Setelah urusan dengan orang-orang Bali itu, Bang Jaja semakin tidak fokus bekerja. Selalu saja ada kesalahan kecil yang membuatnya ditegur. “Pak, itu bukan di sana. Nih, di sini,” teriak Kosim sambil mengangkat tangannya. Tuh, kan! Bang Jaja merutuk dalam hati. Seharusnya aku yang mengawasi mereka bekerja, kenapa jadi aku yang ditegur?
“Pak, kalau memang butuh istirahat, ijin cuti saja dulu seminggu. Di sini sudah ada Pak Kosim yang bisa gantiin Bapak sementara,” sahut Heri prihatin.
“Pak Burhan bisa marah, Her,” Bang Jaja menggelengkan kepalanya.
“Ya, tapi percuma juga kali Bapak kerja tapi pikiran melayang? Apalagi belum pernah ketemu anak. Pak Burhan pasti ngertiin deh. Coba dulu, Pak,” desak Heri.
Bang Jaja mengangguk dan mulai berpikir. Iya, tidak akan produktif bila otak ini tak diistirahatkan. Sebaiknya merencanakan pulang saja. Tanpa telepon ke Mirna. Biar menjadi kejutan. Pasti menyenangkan. Ah, Fatimah sudah bisa apa ya, sekarang?
**
Dalam pesawat, Bang Jaja selalu tersenyum membayangkan wajah Fatimah yang belum pernah dia lihat. Tak henti dia berdoa agar Fatimah selalu dalam keadaan sehat. Betapa ia tak sabar hendak segera bertemu.
Lega ketika kemarin Pak Burhan memberi ijin cuti lima hari, lebih dari dua hari yang dia harapkan. Itu lebih bagus, meski agak heran karena tibatiba Pak Burhan memberi ijin seringan mengajaknya minum kopi. “Kembali ke sini sekalian bawa berkas yang sudah di-acc oleh Pak Imron. Jangan lupa.” Itu saja perintahnya. Aku mengantuk tetapi tak bisa tidur karena tak sabar bertemu Mirna dan Fatimah. Ah, bahagianya…
**
Bang Jaja mampir dulu ke toko mainan yang nyaris tutup. Sudah pukul sembilan malam. “Maaf, Pak. Saya mau kasih hadiah buat anak saya. Maaf ya sudah merepotkan,” Bang Jaja berkali-kali membungkuk.
“Gak papa, Mas. Santai aja. Saya juga sambil beres-beres. Dari mana toh malam-malam begini? Rumah sampeyan di mana toh?” tanya pemilik toko sambil tersenyum riang. Pembeli terakhir di hari ini.
“Pulang kerja dari Bali, Pak. Saya tinggal di Tanah Abang, Pak,” jawab Bang Jaja dengan mata tak henti mencari mainan yang cocok untuk Fatimah.
“Oh dekat sini ya? Hati-hati.”
“Terima kasih, Pak.” Lalu mereka bertransaksi dan Bang Jaja keluar dari toko mainan dengan hati riang.
Jalanan masih agak ramai dan Bang Jaja memutuskan lewat jalan samping yang sepi dan langsung menuju rumahnya. Mobil terparkir dengan aman. Tetapi itu motor siapa? Ini sudah malam dan Mirna masih menerima tamu? Atau itu motor Dalimin? Memangnya Mirna dari mana?
Bang Jaja sengaja mengendap untuk memberi kejutan. Ia buka pintu samping menuju dapur untuk langsung menuju lantai atas. Hatinya gemas tak sabar untuk segera memeluk Mirna. Memberi kejutan pada istri tercintanya.
Ia hendak berjalan ke kamarnya. Tetapi baru sampai anak tangga teratas, ia mendengar suara dari dalam kamarnya. Kamar dia dan Mirna. Pintunya tak tertutup. Suara pria. Bukan suara Dalimin seperti yang sempat dia curigai. Siapa? Suara pria dan wanita tertawa dan sesekali mendesah. Apa ini?
Hatinya mulai bergemuruh. Ada amarah yang mendadak muncul. Api cemburu memanas di dadanya. Ia berjalan dengan langkah tak bersuara Ia mematung dan menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya dengan emosi yang tak dapat lagi dilukiskan sakit dan kecewanya. Ia mencoba untuk bersabar tetapi nalar, logika, dan hatinya berontak. “MIRNA!!!” teriaknya lantang.
Mirna dan pria itu terkejut dan ketakutan luar biasa. “Eh… Mas? Sudah… Sudah pulang?” tanya Mirna gelagapan. Pria itu segera meraih pakaiannya dan hendak berlari keluar tetapi lengan Bang Jaja menahannya.
“Begini cara lu jaga bini gue? Orang kepercayaan gue sendiri? Sohib gue sendiri?” tanya Bang Jaja dengan suara tertahan karena murka yang sangat. Ia mencekik leher pria itu dengan sekuat tenaga dan melemparnya hingga membentur tembok.
“Mana Fatimah?” tanya Bang Jaja dengan tatapan benci berkilat.
“Di rumah… Rumah Ibu, Mas,” jawab Mirna ketakutan di balik selimutnya.
“Heh! Ngapain kamu tutupin badan pake selimut? Ini suami sendiri! Buka! Kamu berani buka aurat di depan setan satu ini, tapi suami dateng malah ditutup? Gila!” hardik Bang Jaja keras.
“Aku … Aku jelaskan dulu, Ja,” pria itu mengerang kesakitan setelah mendapat bogem mentah di perutnya sebanyak tiga kali dari Bang Jaja.
“Heh, lu dengerin gue ya, Anton! Gue titip bini gue bukan untuk lu pake seenak jidat! Kalo lu demen, bilang ama gue! Kalo emang bini gue juga demen, tinggal gue cerein. Lu gak usah nikung kayak gini! Setan lu!” Bang Jaja kembali menghajar Anton dan Mirna menjerit histeris hingga mengundang tetangga berdatangan.
“Bangke lu, Ton! Gue tinggal ke Bali belum lama, lu udah kegatelan!” Bang Jaja hendak menghajar kembali namun dicegah oleh beberapa warga.
“Sudah, Pak. Cukup. Kita bawa mereka ke pos hansip saja,” ujar pak RT berinisiatif.
“Terserah! Bawa saja!” Bang Jaja menendang perut Anton keras dan mendekat ke arah Mirna.
“Kamu, masih istriku hingga sejam yang lalu. Kamu tahu betapa aku sangat bersabar menunggu untuk pulang? Membayangkan kamu dan Fatimah menungguku di teras dengan senyum manis kalian berdua? Aku mengirim paket lulur khas Bali untukmu agar ketika aku pulang, kamu menjadi lebih cantik. Tetap menjadi istri kebanggaanku. Paket mandi rempah, minyak aromaterapi, dan perlengkapan mandi susu khusus aku pesan dari sumbernya langsung demi kamu. Tapi apa balasanmu, Mirna? Apa?
“Teganya kamu berbuat ini padaku? Dulu kamu yang selalu mencurigaiku bila pulang larut malam. Dulu kamu yang tak pernah absen memonitorku setiap rapat di luar kantor. Apa pernah terbukti semua itu? Jawab aku, Mirna! Perempuan jalang!
“Mulai detik ini, kamu bebas berkeliaran di mana pun kamu suka. Terserah! Dan Fatimah, di bawah pengasuhanku. Tidak ada bantahan. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Segera aku urus perceraian kita. Itu kan maumu? Puas?” Bang Jaja mencengkeram pergelangan tangan Mirna hingga wanita itu menjerit.
“Pak Iwan, bawa mereka ke lapangan sepak bola di sana. Rajam!” perintahnya dengan kibasan tangan tak mau dibantah. Beberapa warga yang ada di rumah Bang Jaja kebingungan. Melihat reaksi warga, Bang Jaja balik bertanya. “Kenapa? Takut? Dua orang lain jenis melakukan hal yang diharamkan agama, dihukum itu wajar! Wajib, malahan! Kalau kalian tidak bisa dan tidak mau, biar saya saja. Cukup kuburkan mereka sebatas leher. Selanjutnya saya yang selesaikan,” Bang Jaja bergegas keluar kamarnya yang mendadak terasa pengap.
**
Riuh di lapangan sepak bola. Sudah tengah malam. Namun Bang Jaja tetap pada niatnya semula. Merajam istri dan sahabatnya sendiri. Tergopoh-gopoh Haji Somad berteriak hendak menghentikan Bang Jaja. “Heeeeeiii… Jajaaaaa… Tunggu duluuu…”
Bang Jaja melempar kembali batu yang ada dalam genggamannya dan menyambut Haji Somad takzim. “Wak Haji.”
“Ini gimana ceritanya, Ja? Tenang dulu. Sabar dulu.”
“Wak, ini udah di luar toleransi. Kagak pake alesan laen dah! Ditinggal baru bentaran ke Bali, masa pulang disuguhin adegan ranjang yang kebangetan gitu?” Bang Jaja berkata dengan dada yang naik turun.
“Mereka khilaf dan harus kita maafkan, Ja,” sahut Haji Somad tetap tenang.
“YA! Memang, Wak Haji. Tapi ini kan khilafnya sudah tingkat tinggi. Kagak ada toleransi lagi, Wak! Maaf, ane terpaksa tidak sependapat dengan Wak Haji sekarang.” Bang Jaja kembali ke tengah lapangan. Dilihatnya dua kepala yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, terpendam dengan wajah pucat dan berdarah. Sudah lima lemparan batu.
“Jaja! Kamu bukan pembunuh!” teriak Haji Somad.
“Memang, Wak Haji. Dulu bukan! Sekarang, ya!” Bang Jaja tetap melempari Mirna dan Anton dengan batu. Sendirian. Disaksikan ratusan orang yang meringis di pinggir lapangan.
“Jaja! Hentikan segera! Kita selesaikan baik-baik,” Haji Somad mendekat Bang Jaja.
“Wak! Ane di Bali bukan hura-hura. Ane kerja banting tulang keringetan dan sempat demam dua hari demi istri dan anak. Ini yang ditinggal malah main gila. Gak ada maaf!”
“Jaja! Allah saja maha pemaaf!”
“Maaf?” Bang Jaja memandang Mirna dengan sinis mendengar perkataan Haji Somad. “Mati aja lu!” Dan tepat di lemparan batu ke lima belas, Mirna pingsan. Bola mata kirinya pecah.
Tibatiba tiga orang mengerumuni Bang Jaja. Mereka mengikat tangan Bang Jaja dan membawanya ke rumah Haji Somad untuk ditenangkan.
**
Setengah jam setelah Bang Jaja reda emosinya, seorang ibu mendekat dan berbisik pada Haji Somad. “Innalillahi. Terima kasih Bu Lina.”
Haji Somad memandang tajam ke arah Bang Jaja. “Istrimu meninggal.”
Bang Jaja menatap Haji Somad tanpa ekspresi.
**
Lantas bagaimana nasib Bang Jaja?
#Bali #SebulanSepuluhTulisan #Jejakubikel