Jalan Rahasia

Entah bagaimana aku menyebut atau menggambarkannya. Semua berawal dari sebuah e-mail atau inbox FB (lupa tepatnya) sekitar tahun 2005. Kakakku memberitahu sebuah kabar yang sarat misteri dan kode. Hingga saat ini pun belum mampu kupecahkan. Tetapi berbagai clue perlahan bermunculan.

Aku sempat tertawa dan mengatakan bahwa itu adalah hal yang mustahil. Aku? Aku? Siapalah aku ini yang bisa menjadi seperti orang dalam kabar itu? Lagi pun, aku tak paham tentang hal itu.

Bersamaan dengan kabar itu, aku seperti mendapat jalan berkenalan dengan seorang shalihat yang cantik dan gaul (bahasa apa ini, An? šŸ™‚ ) dan kemudian banyak berbincang dalam dua kali tatap muka. Juga berkali-kali bertemu dengan sebagian anggota keluarganya. Ada getar aneh dan semakin membuatku penasaran.

Berkali pula aku berniat untuk bertemu dengan suaminya yang shalih. Hingga saat ini belum kesampaian. Sang istri berkata, “Bila Allah belum berkenan, tak akan bisa. Tunggulah hingga Allah membuka pintu-Nya.” Atau memang aku tak akan bisa? Mengapa orang lain begitu mudah? Lantas aku berpikir bahwa aku masih terlalu kotor untuk bisa bertemu beliau. Sang istri pernah berkata, “Bila hendak bertemu, biarkan hati dan pikiranmu kosong. Ibarat teko yang berisi air kotor, tumpahkan semuanya kemudian beliau akan mengisimu dengan air bersih.” Terlihat mudah? Salah! Itu sulit.

Jujur, aku masih terlalu kotor dengan masa lalu yang suram. Aku juga masih sering dihinggapi ketakutan yang tak perlu, meski berulang kali Aria (si arsitek sok sibuk itu) berkata bahwa ketakutan itu hanya ada dalam pikiranku.

Seiring waktu, aku mulai mengendurkan syaraf keegoisanku. Memasrahkan segalanya. Merelakan yang ternyata tak baik bila terus kupertahankan. Tahun 2011, puncak pertama perjuangan refleksi diriku menuai hasil pertama. Aku mulai bisa memilih dan memilah. Apa yang wajib kupertahankan dan kuperjuangkan, serta apa yang harus segera kusingkirkan.

Aku membiarkan Allah mengaturku dengan kuasa-Nya tanpa lagi kuprotes dan beradu debat dalam setiap doaku. Akhirnya, kenyamanan itu mulai memenuhi hatiku. Ma’rifatuLlah itu sulit. Aku menyadari bahwa cintaku tak cukup kuat untuk mengenal Kekasihku sendiri. Namun berulang kali aku terjerumus dosa, apakah Dia meninggalkanku? Tidak sejengkal pun. Dia, dengan caranya, memaksaku untuk mendekat pada-Nya meski aku harus merangkak. Aku rela.

Dulu aku hanya berpikir yang lempeng, ogah ambil resiko, males mikir panjang, dan cari gampangnya aja. Sekarang, segala cara aku tempuh, selama itu halal dan bisa mendapat ridho-Nya. Umar dan Salman yang membuatku lebih kreatif dan gesit. Aku tak mau lengah lagi.

Kemudian, aku kembali teringat dengan kabar dari kakakku itu. Mungkin jalannya tidak segamblang itu. Tetapi aku merasa kakiku seperti sedang melangkah entah ke mana. Ada yang sedang menuntunku. Entah siapa. Entah bagaimana.

Mungkinkah itu sebabnya keinginanku kembali ke Bandung begitu menguat? Mengapa semakin banyak kode dan sinyal dari Allah yang mudah kutangkap dengan kasat mata?

Aku pun mulai menyadari ada sesuatu yang selama ini kuhindari dan kutakuti hanya karena kedhoifanku (kelemahan gitu, An!). Lagi-lagi, aku mulai memasrahkan segalanya menurut kehendak Kekasihku.

Aku tak akan melawan lagi. Begitu saja. Sederhana.

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s