Undak Usuk Basa Sunda

Mengapa aku tidak pernah percaya diri untuk mempelajari Basa Sunda ketika sekolah dulu? (SD-SMP dapat pelajaran ini seminggu dua kali). Karena adanya tingkatan bahasa yang digunakan dalam keseharian. Contoh PALING SEDERHANA adalah penggunakan sebutan. Kapan harus memakai aing, urang, abdi, dan sim kuring saja sudah cukup membuat mules dan stres. Itu baru sebatas kata tunjuk pertama. Belum kata tunjuk kedua: siah, maneh, salira, anjeun… Matek!!!!

Keluarga Mamaku berasal dari tatar Sunda. Masih keturunan……… (ah, aku gak mau disebut sombong menyebut nama mereka). Tetapi masalahnya adalah, dari kecil memang tak pernah diajarkan berbahasa Sunda dalam keseharian. Mama sendiri bahkan mengatakan alasannya, “Takut salah ngajarin.” Haduh Mama, justru itu yang membuatku terjebak di masa kini… *halah banget*

Parahnya lagi adalah, kebiasaan dari kecil, mendengar para uwak, bibi, dan sepupu jika berbahasa Sunda, ternyata lebih sering menggunakan tingkatan basa loma / kasar. Jadilah hingga sekarang aku lebih ‘lancar’ berbahasa gaya preman. *duh Gusti*

Kamus Wajib Untukku

Ketika kang Irfan mengenalkan padaku tentang Rancabanyol, Baraya Banyolan Sunda, dan Radio Baraya Sunda… Asli batin rasanya berantem. Ada semacam tanda, kode, sinyal dan entah apa lagi tentang hal ini. Bahwa sebentar lagi, aku memang mau gak mau, harus kudu mesti wajib menggunakan Basa Sunda setiap hari. *glek* Setiap hari?
(Ya kan elu mau pindah ke Bandung, An!)

Menggunakan Basa Sunda lemes, seperti Bahasa Kromo Inggil, tidak bisa sembarangan. Aku, hingga detik ini tetap tidak mengetahui cara penggunaannya. *mampus gak sih lo, An?*

Nah, coba perhatikan komentar kang Jajang di bawah ini:
Puguhan ngahaja akang ngangge basa sunda teh supados salira panasaran sareng milarian naon hartos na. Da upami ngangge bahasa indonesia atanapi inggris mah salira tos manuk na tangtos na nya ? heu…heu.
Da nu namina diajar kana hiji bahasa mah tiasa lancar soteh pedah ku sering na diangge. Nanging akang ngarojong pisan saupami salira soson-soson bade diajar kana basa sunda, Insya Alloh seueur anu kersa ngabantos. Bade ka akang sumangga, bade ka nu sanes na oge sae….

Mau nangis gak sih? Bukan artinya, tapi ini termasuk tingkatan manaaaaaa??? Aku ngertilah artinya. Apalagi yang hurufnya aku tebalkan itu. Memang belajar bahasa harus sering dipakai. Seperti aku belajar bahasa Jepang. *manyun*

Tidak seperti bahasa Arab atau Perancis yang ‘hanya’ membedakan feminin dan maskulin, tingkatan bahasa lebih membuat stres buatku. Takut kurang ajar pada sesepuh. Itu aja sih inti ketakutanku. Maksudnya sopan, tapi karena salah penggunaan bahasa dan kosa kata, yang ada aku digampar kali, ya? *takut lagi*

Setiap mengintip komen-komen Baraya Sunda di facebook, hampir 80% aku mengerti artinya, tetapi TETAP TIDAK BISA MENGKATEGORIKAN… Itu bahasa loma atau lemes? *jedotin pala ke tembok* Ya tak usah dibandingkan dengan bahasa tingkat sastra yang jelas lebih berjurang dalam buatku. *lebay? bodo!*

Dalam situs resmi Banyolan Sunda, aku mencoba belajar membedakan Basa Loma, Lemes keur sorangan, dan Lemes ka batur. Mungkin yang menyebalkan untukku adalah apa bedanya dan bagaimana cara membedakan Lemes keur sorangan dan ka batur???? Inilah sandunganku selama ini. Sampai detik aku menulis ini, belum mendapat jawabannya.

Ya Allah, tolong aku… Setahun pertama ini pastilah bahasa Sundaku super kasar. Tiga tahun pertama belajar memperkaya kosa kata dan lima tahun pertama belajar membedakan Lemes ka sorangan dan Lemes ka batur. Baiklah, kepada siapa aku harus belajar?

Alhamudulillah, dalam seminggu ini aku berkenalan dengan kang Jajang, koh Bunhaw, dan Nyai Endit. Setelah sebelumnya (sok) kenal dengan kang Edoy dan kang Dhany. Baidewei terima kasih banyak lho kang Irfan yang sudah berbaik hati mengenalkan aku dengan komunitas Banyolan Sunda tahun lalu. Baru ada keberanian tahun ini untuk memperkenalkan diri. Untunglah mereka semua mengerti dan mau mengajarkan aku. *lega sambil pusing*

Tapi gak papa juga sih. Aku malah ‘memohon’ pada mereka untuk tetap memaksaku mengartikan kalimat bahasa Sunda yang mereka sodorkan padaku. Toh, mau gak mau aku harus belajar kan? Di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, kan? Kalau aku memang berniat serius tinggal di Bandung, tentunya harus belajar budaya dan bahasa setempat, toh?

Jadi… *tutup mata, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan, buka mata* Bismillah!
(gak usah kebanyakan lebay deh, An!)

~in a very good mood for learning something new!~

PS: teristimewa postingan ini untuk kang Agus “Agna Sky” yang kukenal pertama kali tahun 2010 dan secara tak sadar memberikan kontribusi positif untukku berani berbahasa Sunda, meski masih belepotan. Hatur nuhun, Kang! 🙂 Salam untuk ulet bulu di Ciremai 😛

Iklan

5 thoughts on “Undak Usuk Basa Sunda”

  1. @andiana | sok ah, mangga lajengkeun… 🙂

    ps: janten kaemutan, dinten kamari pami teu lepat mah Kang Soni Farid Maulana, salah sawios penyair kebanggaan urang sunda, anjeunna tepung taun. atos di’add fb’na teu acan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s