Di Hati dan Pikiran

Banyak yang memenuhi hati dan pikiranku akhir-akhir ini. Semuanya mengusikku (jika tak boleh dikatakan mengganggu). Tak heran membuatku agak stres dan jerawat langsung menyerbu seperti penggemar fanatik. Aaaarrggghhh… T_____T

Aku mencoba mengurainya di sini (karena tak ada fasilitas mind map yang seharusnya (dan biasanya) dapat sangat membantuku).

Pertama tentang krucil gantengku Umar dan Salman. Terutama sekali adalah mengenai trauma healing yang menjadi PR jangka panjangku. Semua salahku yang terlalu banyak berpikir dan sok penuh pertimbangan hingga tak menyadari jika kedua anakku terus tumbuh setiap hari. Luka mereka semakin bertumpuk. Itukah yang kumau?

Pendidikan yang cocok untuk mereka saat ini adalah metode unschooling untuk perlahan menuju homeschooling. Setidaknya mereka nyaman seperti itu. Belajar bersama Bunda, di mana saja, kapan saja, dan bertemu siapa saja untuk menimba ilmu 🙂

rumah idamanku

Kedua adalah tentang rumah di Depok yang masih dalam tahap diiklankan. Banyak yang menawar, survey, menimbang, memikirkan, hingga sempat cocok namun tidak jadi. Menawar sih tentu saja boleh. Jika sesuai dengan bujet, kenapa gak? Tetapi kalau menawarnya terlalu Afgan juga ya keterlaluan toh? Di media mana pun aku membuka harga Rp280 juta dengan harapan yang menawar pun cukup realistis. Lah ini baru saja 30 menit lalu ada yang menelepon dan bertanya, “Gak bisa ya di bawah 100 juta?” *pingsan* Oke, jual beli rumah memang tidak seperti jualan kacang rebus. Sabar, tetap ikhtiar, dan serahkan segalanya pada Allah. 🙂

Sebenarnya aku sedang mencari investor yang bisa memercayaiku mengelola dananya dan demi Allah ini serius. (semoga siapa pun yang baca, bisa meneruskannya pada para the have itu ya?) Mungkin karena tampak rumahku saat ini tak cukup cantik untuk selera para penjual, jadinya mereka menawar dengan sadis. (hix).

Skenarionya begini:
Pertama aku pindah dulu bersama krucil ke Bandung. Kedua, rumah di Depok yang kosong itu direnovasi hingga terlihat pantaslah. Kemudian dijual. Nah ketiga, hasil penjualannya tentu bisa dikembalikan pada pemilik modal awal toh? Sederhana sebenarnya. Masalah hitungan rincinya bagaimana, yang berminat bisa hubungi aku langsung. Demi Allah aku tidak akan menipu. Gak berkah dunia akhirat…

Ketiga tentang pemasukan dan pengeluaran bulanan. Oh ya tentu ini klasik banget. I’ll do anything possible, as long as its halal and thayyib for my babies. So far, alhamdulillah kami bisa bertahan dengan segala rejeki dari Allah. Aku yakin, Dia tak akan menyia-nyiakan kedua jagoanku. Yang harus kulakukan hanyalah menjemput rejeki dari tangan-Nya. Semakin besar mereka, aku harus semakin kreatif, tidak lengah, dan gesit. Menyingkirkan ketakutan terbesarku: kelemahanku. Sulit memang, tetapi bukan berarti tak bisa ditaklukkan. 🙂 I believe in Allah. As always.

Keempat tentang …. Ehm, yang ini sih dibahas tersendiri saja deh. (Iye, kamu, kamu, kamu, dan kamu sudah tahu kan aku mau cerita apaan?) 😉

Nah, dari ketiga poin yang memenuhi pikiran dan hatiku hingga galau itu… Berpusat pada satu tujuan: Bandung! *teteup yah!*

Jadi gini: (Seperti yang pernah kupusingkan bersama Saidah) apa pun yang pertama datang padaku, tetap aku HARUS pulang ke Bandung! Pekerjaan duluan? Gampang! Bisa ngekos sama krucil. Kalau pekerjaan itu kantoran, gaji aja nanny selama jam kantor. Kalau bisa dikerjakan di rumah, lebih santai lagi 🙂

Rumah duluan? Hyah, ini sih oke banget! Mantap jaya! Aku tak akan pusing tujuh keliling seperti sekarang. Dan semoga jerawat tak mau lagi singgah di wajahku ini 😛

Justru pertanyaan retorik Saidah berikutnya yang membuatku makin galau. “Kalau jodoh duluan yang dateng, Mbak?” Mari mengamini yang ini juga. Doa yang baik harus diamini dengan penuh kesungguhan agar malaikat mendengar dan menyampaikannya pada Allah kemudian diijabah-Nya, bukan?

Seperti yang sudah pernah aku utarakan berulang kali, aku siap lahir batin. Allah Maha Tahu segalanya. Jadi, yang kulakukan saat ini tentu saja hanya berdoa dan berusaha memantaskan diri lebih baik lagi, toh? (elu ngomong apa sih, An??)

Semua akan mewujud sempurna dan indah pada waktu-Nya. Seperti ketika kita kecil, melihat sulaman ibu dari bawah tempat duduknya dan menggerutu, “Ibu sedang apa sih? Mengapa benang dan kain ini begitu berantakan?” Ibu hanya tersenyum dan tetap menyulam. Tentu saja, kita semakin kesal, bukan? Tak sabar dan uring. Tak jarang kita tarik-tarik benang yang menjuntai di bawahnya. Akhirnya Ibu hanya berkata, “Sabarlah, Nak. Sebentar lagi, kamu bisa melihatnya.” Tak lama, Ibu mengajak kita duduk di pangkuannya dan memperlihatkan hasil sulamannya yang indah. “Ini yang kamu tunggu, kan? Ibu membuatnya khusus untukmu.” Sulaman bergambar mobil (untuk anak laki) atau taman bunga (untuk anak perempuan). Kita terperangah dan berdecak kagum. “Cantik, Bu. Tapi mengapa di sisi sebaliknya begitu berantakan?” Ibu hanya tersenyum dan menjawab, “Karena kamu hanya melihat dari sisimu saja. Kalau Ibu melihat dari sini, cantik.”

Cerita itu menggambarkan hubungan kita dengan Allah, kan? Ini kisah yang merupakan tamparan untukku. Selalu tak sabaran dan mengeluh. Duh dosa!

setia menunggumu

Baiklah, delapan tahun menunggu yang terbaik dari Allah itu kupikir memang pas. Allah benar-benar mempersiapkan segalanya dengan Maha Sempurna. Betapa dhoif aku di hadapan-Nya…

Bismillah, laa haula wa laa quwwata illa biLlaah… 🙂

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

PS: tulisan ini sudah diracik dengan berbagai bumbu penyedap dan juga racun untuk para kepoers. silakan yang mau menelan mentah-mentah tulisan di atas. aku tidak bertanggung jawab. meski yang fiktif hanya sekian persen… (racun tidak berlaku untuk para sahabatku dong ah!)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s