah memberi penyuluhan pada orangtuanya. Anaknya justru cuek.”

“Sekarang gini deh, seenak apa pun fasilitas dan sehebat apa pun pengobatannya, jika si penderita gak nyaman, ya susah. Nyaman itu dampak psikologis. Nah, ini yang kita mau bikin agar masyarakat aware. Makanya kita inginnya menyebarkan informasi yang benar tentang kanker anak kepada masyarakat. Bagaimana deteksi dini kanker pada anak.”

“Di sini ada spesialis deteksi dini kanker. Kalau negatif, alhamdulillah. Kalau positif pun alhamdulillah. Masih dini. Masih mudah penanganannya. Tetapi ada saja yang terlambat ke sini hanya karena tidak memahami cara pendeteksian dini di rumah.”

“Oh ya, kamu tau apa penyebab kanker serviks?” tanya Mas Erwin mengejutkan. Aku menggeleng cepat. Dia menjawab santai, “Pembalut.” Aku bengong. “Iya, pembalut. Makanya kalau sudah tau lagi bocor, sering-sering ganti tuh pembalut,” lanjutnya terkekeh.

Penuturan panjang lebar (tidak dikali luas dan dimensi ya? πŸ˜€ ) dari Mas Erwin itu membuatku semakin memahami bagaimana kanker itu sebenarnya. Melihat ada Umar dan Salman di ruangan itu, dia berkata, “Sebaiknya anak usia di bawah 12 tahun tak ada di rumah sakit karena paru-paru mereka belum berkembang sempurna. Di sini banyak radiasi dari pengobatan. Muntah, kencing, batuk, pilek, keringat itu bermuatan radiasi. Dan ingat, radiasi itu aktif dalam waktu 2×24 jam setelah pulang dari sini.” GLEK!!!!

====++++++=====

Aku adalah anak dari seorang penderita kanker lever stadium 4 yang akhirnya menyerah. Dulu, almarhumah Mama terdeteksi mempunyai kanker hati sebenarnya sudah lama. Kurang lebih sejak adikku lahir. Tetapi Mama tak terlalu menanggapi serius (menurutku waktu itu).

Hingga akhirnya aku harus akrab dengan istilah endoskopi dan kemoterapi, rasanya memang seperti tamparan super sakit dari Allah. Jujur, aku pernah ‘memaki’ Allah dan menyalahkan-Nya. Mengapa harus Mama? Tetapi apakah lantas aku diam? Satu-satunya yang bisa aku buktikan pada Mama adalah mewujudkan impiannya agar aku dapat masuk UI.

Maka ketika aku berhadapan dengan anak-anak pengidap kanker ini, kelebatan ingatan itu muncul kembali dan aku sudah tak bisa menangis lagi. Penyakit ini bukan untuk ditangisi. Penyakit ini harus dipahami, diantisipasi, diobati, dihadapi, dan diperjuangkan meski semua memang akan berujung pada satu hal: kematian.

Tetapi bagaimana kematian itu bisa indah? Bagaimana anak-anak itu bisa tersenyum, tak merasa berat, dan siap menghadapi kematian? Inilah yang diperjuangkan oleh tim C3 di bangsal anak lantai 4 RS. Dharmais Jakarta.

Sepertinya, ini merupakan PR kita bersama. Bagaimana memahami kanker dan menghadapinya dengan bijak. Siap tidak siap, harus. Sebelum terlambat dan saling menyalahkan. πŸ™‚ Yuk, kita pasti bisa!

—–

Oke, itu aktivitas pertama hari ini. Kemudian makan siang yang kesorean di Texas Chicken Slipi Jaya. Ini sesi curcol ya? πŸ˜€

Menunggu bus kota di depan hotel Peninsula itu perjuangan tingkat kelurahan, Jendral! Anginnya kenceng banget. Sekalinya dapet… Berdiri TT_________TT

Baru dapat duduk di Pancoran. Itu pun setelah seorang perempuan muda mau turun. *muka super lempeng* Di depanku berdiri, seorang perempuan muda asyik dengan iPod-nya. Di kanan kiriku, duduk pria-pria yang pura-pura tertidur. Dua deret ke belakang tempatku berdiri, dua orang perempuan hanya cengar cengir gak jelas dan menawarkan duduk pada Umar dengan bahasa tubuh menunjukkan basa basi busuk. Jelaslah Umar gak mau! HELLO JAKARTA CITIZEN!!!! Penumpang bus kota ternyata lebih apatis daripada penumpang KRL. Ini sih sejauh pengalamanku. Entah berapa kali aku harus ‘menderita’ dulu untuk dapat duduk di bus ketika membawa anak-anak. Kalau naik KRL, begitu naik selalu ada yang menawarkan duduk.

Pernah hamil Salman 8 bulan pun aku tetap berdiri di bus tanpa seorang pun memberi duduk. Semua yang duduk di dekat tempatku berdiri pasti langsung kompak tertidur dengan SANGAT NYENYAK… Di lain waktu, ada yang berdiri di dekatku seperti mau pingsan dan meminta tempat dudukku. Padahal di dekat dia juga ada laki-laki yang sedang duduk. Tetapi aku mengalah dan memberinya duduk. Butuh waktu 15 menit untuk dia menyadari bahwa aku sedang hamil ketika memberikan jatah dudukku pada dia. “Oh, Ibu lagi hamil ya?” tanyanya salah tingkah.

“Udah, Mbak duduk aja. Mbak lebih butuh dari saya. Tenang, saya kuat kok,” jawabku tulus. Mukanya emang pucat waktu dia minta duduk di tempatku.

Dan ketika seorang laki-laki memberikan duduknya padaku, itu juga setelah dia dipaksa oleh temannya. Dasar banci tempat duduk!!! Well, itu kejadian tahun 2008. Kupikir manusia-manusia macam itu udah punah tahun ini… Ternyata masih ada… Tsk…

—–

Baiklah. Waktunya aku tidur. Capek. Tapi senang luar biasa. Ilmu yang kudapat saaaaaaaaaaaaaaaangaaaaaatttttt berharga! Thank You Allah!

5 thoughts on “One Fine Day With Krucils”

    1. kalau Banyolan Sunda mau menyediakan tempat untuk penyuluhan semacam ini, mungkin tim C3 bisa ke Bandung πŸ™‚ dicoba saja, kang Yayan πŸ™‚ punten sampaikan pada Abah Amin πŸ™‚

      Suka

  1. Tulisan/catatan yang menarik dan sangat berguna. Penting buat orang tua namun anak-anak pun akan senang membaca catatan (dengan gaya sepeti) ini.
    Sayangnya saya kok jadi merasa prihatin (ikut ngedumel) membaca akhir catatan tentang orang-orang yang tak peka.

    Salam

    Suka

    1. hatur nuhun parantos nyimpang ka dieu.

      mohon maaf jika informasinya kurang lengkap πŸ™‚ dan tentang orang-orang tidak peka, ya saya sudah biasa menghadapinya, kang. 😦

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s