Tak Ada Lagi yang Kupinta

Aku berusaha mengingat dan menerapkan 5 sebelum 5.

5 sebelum 5

“Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu”. Masa muda hendaklah dipergunakan sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan, kesuksesan, dan keberhasilan. Karena masa mudalah kita mempunyai ambisi, keinginan dan cita-cita yang ingin kita raih. Bukan berarti masa tua menghalangi kita untuk tetap berusaha mencapai keinginan, tapi tentulah usaha masa tua akan berbeda halnya dengan usaha saat kita masih muda. Maka, masa muda hendaklah diisi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat hingga tidak menyesal di kemudian hari.

“Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu”. Disini kita dianjurkan untuk menghargai waktu, agar bisa diisi dengan hal-hal yang bermanfaaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Misalnya, menengok saudara ketika ada kesempatan sebelum kesibukan menghampiri kita, hingga tidak sempat lagi untuk sekedar mengunjungi kerabat.

“Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu”. Hal ini juga anjuran agar kita senantiasa waspada pada segala kemungkinan yang sifatnya diluar prediksi manusia, seperti halnya sakit. Sakit di sini bukan sebatas sakit jasmani, tapi juga sakit rohani. Maka ketika kita sehat jasmani-rohani, hendaknya kita senantiasa mempergunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat tanpa mengulur-ngulur waktu.

“Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu”. Tidak terlalu jauh berbeda dari penjelasan di atas. Ketika kekayaan ada pada kita, baik berupa materi atau lainnya, maka hendaknya kita memanfaatkannya sebaik-baiknya, jangan dihambur-hamburkan.

“Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu”. Yang terakhir ini merupakan cakupan dari empat hal diatas. Ketika kita diberi kehidupan, maka hidup yang diberikan itu sebenarnya merupakan kesempatan yang tiada duanya. Karena kesempatan hidup tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kehidupan harus dijalani sesuai tuntutan kemaslahatannya.

Sumber penjelasan di sini dengan sedikit editan.

Usiaku sudah memasuki 30 tahun lebih sedikit. Sudah berapa banyak waktuku terbuang percuma hanya untuk menyesal, menangis, memaki, dan merutuk? Kelemahanku dahulu adalah egois, keras kepala, manja, dan gegabah. Ketika sekolah, semua hal itu benar-benar menjadi bumerang bagiku. Apalah artinya selalu mendapat nilai akademis di ruang kelas, bila tidak diikuti nilai sosial yang baik di mata masyarakat? Ya, aku termasuk perempuan gak bener di masa dulu.

Eits! Bukan seperti yang dipikirkan! Aku jauh dari narkoba dan pergaulan gak jelas. Bagiku, sering pulang malam dan menghabiskan waktu tak jelas manfaatnya itu termasuk kategori gak bener. Nah, saat aku menulis semua ini, baru terasa betapa dzolimnya aku terhadap diriku sendiri!

Waktuku tak banyak lagi. Sudah setengah jalan. Entah kapan aku kembali pada-Nya. Masihkah aku mau menyia-nyiakan cinta-Nya? Masihkah aku tak mau mendengar peringatan-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Masihkah aku mau terus terpuruk?

Dulu, aku ingin memiliki rumah 2 lantai dengan banyak kamar agar dapat dipakai untuk berkumpul semua keluarga besar. Kini aku hanya ingin rumah kecil dengan 2 kamar.

Dulu aku ingin memiliki ini itu. Banyak sekali. Tetapi ketika menyadari bahwa ketika di pengadilan Allah nanti semua yang kumiliki akan dimintai pertanggungjawaban, maka kupangkas semuanya. Tersisa hanya: rejeki yang sedikit namun berkah. (Terserah deh kalau dibilang sok jaim. Pasrah 🙂 )

Dulu aku mengimpikan seorang suami yang nyaris sempurna fisik dan baik tetapi aku mengabaikan sisi keshalihannya. Kemudian yang kuimpikan adalah seorang imam.

Dulu aku ingin menjadi wanita karir yang sangat sukses dan memiliki usaha sendiri. Kini, aku hanya ingin belajar menjadi ibu yang baik di mata kedua anakku.

Duhai Kekasih, aku hanya ingin meninggalkan kefanaan ini kelak dalam keadaan bersih. Segala ujian-Mu kini kuterima dengan ikhlas, setelah dahulu kuambil dengan emosi. Biarlah semua menjadi ketentuan-Mu. Semua yang baik hanya dari-Mu dan semua yang buruk semata karena kesalahanku…

Allah, bila Engkau ijinkan, beri aku waktu untuk menemani kedua mujahidku tumbuh dan berkembang hingga siap menjadi pasukan pembela agama-Mu. Sungguh aku tak rela bila melihat mereka menangis, meski aku tahu Engkaulah sebaik-baik Pelindung…

Allah… Masihkah aku boleh meminta? Karena aku tahu waktuku tak banyak tersisa…

Iklan

2 thoughts on “Tak Ada Lagi yang Kupinta”

  1. Met malam mba,
    Baru sempat buka blog mba lagi. Tampilan baru rupanya…
    Mba, masih muda loh, masih 30 lebih sedikit kan? Oh ya kita harus tetap meminta mba. Kita kan makhluk, mintalah kepada Sang Khalik. Meminta, berdoa dan berusaha tentunya.
    Tentang lima perkara, saya suka yg dibawakan Emha dg Kiyai Kanjeng-nya, yg berjudul Tombo Ati… Itu dahsyat banget dg lirik berbahasa Jawa.
    Tetap menulis mba. Semoga yg mba pinta, dikabulkan olehNya.
    Salam,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s