Bening Hati dan Jernih Pikiran

Yang kubayangkan malah aliran sungai kecil di pengunungan dengan suara gemericiknya yang menenangkan. Jadi ingat kalau ke Cilimus Kuningan deh. Damai. Nyaman. Indah. Air bening dengan ikan yang berenang terlihat dengan jelas. Harmoni.

Begitu pun yang kurasa saat ini. Tepat ketika aku memasrahkan segalanya pada Allah. Aku bisa dengan tenang dan fokus memikirkan solusi atas segala kekusutan yang terjadi.

Aku berusaha hanya memilih karma baik. Tak mau mendengar gunjingan yang tak jelas sumbernya, tak mau curiga macam-macam, tak mau menuduh tanpa bukti. Ya karena memang tak pernah. Tetapi lingkungan memiliki andil tumbuh suburnya ‘virus kotor hati’.

Lebih tenang. Seperti ketika arus sungai Cicatih tak terlalu deras, aku mendengar jelas kicau burung dan suara hewan lainnya bersahutan. Bertasbih. Indah sekali…

Maka, berlebihankah bila ketika aku bangun tidur, setelah berdoa pada-Nya dan bershalawat Rasul, aku mengingat 4 wajah ganteng kecintaanku? Bentuk kedamaian yang niscaya 🙂 Sepuluh menit pertama di pagi hari adalah penentuan, apakah kita akan bahagia sepanjang hari atau justru bete tak berkesudahan? Aku memilih yang pertama. Jikalau ada berita tak enak di sisa hari itu, setidaknya sudah dapat meng-counter reaksi sehingga tak merugikan diri sendiri.

Aku sudah cukup merasa kaya dengan apa yang aku miliki: cinta Allah dan keempat pria tampanku. Syukur tak berkesudahan. Bahagia lahir batin. Merekalah kekuatanku untuk tetap bertahan. Cinta memang selalu butuh pengorbanan. 😉

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s