Siapa Lebih Berhak?

Hanya sedang melakukan monolog dalam beberapa hari terakhir, setelah membaca media, mendengar curhatan, berpikir, dan googling. Benar-benar hasil pemikiran yang acak.

  1. Tentang penyakit (ah, sepertinya ini materi yang berat untuk dibahas) gangguan mental (ya, aku menyebutnya demikian) Bipolar Disorder, Depressive Episode and Manic Episode. Siapa yang bisa menjelaskan padaku secara sederhana. Betapa rumitnya penjelasan di internet.
  2. Mental Abusive. Seseorang yang kukenal, tak menyadari bahwa dia menderita karena hal ini. Dia menyakiti dirinya sendiri dan orang-orang yang dia sayangi. Dia salah mengartikan kasih sayang yang dia berikan pada orang lain. Siapa yang bisa menjelaskan padanya tanpa menyinggung perasaannya?

  3. Aku membaca linimasa tentang Break The Silence beberapa minggu lalu. Masih terpikir hingga sekarang, ratusan atau bahkan mungkin ribuan perempuan Indonesia, karena keterbatasan pendidikan dan akses, hanya bisa menanggung derita sendirian. Tak mampu berbuat banyak. Tak mengerti harus bertanya ke mana. Sementara, tenaga relawan jumlahnya masih tak sebanding dengan korban KDRT / Pemerkosaan. Kepada siapakah aku bisa menggali infonya?

  4. Cinta Jarak Jauh. Ah, tema klasik sejak jaman bapak ibu kita dahulu. Apakah Adam dan Hawa sudah memiliki ilmu percintaan yang canggih? Kurasa ya! Tak banyak yang mengetahui sejarah Adam dan Hawa, ketika mereka diturunkan ke Bumi, tidaklah langsung pada satu tempat. Tetapi dua tempat yang berjauhan. Nah, jadi, LDR sudah mendarah daging secara turun temurun (bahasa lu, An!) bagi kita keturunannya. #pembenaran #keselek #melipir

  5. Jodoh. Halah, ini sih tema sepanjang hayat. Etapi tunggu dulu! Coba siapa yang bisa menjawab, hak prerogatif siapakah jodoh itu? Bolehkah orangtua menghalangi jodoh anaknya? Bisakah kita meminta pada Tuhan, jodoh seperti kriteria kita saja, tanpa harus nego dengan alot? Ini mungkin lebih konyol: Sepasang mantan suami istri (ya mereka telah bercerai) bertemu untuk saling memberi undangan pernikahan kedua. “Saya gak rela kamu nikah sama dia! Gak bakalan cocok!” sembur si mantan suami. “Saya gak sudi kamu nikah sama perempuan itu! Sok seksi!” jerit si mantan istri. Kalau aku berada di tengah mereka, rasanya ingin menyamber, “Eh, siapa sih lu lu pada? Emang jodoh situ yang ngatur? Biarin aja napa sih udah pada dapet yang baru. Masih saling cinta lu berdua? Nape dulu cerai? Plis deh, drama jodoh kalian sudah beda episode!” (mulai ngaco)

  6. Bagiku, antara saudara, keluarga, dan sahabat sekarang memiliki pergeseran makna, arti, dan posisi di hatiku. Ada yang mau protes? Silakan layangkan gugatan melalui e-mail. Tidak terima pos apalagi telepon. Sekian dan terima transferan depositošŸ˜€

Nah, ada yang bisa menjawab beberapa pertanyaanku?šŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s