Lewati navigasi

Arsip Tag: renungan

babak satu.

mereka mulai membencimu. | rasanya aku gak berniat nyari musuh deh. | mungkin kamu tak ada niat. tapi mereka tak suka. | salahku apa? | karena kamu bukan siapa-siapa. | apakah itu penting? sedemikian rupa mereka begitu? | diam saja. tak usah banyak bicara. begitu lebih baik. | ini bukan mauku. | aku paham. | harusnya mereka empati. mencoba memikirkan apabila posisi mereka itu ada padaku. | mereka tak paham. | aku pun tak berniat membuat mereka paham. | maka diamlah.

—–

babak kedua.

apakah penting sebuah status di mata masyarakat? | sudah terkikis jaman. | lantas bagaimana dengan norma dan dogma? | penting. setidaknya bagi mereka yang menganggapnya penting. | apakah kita masih bisa dan masih boleh menolak pilihan? ini berkaitan dengan hati. | aha, kau terjebak dalam roman picisan. | aku bertanya. jawab saja. | jika hatimu telah memilih, ikuti dia. kau tahu, dia tak pernah berbohong. | meski itu melawan norma dan dogma? | Tuhan yang memberimu skenario-Nya. jalankan saja. ini episode selanjutnya dalam hidupmu. | aku tak siap. | mati pun tak menunggu kesiapanmu.

——

babak ketiga.

kupikir aku masih pantas bahagia. | memang masih. buktinya kamu masih bisa tertawa kan? | maksudku… | dicintai. begitu? kasihan sekali kamu! kurang cinta apa Tuhan terhadapmu? memberi segalanya padamu gratis tanpa minta imbalan. apa yang kamu harap dari seorang makhluk? | cinta mereka terbatas. mereka dengan mudah melupakan tanpa rasa bersalah. | nah! tuh nyadar! | tapi aku iri… | pada pasangan yang katanya-berbahagia-sampai-kakek-nenek-tanpa-masalah itu? sudahlah. berhenti mengasihani dirimu sendiri. kamu masih pantas bahagia. | dengan atau tanpa. begitu? | ya. karena kebahagiaan itu kamu yang menciptakan, bukan karena orang lain.

Iseng ngetwit dengan analisan sotoy tentang pernikahan. Belum tuntas. Tapi boleh disimak. ;)

—-

mencintai seseorang itu harus APA ADANYA, jangan ADA APANYA! kalau menikah pun ya harus terima paket kelebihan dan kekurangan dong! tsk…

terima pasanganmu dengan hati dan pikiran yang terbuka. kecuali jika memang ada hal yang tak bisa ditolerir. dalam kasusku, memang demikian.

menikah bukan perjanjian kontrak antar manusia. tapi sumpahmu terhadap Tuhan. mempermainkan pernikahan artinya imanmu dipertanyakan.

jika memang tak sanggup untuk beribadah (menikah) dengan benar, berpuasalah. itu lebih baik. maka Allah akan menunjukkan kuasa-Nya atasmu.

menikah itu bukan pelegalan dan penghalalan seks semata. manusia bukan binatang. kita diberi akal dan perasaan. jangan mempermainkannya.

perjanjian yang berat. demikian dalam agamaku. pernikahan itu perjanjian yang berat karena saksinya langsung Sang Maha Cinta.

Tuhan memberimu rasa sayang dan cinta karena kasih-Nya padamu. mana bentuk syukurmu? menikahlah karena ingin beribadah pada-Nya. :)

tak pernah ada pernikahan yang bertujuan untuk sebuah perceraian. maka sebenarnya, Pengadilan Agama seharusnya tidak ada. tetapi nyatanya?

Tuhan membenci perceraian. tetapi bila ternyata memang ada yang tak bisa lagi dipertahankan dan itu dipikir dengan akal sehat, let it be.

pikirkan baik-baik sebelum menikah. kemudian, saat emosi negatif menguasaimu, pikirkan baik-baik sebelum mengucap kata ‘cerai’.

jangan memutuskan menikah ketika hati dan pikiranmu sedang melayang karena cinta. berpikirlah logis. pernikahan bukan untuk waktu sebentar.

pacaran (yang terlihat bahagia) tidak menjamin kamu bakalan sama bahagianya setelah menikah kelak. bukan itu parameternya.

menikah itu jangan menunggu kesiapan materi. sampai kiamat pun gak bakalan siap. putuskan menikah karena ingin beribadah. titik.

mintalah pada Allah, keputusan yang terbaik. kamu boleh kok milih pasangan yang kamu mau. nanti Allah kasih deh. hanya saja tak mudah ;)

=====

sementara segitu dulu. nanti sambung lagi. kalo inget. :P

Tema ta’aruf dari kultwit ustadz @felixsiauw

1. wahai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah (HR Bukhari) | begitu pesan Nabi saw

2. siapakah yg dianggap siap menikah? | adl yg telah baligh, pahami Islam, dan dewasa, dia mampu selesaikan masalah, tanggung jawab

3. nikah adalah ikatan agung nan suci | dari sanalah terbangun bahtera dakwah berpsangan, dan madrasah balatentara Allah selanjutnya

4. karenanya, hal baik seperti nikah haruslah dimulai dengan yg baik | buruk awalnya biasanya buruk tengah dan akhirnya

5. Islam menolak maksiat dalam interaksi lelaki-wanita semacam tunangan dan pacaran | Nbai tak mengenalnya samasekali, bahkan melarangnya

6. namun Islam tukarkan metode maksiat dengan metode taat sebelum menikah | khitbah lalu #ta‘aruf yg halal agar nikah menjadi baik

7. pada asasnya, khitbah-#ta‘aruf adl proses yg dijalani oleh org yg telah mantap hati dan siap nikah | utk pastikan diri dan calonnya

8. jadi khitbah-#ta‘aruf bukanlah produk substitusi pacaran, bukanlah pembungkus maksiat pacaran atas nama yg lebih Islami

9. jadi sebelum melakukan proses khitbah-ta’aruf, pastikan semua urusan telah diselesaikan, orangtua pahami niat dan restui niat itu

10. sebelum melakukan proses khitbah-ta’aruf, rencana jg sudah dibuat, kapan ajuan waktu nikah, prosesi nikah, dan segala kaitannya

11. nah, bila semua sudah usai dipastikan, maka saatnya memilih pasangan, memilahnya dari ribuan untuk satu kebahagiaan | ridha Allah

12. “wanita dinikahi karena 4, harta, keturunan, kecantikan, dan agama, pilihlah yg beragama maka engkau bahagia” (HR Bukhari-Muslim)

13. jelaslah usul Nabi, bagi yg tujuan pernikahannya adl ridha Allah dan membangun keluarga sakinah | pilihan utama pada agamanya

14. tak habis pikir, Muslim yg ada niatan menyunting istri dari non-Muslim, apa tujuannya? dakwah blm tentu sampai, mafsadat sudah jelas

15. lebih tak habis pikir, wanita Muslim yg kagum atau melihat lelaki non-Muslim menarik? jelas yg jadi standarnya bukan ridha Allah

16. maka saat persiapan pribadi jelas | pilahlah calon yg memenuhi standar agama kita, bila cantik, kaya dan bangsawan, itu bonus

17. paling mudah jadi aktivis dakwah :D , akhlak-pikir calon terikat syariat, “sudah dibina tinggal dibini”, tak perlu “dibini lalu dibina”

18. bagi yg blm jadi aktivis dakwah, carilah pasangan yg “mau dibina”, yg mau tunduk pada ayat Allah dan lisan Nabi, itu baik sekali

19. perlu pula saya sampaikan, bila karena fisik wanita dipilih bersiaplah menyesal setelah menikah | sekali lagi, pilih agamanya

20. saat pilihan sudah tetap, maka khitbah dilaksanakan | ia adl pinta persetujuan kpd calon yg diinginkan, utk menjadi pasangan hidupnya

21. bila izin sang wanita telah terucap, khitbah blm selesai | ada ridha walinya yg tetap menjadi syarat bagi yang melamar wanita

22. disini perlu interaksi pria utk datangi wali perempuan, sampaikan maksud dan niatan | sampaikan perencanaan yg telah disiapkan

23. tentu, perlu pula bagi wanita utk yakinkan kedua orangtuanya sebelumnya, pastikan tidak ada masalah setelah ada pelamar bertamu

24. bila niatan tak disambut walinya, berlega dirilah tak perlu datangi dukun atau melamun | naik pohon kelapa, liat, akhwat tak cuma satu

25. segera tarik diri dan selesaikan urusan dengan akhwat yg tak disetujui walinya, bawa proposal pada akhwat yg siap, insyaAllah banyak

26. maka perlu kiranya, sejak awal saat akhwat telah merasa siap nikah, orangtua dikondisikan, agar tak menyulitkan pelamar kelak

27. bila niatan disambut baik wali akhwat, alhamdulillah, khitbah telah terlaksana, akad nikah terbuka depan mata, lanjutkan ke ta’aruf

28. beda ta’aruf dengan pacaran adl, bahwa ta’aruf memiliki batas waktu yg jelas dan tetap yaitu akad nikah, dan interaksi non-khalwat

29. mengenai batas waktu ta’aruf, tidak ada ketentuan, bisa esok hari atau tahun depan | lebih cepat lebih baik, serius itu cepat

30. perlu ditambahkan bagi ikhwan-akhwat | semakin panjang waktu ta’aruf, semakin besar potensi maksiat, selubungi pacaran atas nama ta’aruf

31. interaksi saat ta’aruf jg harus ditemani mahram, lelaki boleh menanyakan perkara yg menguatkannya untuk menikah, apapun itu

32. perkara yg sensitif bisa diketahui dari orangtua, shahabatnya, saudaranya, atau musyrifahnya (ustadzahnya)

33. Rasul jg membolehkan melihat wanita hingga memiliki kecenderungan padanya, melihat disini terbatas memandang fisik dirinya, tidak lebih

34. memandang akhwat yg akan dinikahi juga tak perlu buka jilbab dan kerudung, perkara semisal itu bisa ditanyakan pada mahramnya

35. bagaimana interaksi via phone dan sms? | boleh selama ada keperluan | “sudah makan belum”, “sudah tahajud belum” bukan masuk keperluan

36. hati-hati mengotori proses ta’aruf, karena khalwat bisa terjadi bahkan di telp atau di sms, interaksi yg membuai dan sebagainya

37. jadi interaksi via telp dan sms, dilakukan dalam rangka siapkan pernikahan, bukan mengumbar rasa yang seharusnya setelah nikah

38. ingat, ta’aruf itu tak hanya pada wanitanya, tapi juga keluarganya | boleh juga libatkan 2 keluarga silaukhuwah utk rencana nikah

39. selama ta’aruf pikirkan selalu, “apakah dia cocok menjadi ibu dari anak-anak kelak?” | “apakah ia bisa mengimami dan melindungi?”

40. bagaimana setelah ta’aruf lantas tidak merasa ada kecocokan? | sampaikan saja, dan segerakan untuk selesaikan urusan, itu lumrah

41. lelaki berhak memilih wanita, dan wanita berhak untuk menolak | jangan rasa segan, karena tak ada korban dalam urusan ini

42. lalu bila telah pas di hati, lanjutkan ke jenjang pernikahan, setelah akad terucap | apapun halal bagimu dan baginya, segala urusan :D

43. perlu saya ingatkan sekali lagi, bagi lelaki | lakukan khitbah-nikah saat sudah siap, bukan menyiapkan diri setelah khitbah-ta’aruf

44. bagi wanita, silahkan pantau yg melamar anda | bila kesiapan belum ada, lebih baik diminta bersiap daripada masalah penuh di belakang

45. apakah kesiapan berarti miliki kerja? | “nafkah bukan syarat nikah, tapi kewajiban setelah nikah” | namun, bagi calon mertua itu penting

46. apakah wanita boleh inisiatif mulai proses khitbah-ta’aruf? | “boleh, laksana Khadijah binti Khuwailid kepada Muhammad bin Abdullah”

47. apakah khitbah perlu perantara ustadz/ustadzah? | “tak harus, boleh sendiri bila mampu dan mau”

48. apakah khitbah boleh lewat sms atau media lain? | “boleh, selama yg dikhitbah bisa pastikan bahwa itu real, merpati pos pun jadi”

49. akhir kalam, khitbah-ta’aruf-nikah bukan coba-coba, bukan pula permainan, niatan hanya Allah yg tahu | semoga dimudahkan menikah :)

=-==-=-=-=-=-

sy prestatif dong, sy&istri nikah sama2 22thn, sy malah blm lulus :D >> “@anggunzaitun saat nikah, felixsiauw dan istri usia? <—- ini #kode tantangan tauuuu!!! :P

Ada yang siap?

 

Jarang membuka Yahoo! Mail. Siang ini membuka dengan hampir 775 surel baru. *gubrak* Dengan telaten aku menyisir semua surel, satu per satu. Biasanya, surel penting malah menyelip di antara surel sampah. Baiklah.

Di halaman ke lima, aku menemukan satu surel dari teman lama. Awalnya kupikir hacker. Tetapi ketika perlahan kubaca, seperti sebuah naskah drama. Tak masuk akal. Merinding. Yang lebih aneh, mengapa dia memilih aku sebagai tempat curhatnya? Di bawah ini potongan surelnya, dengan nama dan lokasi disamarkan. Kalimatnya juga aku edit demi keamanan dan kenyamanan. :)

===

Dear An, apa kabar? Lama ya kita gak ketemu. Kangen deh gue.

An, sebenernya gue pengen ketemu langsung. Tapi gue gak tau nomor telepon lu. Gue juga cuman punya alamat imel ini aja. Semoga masih aktif dan lu terima dengan baik. Di bawah ini ada nomor telepon gue.

Sekarang gue tinggal di Semarang. Pulang kampung gitu ceritanya. Sendiri aja. Ya, setelah semuanya ketika di Jogja berantakan, gue milih balik aja deh ke Semarang. Gak ada lagi yang bisa gue lakuin. Mungkin lu udah tau dari fesbuk kalo gue baru aja keilangan anak semata wayang gue karena sakit. Itu lebih pedih ketimbang waktu papanya ninggalin gue. Rasanya gue kok ya merana banget ya, An? (kalah deh sinetron…)

Gue udah lima bulan di Semarang. Mulai jualan aja bantuin kakak gue di tokonya. Sambil gue ikutan kursus bikin kue, trus kan bisa mandiri gitu. Kapan-kapan lu mesti cobain kue bikinan gue ya?

An, gue mau tanya dong sama elu. Kan elu tuh dikenal sebagai tempat sampah temen-temen selama ini. (et dah, enak bener itu julukannya? tempat sampah?) Dan temen-temen juga ngerasa puas dengan saran elu. Jadi ya gue mau coba curhat ke elu. (kayaknya abis ini aku buka jasa konsultasi dan pasang plang tarif  depan rumah :lol: )

Gini, An. Lu tau dong kalo status janda tuh bener-bener gak enak didengar, dibaca, apalagi diliat. Iya gak sih? Gue ngerasain itu sekarang. Umur 30 pun masih terlihat seperti 20. Hehehehe… Ditambah lagi, gue gak keliatan seperti seorang ibu yang (pernah) punya anak, An. Berasa gadis aja, gitu.

Nah, gara-gara itu juga kali ya ada aja sih laki-laki yang ngedeketin gue. Hooo, gini-gini gue masih laku ternyata. Hihihihi… Mulai dari laki orang, bujang lapuk, brondong manis, duren monthong, sampe bule kesepian. Hadeh, pusing deh!

Nah, ini ada cerita yang gue bingung dari mana harus dimulainya, An. Gue sendiri sebelum nulis imel ini deg-degan sendiri. Kira-kira diketawain gak ya sama elu. Tapi sebodo deh, yang penting gue lega udah cerita.

Setelah cerai, gue sempet deket sama seorang duda. Ya tapi gitu deh, gak bertahan lama. Just for fun. Gak lama, gue pacaran sama brondong. Hoooo, gila ya? Tapi asik gitu, berasa awet muda. Xixixixixi….

Karena gue pikir gue udah trauma, ya udahlah. Lupain aja soal cinta. Mending fokus bisnis. Sekarang me-time gue lebih banyak. Apa yang mesti gue pikirin, coba? Gue yakin gue gak bakalan jatuh cinta lagi… Sumpah…

Sampai bulan lalu… Gue kenalan sama seorang pria yang tujuh tahun lebih tua dari gue. Awalnya ya gue pikir biasa ajalah, another guy who will pass me by. Jadi, gue gak mikir macem-macem. Tapi ternyata gue salah. 100% gue salah besar! Gue jatuh cinta sama dia. Gue jatuh dan gue kesakitan. Gue sadar kenapa gue kesakitan. Sangat sadar. Dia suami orang…. (JREEEEENNGGG!!! Ini dia antiklimaksnya!) Dengan tiga orang anak balita. Seharusnya gue sadar itu, An… Tapi kenapa mesti dia yang bikin gue kayak gini? Kenapa?

An, gue mesti gimana? Lu ada saran gak buat gue? Gue udahin aja gitu? Mumpung baru sebulan? Tapi gue udah lama gak ngerasain diperhatikan dengan tulus begitu… Perasaan ini terlalu aneh, An. Kenapa mesti dia? Kalo gue mau egois, bisa kan ya gue nyuruh dia ceraikan istrinya? Tapi itu kan sinting! Nanti karma berlaku buat gue. Ya emoh, lah!

Tapi dia sendiri bilang bahwa pernikahannya sedikit ‘goyang’. Tapi juga dia bilang kalo dia cinta gue tulus dan bukan pelarian. Gue harus percaya atau gimana? Dia bohong atau sedang mengeluarkan isi hati, sih?

An, tolong bantu gue. Atau kenalin gue dong ke psikolog. Takutnya gue gila beneran nih. Masa jatuh cinta sama laki orang? Ini kan gak menjanjikan masa depan, An. Gak akan ada masa depan buat gue. Dia pasti milih anak bininya, kan? Trus apa bedanya gue ama pelacur ya? (aku gak bisa jawaaaaaabbb!!!) Tapi dia bilang ama gue untuk ngejalanin ini pelan-pelan. Gue mesti gimana, An? Gue udah gak bisa nangis lagi… Udah terlalu capek serius mencintai seseorang. Gue takut kecewa lagi.

Oke deh, An. Maaf ya berpanjang-panjang gini bikin lu pusing. Tapi plis dong kasih gue saran. Ya? Ini nomor telepon gue: 0816119xxx dan PIN BB gue 1452xxx sip?

Thanks anyway, Sweetie! Kalo lu butuh ketemu gue, bisa deh gue ke Depok. Lu masih di situ kan?

Bye now,

Sandra.”

======

Aku harus gimana ini? Ikutan bingung.

Surel ini sudah aku modifikasi bahasanya biar enak dibaca :) Tapi kemudian menyisakan pening yang sangat. Mau nangis gak bisa. Mau ketawa kok ya kurang ajar. Mau marah, gak ada hak.

Ada yang bisa bantu aku gak niiihh…. Harus jawab apa sama dia?

~tengah malam vertigo kumat mikirin kisah cinta orang. kisah cinta sendiri aja gak kalah rumit. tidur ah~

#kepadaA, janji ya? ^_^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.