Pelestarian Budaya Sunda Era Digital

Sunda punya: 894 kategori Tembang Sunda Cianjuran, 1358 Kategori kawih Sunda, dan 2599 kategori lagu Gamelan (pelog,sorog,salendro) ~ Dhany Irfan, pada status Facebook 16 Februari 2012.

Kang Dhany

Dhany mengakui bahwa dirinya sendiri pun belum menghafal salah satu kesenian tersebut di atas. Tantangan yang sungguh tidak mudah, mengingat generasi muda saat ini sangat sedikit yang mengetahui apa itu Tembang Cianjuran.

Jujur, aku sendiri sama sekali buta akan budaya Sunda meski 50% darah dan jiwa ini harusnya memahami kesenian Sunda. Minimal bisa berbahasa Sunda, lah… Nyatanya? *ditoyor sekampung*

Aku belum pernah bertemu dengan kang Dhany, karena dia saat ini sedang bekerja di Tokyo. Semoga Allah memperkenankan aku bertemu dengan salah seorang calon maestro seni Sunda masa depan ini. Aamiin 🙂

Mengenal kang Dhany awalnya dari kang Irfan Arifuddin, sahabat terbaikku dari Bandung. Di suatu sesi chatting Y!M pertengahan tahun 2011, kang Irfan memberiku link dari youtube lagu Over The Rainbow yang instrumennya dimainkan oleh kang Dhany. Aku yang saat itu tidak begitu ngeh, hanya mengatakan musiknya bagus. Kemudian, kang Irfan bilang bahwa saat ini kang Dhany sedang membuat banyak aplikasi musik Sunda untuk iPhone.

Mulai saat itulah aku bengong dan bingung. Angklung pada iPhone? Kacapi pada iPhone? Kendang pada iPhone? HAH??? EMANGNYA BISA? Itu pertanyaan bodoh dan tolol sebenarnya. Yaeyalah, hare geneh, apa sih yang gak bisa? Aku mulai mencari tahu siapa kang Dhany dan apa saja kegiatannya. Membuka situs pribadi yang keren ini benar-benar menjadi titik balik pemikiranku. Dulu, saat masih sekolah, aku nyaris tidak peduli pada kesenian dan kebudayaan Sunda. Asli malasnya kalau sudah mendapat PR membuat karangan bebas dalam bahasa Sunda. Selalu bertanya pada tante atau uwakku. Hehehehe… Parah!

Salutnya aku pada kang Dhany adalah tetap konsisten mengembangkan aplikasi untuk diterapkan pada gadget secanggih produk keluaran Apple itu. Sebenarnya, ini masukan juga untuk kang Dhany, bahwa di Indonesia (apalagi di tatar Sunda) tak semua orang memakai produk Apple. Faktor utama adalah mentok di harga. Jujur, aku pun ingin belajar memainkan aplikasi itu… Tapi apa daya, harga iPhone yang selangit mesra itu tak terjangkau untuk saat ini.

Radio Baraya Sunda

Nah, kalau radio yang satu ini, bukanlah radio seperti Mustang, Prambors, Female, dan lainnya. Tagline “Radiona Urang Sunda di Alam Maya” benar-benar diusung secara serius. Coba mampir ke RBS dan dengarkan lagu-lagu yang disuguhkan. Memang random karena tidak melulu lagu berbahasa Sunda. Kadang lagu dangdut, jazz, atau pop. Aku mengenal RBS pun dari kang Irfan.


Nah itu kang Irfan lagi narsis di samping banner RBS.

Awalnya aku iseng mendengarkan RBS saat sedang bekerja atau saat senggang. Memang jadinya tidak fokus. Maksudku, niatku mendengarkan RBS adalah belajar bahasa Sunda (lagi), sama seperti mengingat pelajaran kikitori Nihonggo jaman kuliah dulu. Hehehehe… Teteup yah, gak jelas kedengerannya. Hanya selintas, beberapa kosa kata saja. Selebihnya nyengir gak ngerti. Jiahahahaha.. Ops!

Aku suka mendengar suara Nyai Endit yang halus dan enak didengar 🙂 Banyolan Kang Jayus (singkatan dari Jajang Yopiandi U. Suparman, tapi -katanya- emang kelakuannya rada jayus! *siap disambit*) terkadang aku mengerti, kadang juga gak. 😀 *digampar* Seru sih kalau dengar selepas Isya, ada program acara khusus yang membuatku mendengarnya harus dalam keadaan khusyuk demi kosa kata yang sulit. (sekali lagi) teteup yah… Susah, Mak!

Penyiar RBS

Itu kang Jayus. Kasep, nya? Heuheuheu…

Itu sebabnya aku banyak mengajukan friend request di Facebook pada teman-teman dari Baraya Banyolan Sunda, yang kutahu dari kang Dhany dan kang Irfan. Komen-komen pada status mereka diam-diam kusimak dan kucari tahu artinya. Stalker sejati! Wakakakaka… Seru deh, aku jadi suka tertawa sendiri.

Aku sih belum jadi anggota Baraya Banyolan Sunda, soalnya belum ada lampu hijau untuk diajak ke sana sama……. *sinyal hilang*

Tetapi melestarikan budaya Sunda tak hanya sebatas online seperti aplikasinya kang Dhany, RBS, atau pun ngacapruk (ini istilahnya kang Irfan) di facebook. Perlu ada langkah kongkrit selanjutnya. Kang Dhany pernah hendak mengajakku dan beberapa orang lain untuk ketik ulang buku-buku langka yang sedang dia scan di Tokyo sana. Belum ada kabar lagi. Semoga, semua peninggalan sejarah kuno budaya Sunda dapat terselamatkan dengan baik dan cita-cita membangun Pusat Budaya Sunda segera terwujud. AAMIIN…

Maaf keterbatasan ilmu membuat aku menulis postingan ini juga menjadi terbatas. Terima kasih banyak bila kang Dhany, kang Irfan, dan semua anggota Banyolan Sunda dapat membantu mengoreksi catatan sederhana ini. (yakali diperhatikan…)

Belajar bahasa Sunda dulu yang utamanya sih… (ada yang mau ngajarin gratis? *ditoyor*)

Yuk ah….

~dengan niat baik mau jadi pinter~

PS:
1. Gak berani pasang logo Banyolan Sunda atau Radio Baraya Sunda tanpa ijin. Jadi foto orang-orangnya saja.

2. Lagu favorit aku teteup yah “Kabogoh Jauh” dari Kang Darso untuk saat ini. #kesandung #dikeplakpatjar *senyum paling manis*

8 thoughts on “Pelestarian Budaya Sunda Era Digital”

  1. Duh, kasian mba An teu ngartos kana seratan kang Jayus. Aya ku tega etamah akang…
    Terjemahan bebasnya kurang lebih begini – mangga dilereskeun ku kang Jayus…
    “Bukan main senangnya setelah membaca seluruh tulisan pada blog ini. Ternyata masih ada kawula muda yang serius memelihara seni dan budaya sunda walapun semangat yg menyala tersebut tersembuny dalam tulisan yg sederhana… Didukung banget oleh akang dan teman yg lain baik dari kelompok RBS, Banyolan Sunda juga grup sunda lainnya juga…
    Juga terimakasih telah memasukkan nama akang dalam tulisan anda…aheuuuyyy (*ini gak bisa diterjemahkan* hehehe) Aku senang lho… *goyang2 kepala sambil gigit ujung kerah baju* ”
    Elabuset, susah nian nerjemahkan basa sunda ke bhs indonesia… Sebabnya hanya satu, karena sunda hanya mengenal “basa” bukan “bahasa”. Itu yg selalu abah bilang sama saya…
    Cag…

    Suka

  2. Bingah amarwata suta bingah na kagiri-giri saur ki dalang mah saparantos maos kana saneskanten seratan dina ieu blog. Singhoreng masih keneh aya nonoman kania anu haat ngaropéa kana seni sareng budaya sunda sok sanaos rasa nu ngagedur eta disamunikeun dina wanda seratan nu basajan… Dirojong pisan ku akang oge kanca nu sanes na boh nu ti réngréngan RBS, Banyolan Sunda sareng grup sunda anu sanes na oge….
    Sareng hatur nuhun parantos ngalebetkeun nami akang kana seratan salira…..aheuuyyyyy !! Aku bungah lho…..*aluman alimen bari ngegelan tungtung samléh

    Suka

    1. *buka kamus* itu kang Jayus nulis apaaa?? *pingsan* *senyum salah tingkah*

      anyone, help me to translate that language… T_T *ceurik*

      hatur nuhun ka kang Jayus 🙂 *dah, bisanya bales gitu doang* *diketawain sekecamatan*

      Suka

  3. Apa kabar mba?
    Artikel ini Wow banget. Pelestarian Budaya Sunda Era Digital. Hmmm, saya pernah baca di salah satu media, lupa nama medianya juga lupa nama tokoh yg memberi statement begini : kebudayaan sunda akan punah, katanya. Ah, mungkin ya. Saya saja yg 100% berdarah sunda saat ini kalo diberi majalah Mangle, diminta membacanya, aduh rasanya berat banget. Banyak kosa kata sunda yg tak lagi sy kenal. Jadi basa sunda yg sehari-hari sy pakai kalo di sukabumi itu basa sunda yg mana…
    Salut untuk kang Dhany Irfan atas kreatifitasnya, kang Irfan dan kang Jayus atas keseriusannya menggarap hal yg “tak serius” khas sunda, banyolan. Sumuhun pisan, urang sunda kasohor tukang banyol, tukang heureuy ti kapungkur oge…
    Mugia budaya sunda abadi di bumi nusantara ieu… Insya Allah.
    Cag.

    Suka

    1. pakde Bambang, masih banyak nama lain di balik tim kreatif Baraya Banyolan Sunda. Ada ‘pupuhu’ yang belum aku kenal. sila cek website untuk mengetahuinya. Karena ada lurah, sekdes, humas, dan lainnya di sana 🙂 Irfan dan kang Jayus seperti tim pendukung & penguat. Aku mencantumkan nama mereka berdua dari sisi RBS, radionya.

      Untuk membahas Baraya Banyolan Sunda butuh artikel tersendiri dan itu artinya aku harus interpiu mereka duluuuuu….. blum siap… gak punya kamus bahasa Sundanya *lebay bener deh*

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s