Random Day At Bekasi

Hari ini ke Bekasi untuk urusan ke Bandung. Yang menarik bukan itu. Tapi bagian ketika sore tiba di sebuah masjid.

Selesai shalat Ashar, dengan tergesa aku membuka laptop untuk menyelesaikan tugas rutinku. Sekitar 10 menit kemudian, seorang gadis kurus menghampiriku dengan takut-takut. Suaranya gemetar dan bicaranya terbata-bata. Ia menatapku takut dan ragu.

Kubalas menatapnya agak acuh. ‘Paling tanya rute dan gue bukan orang sini. Bilang aja gak tau deh!’ kataku dalam hati.

“Mbak, maaf,” sapanya sambil mendekat. Aku tersenyum sekilas.

“Mbak, sa… Saya… Sa… Saya ma… Mau… Mmmm… Mau min… Minta tolong. Bo… Boleh gak?” Suaranya tergagap gemetar dan hampir menangis. Waduh, gak beres ini. Ada apa?

“Bantu apa ya?” tanyaku bingung.

“Nnnggg… Sa… Saya… Mau pu… Pulang… Ongkosnya gak… Punya…” Nafasnya mulai tenang tapi suaranya mengecil. Aku diam sejenak. Menghitung sisa ongkos di dompet (dalam hatiku). Berpikir cepat tak bisa juga. Aku sedang fokus pada kerjaan.

“Dek, kamu mau pulang ke mana?”

“Purwakarta.”

“Hah? Lah, kamu ini ke tempat siapa?”

“Nenek.”

“Oh. Kok bisa sih kehabisan ongkos? Nenek kamu gak ngasih?”

“Gak enak, Mbak. Dagangnya lagi sepi.”

“Jualan apa?”

“Ketoprak.” *glek*

“Oke, orang tuamu? Kerja apa?”

“Gak kerja. Tinggal satu. Ibu aja.”

“Kamu anak ke berapa?”

“Kedua. Saya tiga bersaudara.”

“Oh. Kamu sekolah atau kuliah?”

“Sekolah kelas tiga.”

“Nama kamu?”

“Septi.”

“Butuh berapa untuk pulang?”

Dia diam seperti sedang berhitung. “Dua puluh ribu. Naik bis.”

“Oke, mungkin aku gak bisa kasih banyak. Soalnya saya juga harus pulang ke Depok. Tunggu ya? Saya kerja dulu.”

Wajahnya tampak lega. Aku tak memperhatikan lagi karena fokus ke laptop. *teteup yah*

Sekitar 15 menit kemudian, aku menutup laptop dan bilang, “Saya pulang ke Depok mau naik kereta. Kamu naik bis ke terminal kan? Dari sini naik angkot dong? Nenek kamu tinggal di mana?” tanyaku sambil mengajaknya berjalan ke arah stasiun kereta api.

“Di Bulak Kapal.”

“Hah? Itu sih di Timur. Ini kan Selatan. Ngapain kamu ke sini? Terminal justru lebih dekat dari Bulak Kapal,” nada suaraku agak meninggi dan dia ketakutan. Ada yang janggal di sini. Tapi aku gak mau su’udhzon.

“Oke, saya gak tau kamu jujur atau bohong sama saya. Ini untuk kamu. Semoga selamat sampai rumahmu.”

“Terima kasih, Mbak,” wajahnya kembali cerah.

“Terima kasihnya sama Allah aja. Saya gak melakukan apa-apa.”

Lalu kami berpisah di depan Stasiun Bekasi. Aku gak tau dia ke mana karena aku juga langsung ke dalam stasiun. Dalam KRL, aku baru sadar uangku tinggal delapan ribu. Dari Bekasi aku memutuskan langsung ke Stasiun Jakarta Kota. KRL ekonomi tak terkejar. Terpaksa naik Commuter. Dari Stasiun Depok, aku memutuskan naik angkot karena kaki kanan manja lagi. >_<

Alhamdulillah sampai rumah disambut teriakan dua jagoan gantengku itu sesuatu banget. Hilang segala penat. Sempat sedih saat Umar bertanya, "Bunda gak bawa apa-apa?" Aku nyengir salah tingkah. Aku nyaris memberi semua isi dompetku dan lupa pada kedua anakku.

Dosakah aku????

Allah, dzolimkah aku pada kedua titipan-Mu? Aku tak ada maksud untuk menyia-nyiakan mereka dengan sok membantu orang lain… Hanya saja tadi aku berpikir uangku akan cukup untuk membeli susu…

Hingga aku menulis ini, udah gak bisa mikir apa-apa lagi…

Senja yang berlalu dengan sangat cepat tanpa sempat kupikirkan ada apa… Hanya saja… satu kalimat dari seseorang mencerahkan dan menenangkan… Iya, dari #kamu. 🙂

Baiklah… Sebaiknya aku tidur saja…

=====

Terlalu banyak [.] dalam postingan ini… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s