Selamat Pagi Selalu

Hai kamu, meski ketika kau membaca surat ini waktu sudah menunjukkan senja, aku selalu akan menyapamu dengan pagi. Menunjukkan semangat dan harapan yang tak boleh lepas, bukan?

Apa kabar di belahan dunia yang berbeda beberapa jam ini? Sungguh, aku rindu rayuan gombalmu yang biasa kausuguhkan di setiap suratmu.

Ah, betapa aku rindu pula pak pos yang setia datang ke rumahku setiap dua minggu sekali mengantarkan sepucuk surat darimu. Isinya beragam. Enam lembar ceritamu,, foto domba di peternakanmu, aneka masakan khas Mesir buatan ummi, dan selembar pembatas buku bergambar Nefertiti. Hm, sampai detik ini aku tak pernah paham maksudmu mengirimkan Nefertiti untukku.

Apakah kau sudah menikah? Aku tak pernah tahu. Suratku, e-mailku, inbox Facebook juga tak pernah kaubalas. Huh, lantas untuk apa kau approve aku menjadi temanmu di sana? Membuatku semakin penasaran akan kisah cinta lama kita…

Aku selalu mengingat masa perkenalan kita dulu. Aku yang pertama kali menyapamu melalui surat. Aku mendapatkan datamu dari sebuah layanan pertemanan internasional.

Sudah lima belas tahun… ya Tuhan! sudah lama sekali sebenarnya usia perkenalan kita… Tetapi kini untuk menyebut namamu saja aku kesulitan. Padahal hati ini sungguh didera rasa rindu setinggi langit…

Aku tak mau berpanjang lebar mengenangmu, Haytham Hussin Taha. Jujur, aku masih mencintaimu. Tetapi aku yakin, engkau lebih dapat merasakan kehangatan kasih dari seseorang yang benar-benar tepat untukmu. Entah siapa.

Selamat pagi, semoga semua harapan dan citamu tercapai…

Januari, di pagi yang hujan merintih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s