Mau cerita kisah semalam di acara peluncuran buku Sajak Cinta. Maklum, lagi galau, sekalian aja dibikin berdarah nih postingan
*terlalu hiperbolis, jangan dipercaya*
Sewaktu menunggu teman-teman, aku bertemu dengan Mumu (@pramoeaga)! Waaaa, senang sekali akhirnya bisa melepas kerinduan setleh berbulan-bulan gak ketemu. *sumpah lebay norak ya?* Bisa-bisanya ngeledekin lagi waktu ketemu, ih! Etapi ketika akhirnya ketemu juga dengan Jaka (@therendra) dan Aan (@aanmansyur), aku semakin bertambah norak! *jedotin pala ke tembok*
Diawali dengan kegiatan meeting dari Andrei Aksana Friends Community (AAFC) di Penus Cafe, TIM Cikini bersama Herry, teh Nia, Susy, Vero, Mega, dan Ayu, ngaret gitu lho. Janji sih pukul 1 siang, molornya 1,5 jam
) *endonesyah gitu lho* Di sela rapat, aku menghubungi seseorang melalui YM dan bertukar informasi. Setelah itu aku bersiap ke Teater Kecil.
Bertemu pertama kali dengan Tino (@JvTino), Jepe (@rickyzv), kak Jo (@johanamay), Eka (@ekaotto) dan banyak lagi. Rame banget dah!
Pertemuan ke dua dengan Mumu, Amoy (@hei_L), mbak Tyas (@benin6), om Sam (@notaslimboy), bang Sitok (@1srengenge), dan Adit (@commaditya).
Pertemuan kesekian kalinya dengan teh Zev (@Zeventina), bli Can (@fajar_arcana), Eka (@ekasept), Jaka, dan anak2 FM Jakarta
Oke, sekian banyak pertemuan itu ternyata malah membuat aku meradang. Aku kesepian. Dan lagunya Aji (@erdiAN_aJI) yang berjudul “Kekasih Terhebat” semakin membuatku merutuk sendirian. Meh!
Ealah, ternyata ketemu sama Kiky, seniorku jaman di kampus dulu. Rumpi dikitlah
Pulang (ke)malam(an) lagi. Karena TIM (menurutku yang gak punya kendaraan pribadi) jauh dari peradaban. Jadilah aku memelas *haiyah* pada om Teddy Andika untuk mengantarku pulang meski hanya sampai Tanjung Barat.
Ketika mengetahui aku pulang sangat larut, dia diam. Aku tahu, dia marah dan kecewa karena aku melanggar janji. Janji pada diriku sendiri untuk pulang cepat. Tentu saja, karena dia tak dikabari bahwa aku pulang terlalu malam. Sinyal hape benar-benar jabluk di Teater Kecil! Ditambah, kondisi kesehatannya yang sedang menurun, membuatku semakin merasa bersalah. Do’oh… >_<
Nah, itulah yang kurasakan ketika di TIM. Ketidaknyamanan. Hampa. Sepi. Khawatir. Gundah. Ternyata dirinya yang mengirimkan kabar itu ke hatiku. Maafkan aku…
~ketika hendak menulis, tetapi pikiran melayang menujunya~