Baiknya Bagaimana?

Itu pertanyaan jebakan betmen, kayaknya.

Tadi setelah bubaran acara NBC Jakarta, biasalah after party bareng Saidah di Blok M Plaza. Lantas mengalirlah cerita gado-gado. Namanya juga perempuan. Ya gak sih? *cari pembenaran*

Aku bingung karena melamar kerjaan ke Bandung, tapi panggilan wawancara saja gak dapet. Padahal persyaratan semua memenuhi. Apalagi “bersedia ditempatkan di Bandung” sudah aku nyatakan juga di surat lamaran. Tiba-tiba Saidah nyeletuk dengan santainya, “Kalo gitu sih, mending nungguin panggilan yang mau ngelamar dari Bandung aja, Mbak.” Dan dia nyengir nyebelin. Aku sempat bengong gak mudheng. “Maksudnya?” Dan sedetik kemudian aku melotot tersadar.

Aaaaiiiiaaaaaaa….. Dan kami berdua sama-sama mengucap, “Aaamiiiinnn….” 😛

Doa Sederhana

Aku menceritakan tentang keinginan Umar yang mendesak meminta adik perempuan. Saidah hanya mengamini. Aku yang pusing deh…

Aku juga bilang pada Saidah kalau aku sudah siap apa pun. “Pokoknya kalo gak kerja duluan ya rumah duluan deh yang laku untuk segera pindah ke Bandung,” ujarku geregetan.

Lagi-lagi Saidah nyeletuk, “”Kalau nikah duluan, gimana?”

“EH?” reaksi spontanku disambut tawa kecilnya.

“Ya tinggal mengamini saja, Mbak. Gak ada yang tau rencana Allah, kan? Kita gak tau kalau ternyata itu duluan yang diatur Allah,” jawab Saidah santai.

Aku mengamini dalam hati. Tetiba tersadar sesuatu. “Sai, aku kok akhir-akhir ini mikir ya… Kepikiran terus… Ada sesuatu di bulan … (maaf yang ini sensor ye?)”

Saidah menjawab, “Aaamiinn… Apa pun yang terjadi bulan itu, semoga yang terbaik untukmu, Mbak. Berdoa itu harus lengkap, Mbak. Aku nih mintanya dapet kerja terus, makanya sama Allah gak dikasih-kasih jodohnya,” ujarnya tergelak. Aku terkekeh.

Aku menelan ludah. Runutan skenario Allah ini benar-benar ajaib. Ada sesuatu yang menggelitikku.

Doa dan Harapan

Bingung karena tak tahu apa yang Allah berikan pertama kali padaku itu? Yang pasti bagiku adalah kebahagiaan untuk keempat pria gantengku. Semuanya seperti efek domino. Aku ingin semua bahagia. Sesederhana itu saja. Tetapi ternyata tidak semudah itu…

Ini sudah tak bisa lagi kutanggung. Aku pasrah pada Allah. Toh semua kode sudah kuterima dengan baik dan jelas. Aku siap. Mengalir begitu saja. Aku tinggal melakukan semua skenario-Nya. Rumah, kerja, dan….. (ini meski sensor, udah pada tau kan? *kepedean*)

Menunggu. Karena aku tinggal & besar di lingkungan yang kaku bin saklek gak jelas. Begitulah. Memangnya pendapatku bakalan didengar dan diperhatikan oleh mereka? Yakali mereka mau… 🙂

Justru aku pasrah bukan karena tak punya pendapat, tapi karena mencoba menghargai dan mengerti mereka. Itu aja sih. Lagi pun, untuk salah satu doaku, hanya tinggal memerlukan kata ‘kun fayakun’ dari Allah kok. 😉 Dan aku sangat yakin, waktunya tak lama lagi. Insya Allah…

~dalam doa, asa, dan mimpi yang satu~

2 thoughts on “Baiknya Bagaimana?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s