Satu Doa yang Sama

Tulisan ini tak akan panjang.

=-=-=-=

Haruskah menjadi keledai untuk menyadari sebuah kebodohan? Meski sebenarnya di balik semua itu, hikmah yang kupetik amatlah berharga, tak dapat dipercaya bisa sedahsyat itu…

Tahun 2003. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh memanggil nama seseorang. Tanpa kusadari siapa sebenarnya dia. Hanya sebuah nama yang kurasa sangat akrab denganku. Tetapi Allah berencana. Nama yang kupanggil, meski jaraknya tak terlalu jauh, masih tak bisa kujangkau apalagi kulihat.

Tahun 2011. Nama yang sering kusebut dalam ketidaksadaranku semakin mengusik. Ketika aku melihat namanya, sesaat aku terpana dan berkata, “That’s him!” tanpa tahu maknanya. Ketika dia mewujud sempurna di hadapanku, hanya satu yang kuucap dengan kesadaran penuh. “Subhanallah.” Perlahan, aku mulai memahami rencana Allah.

#kamu

Kini aku tahu, kehadirannya menumbuhkan keberanian dan menyentak kelengahanku. Allah tak pernah salah. Aku yang terlalu berburuk sangka pada-Nya.

Allah, segalanya telah mengubahku dan aku mengerti. Engkau mengetahui apa yang tersirat di lubuk hatiku. Kubiarkan segalanya menurut skenario terbaik-Mu. Engkau Maha Sempurna untuk segala kebutuhanku.

Jangan biarkan aku mengulang kesalahan. Bimbing aku menuju Jannah-Mu. Kutahu Engkau tak akan memberiku ujian melebihi yang sanggup kutanggung. Terima kasih tak pernah jauh dariku.

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s