Harapan Itu Tetap Ada

Standar banget ya judulnya? Ember.

=-=-=-

Ini tentang perjuangan memperbaiki keadaan yang sudah hancur lebur. Trauma yang sulit dihilangkan, harga diri yang terkikis, dan kekuatan yang nyaris habis. Tetapi memiliki Allah, itu lebih dari cukup. Percaya pada-Nya selalu. Yakin bahwa Dia tak bermaksud meninggalkanku. Dia justru ingin aku mendekat pada-Nya meski dengan merangkak dan nafas satu-satu. Mungkin kedengarannya lebay dan terlalu berlebihan. Tetapi, aku yakin kalian tak akan mau ada di posisiku.😉

 

Ini tentang keinginan kuat untuk bangkit dan berubah. Keadaan yang memporakporandakan jiwaku hingga nyaris berada dalam keadaan bipolar disorder, membuatku sempat menghentikan langkah. Ragu itu pernah menghantuiku. Tetapi seseorang, memberi secercah harapan itu. Ia mengingatkanku untuk bertahan dan berjuang demi kedua anakku. Ia yang sangat peduli dengan Umar dan Salman, menyentak kelengahanku. Ia yang selalu hadir di saat terburukku meski dalam seuntai doa.

Ini tentang keinginan untuk maju lebih baik. Dukungan semangat dari teman, sahabat, rekan, dan saudara sungguh tetap dapat menyalakan api mimpi itu. “Pasti bisa, An!” “Jangan takut!” “Tetap ikhtiar dan dzikir.” “Selalu didoakan.” Sungguh, betapa aku masih lebih beruntung… Terima kasih. Para sahabatku, yang mengerti aku, tak akan tergantikan oleh materi semahal apa pun.

Sahabat lamaku setia memberiku doa meski sekarang sulit untuk bertemu tatap muka, suara di telepon atau tulisan melalui sms / media sosial sudah lebih dari cukup. Untuk Vey bunda Shasya dan Ona, terima kasih tetap ada untukku.

Sahabat baruku, memberi warna pelangi melebihi perkiraan dan bayanganku. Terlalu indah dan memesona. Allah memberi kalian pada hidupku, tentu saja dengan hikmah yang luar biasa. Sary, Danny, Indra, Saidah, Ichy, Zul, Aria, Irfan… Kalian semua keren!

Ini tentang pelajaran tentang kehidupan dan dunia yang pernah kutinggalkan. Allah mulai menunjukkan, bahwa aku harus segera pulang. Kembali ke tempat di mana aku berasal. Ke Bandung. Ini bukan sekedar mimpi dan harapan kosong. Berjuta alasanku ada di dalamnya. Ini bukan asal ngecap dan tong kosong. Terima kasih dukungannya yang tulus kepada Abah Amin, Kang Jajang, Koh Bunhaw, Nyai Endit, dan Kang Edoy atas kesempatan belajar pada kalian dan segenap anggota Banyolan Sunda. Maaf selalu merepotkan ya?

Aku pasti pulang ke Bandung. Ke tempat seharusnya aku kembali dan berada. Terdengar lebay dan norak? Gak masalah😛

Allah, terima kasih atas segala cinta-Mu. Karena-Mu aku masih bisa menulis semua ini… Hingga menjejak sempurna.

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

PS: #kamu, yang pasti membaca postingan ini… Teristimewa terima kasihku untukmu.🙂

2 thoughts on “Harapan Itu Tetap Ada”

  1. “Ini tentang perjuangan memperbaiki keadaan yang sudah hancur lebur. Trauma yang sulit dihilangkan, harga diri yang terkikis, dan kekuatan yang nyaris habis. ”

    Ini seperti membaca kisah hidupku sendiri bune🙂

    Beruntungnya dirimu dikelilingi sahabat-sahabat yang menjadi saluranNya untuk memberimu kekuatan. Semoga bisa segera kembali ke Bandung.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s